Olahraga

Arsenal Berpisah dengan Dokter Tim Zafar Iqbal Usai Dua Tahun Bekerja Sama

8
×

Arsenal Berpisah dengan Dokter Tim Zafar Iqbal Usai Dua Tahun Bekerja Sama

Sebarkan artikel ini
Arsenal Berpisah dengan Dokter Tim Zafar Iqbal Usai Dua Tahun Bekerja Sama Bola 9 Juni 2026
Ilustrasi: Arsenal Berpisah dengan Dokter Tim Zafar Iqbal Usai Dua Tahun Bekerja Sama

jurnalistik.co.id – Arsenal dikonfirmasi berpisah dengan dokter kepala klub, Zafar Iqbal, setelah dua tahun bekerja sama dengan The Gunners.

Keputusan ini menjadi babak baru bagi Arsenal di tengah tuntutan kebugaran pemain yang selama periode tersebut berjalan intens. Iqbal, yang memegang peran sentral di departemen medis klub, meninggalkan posisinya setelah jalinan kerja sama berakhir.

Penugasan Iqbal di Arsenal dimulai pada 2023. Ia didatangkan dari Crystal Palace untuk mengisi kekosongan posisi yang ditinggalkan Gary O’Driscoll.

O’Driscoll sebelumnya sudah mengabdi selama 16 tahun di London Utara sebelum memilih pindah ke Manchester United. Setelah kepergian O’Driscoll, Arsenal kemudian mengarahkan kebutuhan medisnya kepada Iqbal.

Perpisahan dengan Iqbal juga hadir pada momen yang cukup padat bagi Arsenal. Klub menjalani musim yang melelahkan dengan total 63 pertandingan di berbagai kompetisi, ditambah rangkaian laga persahabatan pramusim.

Meski pada akhirnya Arsenal mengakhiri penantian 22 tahun untuk menjuarai Liga Inggris, perjalanan mereka tetap diwarnai agenda yang tidak ringan. The Gunners juga melaju hingga final Liga Champions dan final Piala Carabao.

Namun, di balik capaian tersebut, Arsenal harus berjuang keras saat menghadapi badai cedera. Banyak pemain kunci terpaksa menepi akibat masalah fisik yang beragam, mulai dari gangguan otot hingga cedera serius yang memerlukan tindakan operasi.

Kapten tim Martin Odegaard menjadi salah satu contoh yang merasakan dampak cedera dalam periode panjang. Setelah tampil di laga internasional melawan Maroko baru-baru ini, ia mengakui bahwa dirinya telah “berjuang” dengan cedera lutut selama “beberapa waktu.”

Di tengah kesibukan klub, Odegaard dan skuad juga harus menghadapi tekanan performa. Pada laga Liga Inggris pekan ke-35 di Stadion Emirates, London, Arsenal mengalami kekalahan 1-2 saat melawan Bournemouth pada Minggu (3/5) dini hari WIB.

Selain Odegaard, performa Bukayo Saka juga sempat terhambat oleh masalah fisik sepanjang musim Premier League. Saka disebut mengalami gangguan pada otot paha belakang, pinggul, dan Achilles.

Arsenal juga menanggung dampak dari absen Jurrien Timber pada periode krusial. Timber sempat harus mundur dari skuad Piala Dunia Belanda karena masalah pangkal paha, meski ia sempat tampil di final Liga Champions pada bulan Mei lalu.

Evaluasi Departemen Medis

Daftar pemain yang sempat absen pada musim lalu memperlihatkan besarnya tekanan yang diterima departemen kedokteran Arsenal. Nama-nama yang disebut mengalami masalah mencakup Gabriel, William Saliba, Riccardo Calafiori, Ben White, Declan Rice, dan Kai Havertz.

Musim 2024-25 digambarkan sebagai periode ketika kebugaran pemain benar-benar diuji oleh jadwal pertandingan yang padat. Rentang pertandingan yang panjang dan berlapis membuat pemulihan menjadi aspek yang sangat menentukan dalam perjalanan kompetisi.

Sampai saat ini, alasan spesifik mengenai kepergian sang dokter belum diungkapkan secara detail. Namun, perpisahan Iqbal tetap menghadirkan perubahan bagi Arsenal setelah dua tahun menangani kebutuhan medis dalam kondisi kompetisi yang ketat.

Dengan berakhirnya masa kerja sama tersebut, Arsenal kini memasuki fase berikutnya dalam pengelolaan kebugaran pemain. Pergantian di posisi dokter kepala menandai arah baru bagi departemen medis klub setelah serangkaian tantangan kebugaran sepanjang musim berjalan.

Situasi yang dihadapi Arsenal pada periode tersebut tidak hanya berkaitan dengan hasil pertandingan, tetapi juga dengan ritme pemulihan yang terus dituntut agar pemain bisa kembali siap untuk laga berikutnya. Ketika jadwal kompetisi berjalan berlapis dan sepanjang musim diiringi agenda pramusim, departemen medis menjadi penentu dalam mengatur proses rehabilitasi serta respons saat kondisi fisik pemain berubah dari hari ke hari.

Gambaran tekanan itu makin terlihat dari sebaran nama yang sempat mengalami hambatan kebugaran. Selain kasus Odegaard yang menyebut perjuangan cedera lutut selama beberapa waktu, ada pula gangguan yang disebut dialami Bukayo Saka pada otot paha belakang, pinggul, hingga Achilles. Jurrien Timber juga menjadi contoh lain ketika ia harus mundur dari skuad akibat masalah pangkal paha, sekaligus menunjukkan bahwa pengelolaan kebugaran tidak hanya soal cedera jangka panjang, tetapi juga keputusan saat laga-laga besar mendekat.