jurnalistik.co.id – Investor muda sekaligus pendiri Stockwise, Andry Hakim, menjelaskan alasan dirinya berani masuk ke saham PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang belakangan masih berada di bawah tekanan.
Pada saat ini, saham GOTO berada di kisaran Rp50 per saham. Tekanan itu datang terutama dari sentimen pemangkasan komisi untuk aplikator menjadi 8%.
Andry menyebut pertimbangannya masuk ke saham tersebut sangat sederhana. Menurut dia, posisi GOTO yang sudah turun ke Rp50 membuat ruang pergerakannya menjadi terbatas.
“Conviction di GOTO itu sebenarnya sederhana, dia sudah turun di Rp50 paling bottom, dia hanya bisa bergerak antara naik atau diam,” kata Andry Hakim dalam Stock Idea Festival di Jakarta, Sabtu (23/5/2026).
Dengan kondisi seperti itu, ia memandang keputusan masuk ke GOTO lebih menyerupai taruhan asimetris atau asymmetric bet. Dalam skema tersebut, potensi keuntungan dinilai lebih besar dibandingkan risiko kerugian yang mungkin ditanggung.
Andry menilai, ketika sebuah saham sudah berada di level yang dianggap paling bawah, ruang rugi menjadi jauh lebih sempit. Sebaliknya, peluang untuk bergerak naik masih tetap terbuka.
Ia juga menekankan bahwa dalam skenario terburuk, investor masih memiliki opsi keluar dari posisi tersebut tanpa kerugian harga yang berarti. “Worst case kalian butuh uang, kalian tinggal jual GOTO di harga Rp50, kalian tidak rugi paling kalian cuma rugi di fee saja,” tuturnya.
Pernyataan itu menunjukkan cara pandang Andry dalam membaca saham yang sedang tertekan. Baginya, titik masuk yang rendah dapat menjadi alasan utama untuk mengambil posisi, selama potensi penurunan sudah dianggap sangat terbatas.
Di tengah tekanan sentimen yang masih membayangi GOTO, penjelasan Andry memberi gambaran bahwa keputusan investasi tidak selalu bertumpu pada kondisi yang sedang kuat. Dalam kasus ini, ia justru melihat situasi yang lemah sebagai peluang dengan risiko yang relatif terkendali.
Andry menyampaikan pandangannya itu di hadapan peserta Stock Idea Festival di Jakarta. Dari penjelasannya, ia menempatkan GOTO sebagai saham yang dalam hitung-hitungan sederhananya lebih layak dilihat dari peluang naik, bukan dari ketakutan akan penurunan yang lebih dalam.
Dalam pembacaan seperti itu, fokus utamanya bukan pada seberapa ramai sentimen yang sedang mengitari saham tersebut, melainkan pada struktur peluang yang dinilai lebih jelas. Selama harga masih berada di level yang sama dan tidak memberi ruang penurunan yang jauh lebih besar, maka posisi masuk dianggap punya landasan hitung-hitungan yang lebih mudah dipahami.
Cara pandang ini juga memperlihatkan bahwa investor dapat menilai saham yang tertekan dari sudut yang berbeda. Alih-alih langsung menganggap pelemahan sebagai sinyal untuk menjauh, Andry justru melihatnya sebagai kondisi yang bisa dipelajari lebih jauh. Selama risiko sudah terasa terbatas, maka keputusan untuk masuk dapat dibaca sebagai pilihan yang rasional menurut kerangka yang ia pakai.
Meski begitu, logika asymmetric bet tetap menempatkan disiplin sebagai hal penting. Artinya, keputusan membeli bukan sekadar karena harga murah, tetapi karena ada perhitungan bahwa ruang rugi tidak lagi selebar sebelumnya. Di titik ini, saham yang bergerak di level rendah bisa terlihat menarik justru karena potensi penurunan tambahan dianggap tidak terlalu besar.
Pernyataan Andry pada akhirnya menegaskan satu hal: sebuah saham yang sedang berada dalam tekanan tidak selalu identik dengan peluang yang hilang. Bagi investor yang melihatnya dari sisi probabilitas dan batas risiko, kondisi seperti itu justru bisa menjadi alasan untuk mengambil posisi. Dalam kasus GOTO, pertimbangan utamanya tampak sangat sederhana, yakni memilih saham yang dinilai sudah berada di area bawah dan tinggal menunggu arah berikutnya.












