Internasional

Arab Saudi Kecam Serangan Iran ke Kuwait, Nilai Langgar Hukum Internasional

0
×

Arab Saudi Kecam Serangan Iran ke Kuwait, Nilai Langgar Hukum Internasional

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Arab Saudi Kecam Serangan Iran ke Kuwait, Sebut Langgar Hukum Internasional

jurnalistik.co.id – RIYADH — Arab Saudi mengecam keras serangan Iran yang ditujukan ke Kuwait pada Senin (1/6/2026). Riyadh menilai aksi itu sebagai pelanggaran yang jelas terhadap kedaulatan Kuwait, hukum internasional, dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Melalui Kementerian Luar Negeri, Arab Saudi menyebut serangan tersebut sebagai “serangan Iran yang berulang dan keji” terhadap Kuwait. Pernyataan itu disampaikan setelah sistem pertahanan udara Kuwait mencegat serangan rudal dan drone yang diarahkan ke wilayahnya.

Dalam pernyataannya, Riyadh menegaskan penolakan mutlak terhadap serangan itu. Kerajaan menilai tindakan tersebut bukan hanya mengancam keamanan Kuwait, tetapi juga bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar hukum internasional yang mengatur hubungan antarnegara.

“Kerajaan menegaskan penolakan kategorisnya terhadap serangan-serangan ini, yang melanggar kedaulatan Negara Kuwait dan merupakan pelanggaran yang jelas terhadap hukum internasional serta Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa,” demikian bunyi pernyataan yang dikutip Arab News.

Arab Saudi juga memperingatkan bahwa serangan seperti ini dapat merusak berbagai upaya internasional untuk meredakan ketegangan di kawasan. Riyadh menilai aksi semacam itu justru membuat situasi keamanan Timur Tengah semakin sulit dipulihkan.

“Pelanggaran-pelanggaran ini merusak upaya internasional yang bertujuan memulihkan keamanan dan stabilitas di kawasan,” lanjut pernyataan tersebut. Dengan nada serupa, Saudi menempatkan serangan itu sebagai ancaman terhadap stabilitas yang sedang diupayakan banyak pihak.

Riyadh kemudian menegaskan kembali solidaritasnya kepada Kuwait. Arab Saudi menyatakan dukungan penuh terhadap langkah-langkah yang diambil pemerintah Kuwait untuk melindungi kedaulatan, keamanan, stabilitas, dan rakyatnya.

“Kerajaan juga menyampaikan solidaritasnya kepada Negara Kuwait, pemerintah dan rakyatnya, serta menegaskan kembali dukungan penuhnya terhadap semua langkah yang diambil Kuwait untuk menjaga kedaulatan, keamanan, stabilitas, dan rakyatnya yang bersaudara,” kata Kementerian Luar Negeri Saudi.

Di sisi lain, serangan itu terjadi di tengah ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran. The National melaporkan Kuwait berada di bawah serangan pada Senin ketika kedua negara saling melancarkan aksi militer di tengah gencatan senjata yang rapuh.

Pemerintah Kuwait menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat “rudal dan drone musuh” pada Senin pagi. Ledakan yang terdengar di sejumlah area disebut berasal dari upaya pertahanan udara menghadapi proyektil yang masuk ke wilayah negara tersebut.

Hingga saat itu, tidak ada laporan korban jiwa maupun kerusakan yang telah dikonfirmasi. Situasi di Kuwait tetap menjadi sorotan karena serangan berlangsung berbarengan dengan memanasnya hubungan militer di kawasan.

Komando Pusat Amerika Serikat atau Centcom juga menyatakan telah mencegat dua rudal balistik Iran yang menargetkan pasukan AS di Kuwait sekitar pukul 07.00 waktu setempat. Dalam keterangannya, rudal-rudal itu disebut berhasil digagalkan dengan cepat.

“Rudal-rudal ini segera berhasil digagalkan dan tidak ada personel Amerika yang terluka,” kata Centcom. Pernyataan itu memperkuat gambaran bahwa serangan berlangsung dalam eskalasi yang luas dan melibatkan beberapa sasaran sekaligus.

Sementara itu, Korps Garda Revolusi Iran atau IRGC mengeklaim serangan tersebut merupakan respons terhadap operasi militer AS. Iran menyebut operasi itu sebelumnya menghantam dua pusat komando dan kendali di sekitar Selat Hormuz.

Rangkaian peristiwa itu membuat Kuwait kembali berada di titik yang sensitif dalam dinamika konflik kawasan. Di tengah saling serang antara Iran dan Amerika Serikat, kecaman Arab Saudi menambah tekanan diplomatik terhadap eskalasi yang dinilai berpotensi memperburuk keadaan lebih jauh.

Dengan pernyataan keras itu, Riyadh menempatkan insiden tersebut bukan sekadar sebagai gangguan keamanan sesaat, melainkan sebagai bentuk pelanggaran yang ikut menekan ruang diplomasi di kawasan. Nada kecaman yang digunakan menunjukkan bahwa Saudi ingin menegaskan batas tegas terhadap tindakan yang menyerang kedaulatan negara tetangga dan berpotensi memperluas krisis yang sudah berlangsung.

Di saat yang sama, langkah pertahanan Kuwait yang berhasil mencegat ancaman udara memperlihatkan betapa cepatnya situasi dapat berubah ketika ketegangan militer meningkat. Dalam kondisi seperti itu, seruan untuk memulihkan stabilitas menjadi semakin relevan, karena setiap serangan baru hanya akan menambah beban keamanan dan memperpanjang ketidakpastian di Timur Tengah.