jurnalistik.co.id – Warga Desa Kairatu dan Desa Hatusua, Kecamatan Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, terlibat bentrokan pada Sabtu (13/6/2026) siang. Bentrokan terjadi karena persoalan sengketa lahan di antara kedua desa.
Menurut informasi yang dihimpun dari Kapolres Seram Bagian Barat, bentrokan itu melibatkan massa kedua pihak yang saling menyerang dengan menggunakan batu dan berbagai alat tajam lainnya. Peristiwa terjadi tepat di pertigaan jalan menuju dermaga Feri Waipirit.
Akibat aksi saling serang tersebut, kendaraan dari dan menuju dermaga Waipirit yang menghubungkan Pulau Seram dengan Pulau Ambon sempat terganggu. Situasi baru mereda setelah aparat kepolisian dan TNI dikerahkan ke lokasi untuk menghalau kedua kelompok massa.
Pemicunya sengketa lahan Kapolres Seram Bagian Barat, AKBP Andi Zulkifli, mengakui bentrokan kedua warga desa tersebut dipicu oleh sengketa lahan. “Pemicunya itu karena masalah lahan, saling klaim lah intinya begitu,” kata Andi kepada Kompas.com via telepon, Sabtu.
Andi menjelaskan, di lokasi yang menjadi sengketa, warga Desa Hatusua awalnya memasang baliho larangan beraktivitas. Baliho tersebut kemudian dirusak oleh orang tak dikenal, sehingga ketegangan antara warga kedua desa meningkat.
“Jadi orang Hatusua pasang baliho, sebenarnya mereka tidak masalah orang Kairatu bawa ke pengadilan tidak masalah, tapi yang jadi masalah ada orang yang merusak baliho itu itu yang bikin terjadi ketegangan,” ungkapnya.
Berdasarkan penjelasan tersebut, proses perselisihan yang sebelumnya berjalan melalui klaim dan upaya hukum tidak langsung memicu bentrokan. Pemicu yang disebut Andi adalah perusakan baliho larangan yang kemudian membuat kedua pihak saling menghadapkan diri.
Aparat turun tangan dan massa dibubarkan Saat ketegangan memuncak dan terjadi aksi saling serang, aparat kepolisian dan TNI langsung berusaha menengahi kedua kelompok massa. “Tadi kita cepat turun sehingga langsung menengahi sehingga mereka tidak berhadap-hadapan secara langsung. hanya memang saling lempar terjadi,” sebutnya.
Langkah penanganan tersebut dilakukan dengan cepat agar massa tidak saling berhadapan langsung. Meskipun masih terjadi saling lempar, pengalihan dan penertiban dari aparat membantu menghentikan eskalasi di lokasi.
Andi memastikan tidak ada warga yang terluka akibat bentrokan, baik dari Desa Hatusua maupun Desa Kairatu. “Tidak ada laporan korban luka, dan situasinya sudah kondusif ya sudah normal kembali,” katanya.
Setelah massa dibubarkan, aktivitas lalu lintas menuju dermaga Hunimua kembali normal. Perbaikan kondisi di lapangan juga diikuti dengan pemulihan arus kendaraan yang sempat terganggu pada fase awal peristiwa.
Imbauan untuk menyelesaikan lewat musyawarah Di akhir keterangannya, Andi mengimbau warga kedua desa agar dapat menahan diri. Warga juga diminta menyelesaikan masalah dengan cara musyawarah, sejalan dengan langkah aparat yang melakukan penengahan di lokasi kejadian.
Di lokasi kejadian, bentrokan terjadi saat kedua kelompok massa saling mendatangi titik yang sama dan saling melancarkan serangan. Kapolres menyebutkan bahwa peristiwa berlangsung di pertigaan jalan menuju dermaga Feri Waipirit, sehingga suasana cepat berubah ketika warga mulai saling berhadapan.
Andi juga mengaitkan eskalasi awal dengan adanya penanda di area sengketa. Warga Desa Hatusua memasang baliho larangan beraktivitas di titik yang dipermasalahkan, namun baliho tersebut kemudian dirusak oleh pihak yang tidak dikenal. Menurutnya, rangkaian peristiwa itu yang membuat ketegangan makin sulit dikendalikan hingga akhirnya berkembang menjadi bentrokan.
Setelah situasi memanas, upaya penertiban dilakukan dengan respons yang dinilai cepat oleh aparat. Penengahan dilakukan agar massa tidak terus saling berhadapan secara langsung, sekaligus mengarahkan kerumunan agar tidak melanjutkan aksi. Walau lempar masih sempat terjadi, tindakan pengalihan dan pembubaran membantu meredakan suasana di lapangan.
Usai massa dibubarkan, keadaan kembali berjalan seperti semula. Kapolres menyatakan tidak ada laporan korban luka dari kedua desa dan situasi sudah terkendali. Aktivitas di sekitar dermaga yang sempat terganggu juga pulih, sementara warga diminta menahan diri serta menyelesaikan persoalan melalui musyawarah sesuai arahan aparat.












