Hukum & Kriminal

Ayah korban serangan Southport menuding layanan ambulans melanggar kepercayaan

×

Ayah korban serangan Southport menuding layanan ambulans melanggar kepercayaan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Southport victim's dad accuses ambulance staff of breaching trust

jurnalistik.co.id – Ayah dari salah satu korban yang mengalami cedera serius dalam serangan Southport menuding North West Ambulance Service (NWAS) melakukan pelanggaran kepercayaan. Ia menyoroti dugaan akses yang tidak semestinya terhadap rekam medis para korban.

Pengaduan itu muncul setelah diketahui bahwa NWAS sedang menyelidiki apakah stafnya mengakses data pasien secara inappropriat. Ayah korban menyebut potensi pelanggaran tersebut sebagai hal yang “appalling”, seraya mengatakan sebagian petugas “just wanted to satisfy their own morbid curiosity”.

Dalam keterangannya, ia menilai persoalan ini sebagai “a complete breach of trust” pada “our darkest hours as a family” sekaligus menyatakan bahwa tuduhan tersebut “dampens how you feel about the amazing work they do to save lives.” Ia juga menekankan bahwa kondisi yang dialami putrinya seharusnya tidak menjadi bahan pemeriksaan oleh siapa pun di luar kebutuhan layanan.

Menurut ayah korban, setelah insiden serupa terungkap di Aintree Hospital, keluarga lantas mendapat kabar yang membuat mereka semakin terkejut. Sebelumnya, pada bulan Mei, puluhan pekerja di Aintree—tempat beberapa korban yang terluka ditangani—disebut telah melihat rekam medis tanpa alasan yang jelas.

Salman Desai, chief executive NWAS, menyatakan pihaknya melakukan investigasi setelah “identified concerns about potential inappropriate access to patient records”. Ia juga menegaskan bahwa setiap akses yang tidak semestinya terhadap informasi pasien akan diperlakukan sangat serius, dan NWAS menyampaikan permintaan maaf atas kekhawatiran serta penderitaan yang mungkin timbul.

Dalam serangan yang terjadi pada 29 Juli 2024 itu, tiga anak perempuan—Alice da Silva Aguiar, Bebe King, dan Elsie Dot Stancombe—dibunuh. Sebanyak 10 orang lainnya mengalami luka fisik. Korban yang dimaksud ayahnya adalah seorang gadis berusia 13 tahun saat peristiwa terjadi namun selamat, setelah ditikam di bagian punggung dan lengan ketika ia membantu mengawasi kelas tari bertema Taylor Swift di Hart Street, Southport.

Permintaan kaji ulang dan keraguan soal detail akses

Kuasa hukum yang bertindak untuk gadis tersebut dan untuk 21 dari 23 gadis yang selamat meminta NHS England melakukan tinjauan menyeluruh. Tuntutan mereka menyoroti panduan dan prosedur disiplin bagi staf ketika mengakses data pasien secara tidak semestinya.

Panggilan itu berangkat dari temuan dokumen yang diserahkan UHLG (NHS University Hospitals of Liverpool Group) kepada keluarga. Saat meninjau berkas-berkas yang diberikan UHLG terkait pelanggaran di Aintree, mereka mendapati informasi bahwa staf dari North West Ambulance Service mungkin juga mengakses rekam medis putri mereka tanpa sebab. Dalam dokumen tersebut, disebutkan “under 10 individuals” mungkin telah mengakses insiden itu secara inappropriat dalam lingkungan layanan ambulans.

Ayah korban menjelaskan bahwa setelah mengetahui kasus di Aintree, ia lalu mendengar bahwa perbuatan serupa ternyata terjadi juga di konteks ambulans. Ia menyebutnya “appalling” karena keluarga baru mengetahuinya setelah “raking through these documents”. Ia menambahkan bahwa hingga kini rumah sakit masih belum bisa memberi kepastian apakah foto-foto luka putrinya dilihat oleh staf, sehingga keluarga merasa mereka tidak tahu “what to believe”.

Ia juga menekankan bahwa keputusan untuk membagikan apa yang terjadi kepada putrinya seharusnya menjadi hak putrinya, namun kini tidak ada jaminan menyangkut data apa yang dibagikan maupun disimpan. “They’ve had multiple chances to tell us about this but instead we have been left to discover it all two years later, when we should be focusing on recovering and moving forward,” ujarnya, seraya menyebut tidak adanya informasi yang jelas di waktu yang semestinya.

Di sisi lain, firma kuasa hukum menyatakan bahwa kepercayaan publik tetap dipertanyakan meski pihak layanan ambulans dinilai “not formally disciplining” staf. Namun disebutkan mereka “strengthened their HR process for future incidents”.

Kekhawatiran korban dewasa dan kritik budaya mengintai

Leanne Lucas, yang merupakan instruktur pada acara tari bertema Taylor Swift dan salah satu dari tiga penyintas dewasa, menyatakan dirinya “devastated and horrified” ketika mengetahui adanya kemungkinan pelanggaran data yang lain. Ia mengatakan, “Life has never been the same since 29 July 2024, and so many people are still living with the trauma of that day,” lalu menambahkan bahwa mengetahui adanya potensi pelanggaran data “particularly after staff at NHS University Hospitals of Liverpool wrongly accessed my medical records” terasa seperti “insult added to injury”.

Lucas menyebut bahwa ia kini menantikan kabar dari pihak ambulans mengenai apakah rekam medisnya diakses oleh staf. Apa pun hasilnya, ia berharap ada investigasi menyeluruh, transparansi penuh untuk semua pihak terdampak, serta langkah-langkah yang kuat agar hal serupa “can never happen again”.

Nicola Ryan-Donnelly, associate solicitor dari Fletchers Solicitors, menilai rangkaian pelanggaran data pasien yang muncul belakangan menunjukkan “a deep-rooted culture of snooping within the NHS.” Ia menekankan bahwa orang yang mengalami cedera serius atau sekarat tidak seharusnya menanggung kekhawatiran tambahan ketika mereka justru sedang dilarikan untuk mempertahankan hidup. Ia menyerukan agar NHS England meninjau kebijakan yang mengatur semua staf terkait pelanggaran data pasien yang tidak semestinya.

Status investigasi dan respons otoritas pengawas

NWAS menyatakan telah memberi pemberitahuan kepada Information Commissioner’s Office (ICO). Sementara itu, UHLG selaku pengelola Aintree Hospital sebelumnya menyebut pelanggaran tersebut “inexcusable” dan menyatakan ada perubahan yang dilakukan, meski tidak ada yang dipecat.

ICO menyampaikan bahwa pihaknya telah menerima informasi mengenai investigasi internal NWAS atas potensi akses yang tidak semestinya terhadap rekam medis oleh staf. “As this is ongoing, we will assess any evidence provided in due course and consider our next steps, including whether any criminal investigations need to be opened for breaking data protection law,” kata juru bicara ICO. Mereka juga menyebut ICO membantu organisasi menanggulangi persoalan pelanggaran data secara lebih luas di sektor kesehatan, bekerja bersama National Data Guardian dan NHS England.

Kasus semacam ini juga pernah terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Pada bulan Juni, Cambridge University Hospitals mengatakan sedang menyelidiki setelah rekam medis seorang bocah berusia tiga tahun yang cedera akibat kecelakaan di “crocodile pit” diakses oleh sekitar 40 staf. Pada bulan Mei, Nottingham University Hospitals NHS Trust menyatakan 11 staf diberhentikan dan 14 lainnya mendapatkan tindakan setelah akses tidak semestinya terhadap rekam medis para korban penusukan di Nottingham.