jurnalistik.co.id – Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) menanggapi putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menyangkut sisa kuota internet. Menurut ATSI, pelaksanaannya dapat dipenuhi melalui ketersediaan pilihan produk kuota rollover bagi pelanggan.
Direktur Eksekutif ATSI Marwan O. Baasir menyampaikan bahwa opsi rollover pada dasarnya sudah tersedia di layanan operator seluler saat ini. Marwan menyatakan hal itu ketika dimintai tanggapan terkait substansi putusan MK, seperti yang dikutip pada Sabtu (25/7/2026).
“Ya menyediakan pilihan produk kuota rollover , yang sebenarnya sekarang juga sudah ada,” kata Marwan. Ia menegaskan bahwa keberadaan pilihan tersebut dinilai menjadi jalan untuk menjawab arah putusan MK terkait perlakuan terhadap sisa kuota.
Marwan juga menilai bahwa putusan MK tidak berarti paket internet reguler harus hilang. Dengan kata lain, layanan yang selama ini dikenal pelanggan tetap dapat berjalan, sementara fitur rollover hadir sebagai opsi tambahan.
Dalam penjelasannya, masyarakat nantinya dapat menentukan pilihan sesuai kebutuhannya. Hal itu mencakup opsi paket reguler maupun paket dengan fitur rollover.
“Jadinya produk rollover menjadi salah satu pilihan. Masyarakat bisa memilih nantinya produk reguler dan produk rollover tersedia,” tegas Marwan. Pernyataan tersebut menekankan bahwa keputusan pelanggan menjadi faktor utama dalam skema layanan yang disediakan operator.
Ketika ditanyakan apakah tersedianya dua pilihan tersebut menunjukkan bahwa operator anggota ATSI secara prinsip telah memenuhi substansi amar putusan MK, Marwan menyampaikan bahwa opsi itu sudah ada sekarang. Ia menilai substansi yang dimaksud dapat dijalankan tanpa memerlukan perubahan model bisnis yang signifikan.
Berita Terkait
ATSI, melalui Marwan, memandang bahwa keberadaan produk rollover yang telah disediakan operator menjadi elemen kunci dari respons terhadap putusan MK. Dengan begitu, pelanggan memiliki ruang untuk memilih skema kuota yang sesuai preferensi mereka, termasuk untuk mengelola kuota yang tersisa.
Menurut ATSI, pendekatan berbasis pilihan produk ini juga menjaga kontinuitas layanan reguler yang selama ini digunakan masyarakat. Di saat yang sama, pelanggan yang menghendaki fitur rollover dapat memanfaatkan produk tersebut sebagai alternatif.
Dengan demikian, respons ATSI berfokus pada ketersediaan opsi rollover yang sudah berjalan. ATSI menilai putusan MK dapat diakomodasi melalui pilihan paket yang memungkinkan pelanggan memilih antara kuota reguler dan kuota dengan fitur rollover, tanpa menghilangkan paket internet reguler yang sudah dikenal pengguna.
Dalam pandangan ATSI, inti dari putusan MK dapat ditangkap melalui cara pandang yang menempatkan pelanggan sebagai penentu skema layanan. Artinya, ketersediaan beberapa jenis produk tidak dimaksudkan untuk membatasi pilihan, tetapi memberi ruang agar pengguna dapat menyesuaikan kebutuhan pemakaian internetnya dari waktu ke waktu.
ATSI juga menekankan bahwa fitur rollover ditempatkan sebagai opsi tambahan, bukan sebagai pengganti menyeluruh terhadap layanan yang selama ini sudah digunakan masyarakat. Dengan pendekatan tersebut, paket reguler tetap berada dalam portofolio layanan, sementara pelanggan yang membutuhkan pengelolaan kuota tersisa dapat memanfaatkan produk yang menyediakan mekanisme rollover sesuai pilihan mereka.
Marwan menilai, langkah pemenuhan substansi putusan tidak harus diartikan sebagai perubahan besar pada model layanan. Karena pilihan produk rollover dinilai sudah tersedia di layanan operator seluler saat ini, maka implementasi yang diperlukan dapat berupa penyesuaian penyajian produk dan penguatan pilihan kepada pelanggan, sehingga arah putusan dapat diakomodasi tanpa menghapus paket yang sudah dikenal pengguna.
Dengan demikian, respons ATSI berangkat dari penguatan opsi produk yang sudah berjalan, sekaligus penegasan bahwa keberlangsungan layanan reguler tetap dijaga. Pada saat yang sama, pelanggan memperoleh alternatif yang lebih fleksibel untuk mengatur sisa kuota melalui produk rollover, sehingga keputusan akhir mengenai jenis layanan yang dipakai tetap kembali kepada kebutuhan masing-masing pengguna.












