Peristiwa

Kecelakaan Beruntun di Tol JORR Km 54+600: Truk Diduga Microsleep, 1 Tewas dan 2 Terluka

×

Kecelakaan Beruntun di Tol JORR Km 54+600: Truk Diduga Microsleep, 1 Tewas dan 2 Terluka

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Kecelakaan Beruntun di Tol JORR: Sopir Truk Diduga Microsleep, 1 Tewas dan 2 Terluka

jurnalistik.co.id – Kecelakaan beruntun yang melibatkan enam kendaraan terjadi di ruas Tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) KM 54+600 arah Cakung, Jakarta Timur, pada Sabtu (18/7/2026) siang. Insiden ini menewaskan 1 orang dan melukai 2 lainnya.

Menurut keterangan polisi, kecelakaan berlangsung sekitar pukul 11.45 WIB. Kejadian diduga bermula dari kondisi mengemudi yang kurang terkontrol sehingga memicu benturan berantai antar kendaraan.

Kasat Patroli Jalan Raya (PJR) Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, AKBP Rieki Indra Bratamanggala, menyebut insiden tersebut diduga dipicu sopir truk yang mengalami microsleep atau tertidur sesaat saat mengemudi. “Karena microsleep atau mengantuk dan kurang menjaga jarak,” ujar Rieki.

Rieki menjelaskan, saat kejadian arus lalu lintas di lokasi sedang padat. Di lajur satu menuju arah Cakung, lima kendaraan di bagian depan lebih dulu mengurangi kecepatan karena kemacetan di ruas jalan tersebut.

AKBP Rieki menguraikan bahwa kondisi kepadatan membuat pengemudi harus menyesuaikan laju kendaraan. “Kendaraan pertama sampai kendaraan kelima mengurangi kecepatan karena kondisi macet,” tutur Rieki.

Lima kendaraan yang berada di bagian depan terdiri dari satu mobil pikap, dua truk trailer, satu truk boks, dan satu light truck. Rangkaian pengurangan kecepatan dari kendaraan-kendaraan tersebut menjadi kondisi awal sebelum insiden berantai terjadi.

Pada saat bersamaan, kendaraan yang melaju paling belakang, yakni sebuah truk dengan nomor polisi F 9539 FD, diduga tidak mampu menjaga jarak aman. Dalam keterangan polisi, sopir truk berinisial GS (59) disebut mengalami microsleep atau tertidur sesaat, sehingga terlambat menginjak pedal rem.

Akibat keterlambatan pengereman itu, truk bagian belakang menabrak bagian belakang truk trailer yang berada tepat di depannya. Tabrakan tersebut kemudian memicu rangkaian kecelakaan yang melibatkan total enam kendaraan di lokasi kejadian.

Rieki menambahkan bahwa faktor pengereman juga turut berperan dalam terjadinya benturan. “Pengendara truk paling belakang diakibatkan pengereman yang kurang stabil dan menabrak kendaraan yang ada di depannya,” ujarnya.

Dengan demikian, kronologi yang disampaikan mengarah pada urutan kejadian yang berangkat dari kemacetan. Saat kendaraan-kendaraan di depan melambat, kendaraan paling belakang diduga mengalami masalah konsentrasi sesaat dan tidak mempertahankan jarak aman, sehingga benturan beruntun tidak bisa dihindari.

Kasus ini menjadi perhatian karena insiden berlangsung pada saat arus lalu lintas padat. Polisi menilai dugaan microsleep dan ketidakmampuan menjaga jarak aman menjadi pemicu utama, yang berujung pada satu korban meninggal dan dua korban lainnya mengalami luka.

Polisi menggambarkan bahwa proses perlambatan berlangsung bertahap ketika arus di ruas Tol JORR menuju arah Cakung tengah padat. Sejumlah kendaraan di bagian depan lebih dulu menurunkan kecepatan karena terpengaruh kemacetan, sehingga pengemudi yang berada di belakang harus mengikuti perubahan laju tersebut secara hati-hati.

Dalam penjelasan Kapolri lalu lintas melalui keterangan AKBP Rieki Indra Bratamanggala, kunci terjadinya benturan beruntun berkaitan dengan dua hal yang disebutkan bersamaan: potensi pengemudi mengalami mengantuk sesaat dan ketidakmampuan mempertahankan jarak aman. Saat jarak tidak cukup dan waktu respons pengereman terlambat, ruang untuk menghindar menjadi semakin sempit, terutama di kondisi lalu lintas yang sedang melambat.

Rangkaian perlambatan itu melibatkan lima kendaraan di bagian depan, yaitu satu mobil pikap, dua truk trailer, satu truk boks, dan satu light truck. Sementara itu, dari keterangan yang disampaikan, kendaraan paling belakang berupa truk dengan nomor polisi F 9539 FD diduga tidak menjaga jarak memadai. Sopir berinisial GS (59) disebut mengalami microsleep, sehingga pengereman baru terjadi setelah benturan mulai terantisipasi dan akhirnya menabrak bagian belakang truk trailer tepat di depannya.

Polisi juga menyebut pengereman yang kurang stabil turut memperparah kondisi saat kendaraan belakang bertabrakan. Dengan latar kemacetan dan situasi arus yang tidak sepenuhnya lancar, insiden kemudian berkembang hingga melibatkan total enam kendaraan. Kasus ini menjadi perhatian karena efek berantai seperti ini berujung pada korban jiwa dan luka pada beberapa orang, sesuai data yang disampaikan: satu orang meninggal dunia dan dua lainnya mengalami luka.