Teknologi

Swiss Arahkan Industri 5.0 Berbasis AI, Indonesia Buka Jalan Kolaborasi

×

Swiss Arahkan Industri 5.0 Berbasis AI, Indonesia Buka Jalan Kolaborasi

Sebarkan artikel ini
Swiss Siapkan Industri 5.0, Indonesia Mulai Buka Jalan Kolaborasi Money 25 Juni 2026
Ilustrasi: Swiss Siapkan Industri 5.0, Indonesia Mulai Buka Jalan Kolaborasi

jurnalistik.co.id – Swiss mulai mengarahkan langkahnya menuju Industry 5.0 yang bertumpu pada kecerdasan buatan, robotika, dan kolaborasi manusia dengan mesin cerdas. Sementara itu, Indonesia membuka akses kolaborasi untuk mempelajari pengembangan teknologi tersebut guna memperkuat ekosistem industri dan sumber daya manusia.

Pergerakan ini mengemuka saat delegasi Indonesia berkunjung ke Swiss Smart Factory di Biel, kanton Bern. Kunjungan itu menjadi bagian dari upaya membangun kerja sama dengan pusat pengembangan teknologi yang menekankan penerapan langsung di dunia usaha.

Kerja sama Indonesia–Swiss juga ditempatkan dalam rangkaian peringatan 75 tahun hubungan bilateral kedua negara. Skema kolaborasinya mencakup pengembangan SDM, teknologi, pembiayaan, hingga akses pasar global.

Mengupayakan transfer keahlian ke dalam negeri

Dubes RI untuk Swiss, Ngurah Swajaya, menjelaskan bahwa Indonesia datang untuk “tap keahlian” yang dimiliki Swiss Smart Factory. Ia menyampaikan hal itu kepada delegasi jurnalis Kompas Gramedia (KG) Grup, termasuk Kompas.com, dalam sesi khusus di sela acara “7th Edition of the International Smart Factory Summit: Shaping Industry 5.0 Together” di Bern pada Kamis (24/6/2026).

Ngurah menegaskan maksud kunjungan itu sebagai usaha mempertemukan keahlian teknologi dengan kebutuhan pengembangan di Indonesia. Ia mengutip, “Jadi kita berupaya, kita juga tap keahlian mereka untuk kita bawa ke Indonesia. Jadi itu hampir sebagai alasan kenapa kita di sini.”

Menurut Ngurah, Swiss Smart Factory berperan sebagai inkubator teknologi. Lembaga tersebut tidak berhenti pada pengolahan hasil riset sebagai kajian, tetapi menyiapkan agar dapat diterapkan langsung di dunia usaha.

Ngurah menambahkan bahwa Swiss Smart Factory tidak didirikan pemerintah, melainkan oleh industri yang kemudian mendapat dukungan pemerintah, terutama pemerintah daerah. Pada lokasi yang berdampingan dengan universitas, proses alih pengetahuan diarahkan agar bisa langsung masuk ke praktik industri.

Fokus teknologi di Swiss Smart Factory berada pada robotika dan kobotika, yakni robot yang dapat berinteraksi langsung dengan manusia. Berbeda dengan robot industri konvensional yang bekerja terpisah dari operator, kobotika didesain untuk beroperasi berdampingan dengan manusia.

Ngurah menyampaikan bahwa hasil riset disiapkan untuk diaplikasikan. Ia juga menyoroti bahwa penerapan teknologi semacam ini berpotensi membuat penggunaan sumber daya manusia semakin sedikit, sebagaimana kutipannya, “Jadi semacam agregator dalam rangka mengaplikasikan di lapangan. Jadi nanti kita lihat industri itu penggunaan sumber daya manusianya semakin sedikit.”

Dari sisi pelaksanaan kerja sama, akses pengembangan teknologi diupayakan melalui kemitraan yang telah dijalin. Kerja sama itu melibatkan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, serta lembaga pendidikan vokasi di Solo dan Nongsa Digital Park.

Dengan demikian, penguatan kapasitas pembelajaran teknologi ditempatkan sebagai pintu masuk. Tujuannya adalah membuka akses bagi Indonesia untuk mempelajari cara pengembangan Industry 5.0, termasuk penerapan sistem kolaboratif robot dan manusia.

AI agent, physical AI, dan pergeseran cara kerja industri

Dalam International Smart Factory Summit, Dominic Gorecky dari Switzerland Innovation Park Biel/Bienne menggambarkan bahwa dunia memasuki perlombaan yang berbeda dari Industry 4.0. Ia menyatakan, “Saat ini hanya Amerika Serikat dan China yang benar-benar mendominasi pasar ini. Bahkan Swiss dan Eropa mungkin belum cukup kuat untuk ikut dalam perlombaan tersebut.”

Gorecky menilai perlombaan itu mengarah pada supremasi teknologi. Ia menambahkan, “Ini adalah perlombaan menuju supremasi teknologi. Inilah perlombaan baru yang sedang kita saksikan, dan secara mendasar berbeda dengan konsep Industry 4.0,” ujarnya.

Menurut Gorecky, Industry 5.0 menghadirkan konsep tenaga kerja baru yang memadukan manusia dengan AI agent. Teknologi tersebut, dalam penjelasannya, mampu menyediakan informasi yang tepat untuk membantu pengambilan keputusan, bekerja berdasarkan misi, serta beroperasi selama 24 jam sehari.

Ia juga menjelaskan bahwa pada Industry 5.0, AI agent tidak hanya memahami kebutuhan pengguna. AI agent juga dapat bernegosiasi dengan pabrik dan rantai pasok untuk memperoleh produk terbaik dalam waktu paling optimal.

Perkembangan berikutnya adalah hadirnya AI fisik (physical AI). Bentuknya mencakup robot adaptif, kendaraan tanpa pengemudi, drone otonom, hingga robot humanoid.

“Inilah tenaga kerja masa depan kita, dan saat ini kita sama sekali belum siap menghadapinya,” kata Gorecky.

Gorecky mempertanyakan apakah konsep Industry 5.0 benar-benar masih menempatkan manusia sebagai pusat. Ia menegaskan dengan pandangan yang disampaikan secara langsung, “Jika Anda bertanya kepada seorang CEO apakah mereka menginginkan pabrik yang dipenuhi manusia, jawabannya adalah tidak. Mereka menginginkan pabrik dengan lebih sedikit manusia. Jadi, di mana letak konsep yang berpusat pada manusia? Saya mempertanyakan hal itu.”

Ia juga mengingatkan risiko apabila suatu negara tidak berinvestasi pada inovasi AI. Menurutnya, Swiss dan Eropa dapat menjadi “Koloni AI” apabila hanya bergantung pada teknologi yang dikembangkan negara lain.

Gorecky menyebut jalan keluar yang perlu ditempuh berupa peningkatan investasi pada inovasi, penguatan perusahaan rintisan, serta pembangunan ekosistem Industry 5.0. Ia menegaskan, “Kami bukan hanya ingin menulis makalah dan teori. Kami benar-benar ingin mengubah dunia.”

Di tengah lanskap kompetisi global yang digambarkan didominasi Amerika Serikat dan China, upaya Swiss menyiapkan penerapan kobotika dan integrasi AI agent menjadi bagian dari upaya menjawab perubahan tersebut. Bagi Indonesia, pembukaan akses kolaborasi diarahkan sebagai langkah awal untuk menyiapkan ekosistem dan SDM agar mampu menyerap arah industri yang bergerak menuju Industry 5.0.