jurnalistik.co.id – Banyak orang berupaya menekan konsumsi gula demi kesehatan, tetapi tidak semua orang sadar bahwa gula bisa muncul dalam produk yang selama ini dianggap “lebih baik”, termasuk madu, jus buah, yoghurt berperisa, hingga sereal sarapan.
Pada 14/6/2026, The Guardian menyoroti bahwa gula memiliki lebih dari 50 nama berbeda yang dapat muncul di label makanan. Beragam istilah itu membuat sebagian orang berpotensi mengonsumsinya dalam jumlah berlebihan setiap hari tanpa menyadari.
Lantas, apakah semua jenis gula otomatis berbahaya? Dan benarkah madu lebih sehat daripada gula pasir? Untuk menjawabnya, pemahaman soal “gula” perlu dibedakan berdasarkan sumbernya.
Gula tidak selalu bermakna sama
Menurut Sammie Gill, ilmuwan senior di British Nutrition Foundation (BNF), gula adalah karbohidrat sederhana yang secara alami juga terdapat dalam buah, sayuran tertentu, susu, serta berbagai produk olahannya. “Gula penting ditemukan dalam banyak makanan alami yang juga mengandung berbagai zat gizi lain yang bermanfaat bagi kesehatan,” kata Gill.
Karena itu, gula yang berasal dari bahan alami dalam makanan tidak dapat disamakan dengan gula yang ditambahkan dalam minuman bersoda atau permen. Dalam buah, gula hadir bersama vitamin C, serat, dan senyawa fitokimia. Sementara itu, pada susu, gula berada di tengah kandungan kalsium, protein, serta vitamin B12.
Dengan kata lain, perbedaan utama bukan hanya pada kata “gula”, melainkan pada konteks makanan yang mengandung gula tersebut—apakah gula hadir secara alami bersama nutrisi lain, atau justru ditambahkan sebagai pemanis.
“Free sugars”: jenis yang perlu dibatasi
Yang menjadi perhatian para ahli adalah “free sugars” atau gula bebas. Istilah ini mencakup semua gula yang ditambahkan oleh produsen makanan, koki, atau konsumen sendiri ke dalam makanan dan minuman.
Sumbernya tidak terbatas pada minuman bersoda, kue, cokelat, dan biskuit. Free sugars juga ditemukan dalam jus buah, smoothie, yoghurt berperisa, sereal sarapan, saus, minuman beralkohol, serta berbagai makanan olahan.
Perlu ditekankan, ketika gula bebas terdapat dalam produk yang terlihat “sehat” karena mengandung bahan tertentu atau dikemas dengan klaim tertentu, kandungannya tetap perlu dilihat dengan cermat agar konsumsi tidak melampaui batas yang dianjurkan.
Gula bisa tersamarkan lewat beragam nama di label
Di tingkat label kemasan, gula dapat muncul dengan berbagai nama. Istilah yang disebutkan mencakup sirup, molase, nektar, dekstrosa, madu, konsentrat jus buah, hingga beragam istilah yang berakhiran “-osa”.
Keberadaan banyak variasi penamaan ini menjelaskan mengapa seseorang bisa tetap mengonsumsi gula yang sebenarnya termasuk gula bebas meskipun tidak menggunakan kata “gula” secara langsung di produk yang dibeli.
Dengan informasi tersebut, konsumen dapat memeriksa komposisi lebih teliti, terutama pada produk-produk yang berpotensi menyembunyikan pemanis, seperti jus buah, yoghurt berperisa, dan sereal sarapan.
Intinya, upaya mengurangi gula tidak cukup hanya menghindari makanan manis secara yang paling terlihat. Karena gula dapat muncul dalam banyak bentuk dan penyebutan, perhatian perlu diarahkan pada “free sugars”, yaitu gula tambahan dalam makanan dan minuman—serta memahami bahwa gula alami dalam buah atau susu tidak bisa diperlakukan sama dengan gula tambahan dalam minuman bersoda maupun permen.
Waspada menjadi semakin relevan bila konsumsi terjadi berlebihan, sebab gula bebas dapat ikut menambah asupan harian dari berbagai sumber, termasuk yang tampak ramah kesehatan. Memahami perbedaan sumber gula, mengenali label, dan menilai jenis pemanis yang ditambahkan membantu memastikan pola makan tetap terjaga.












