jurnalistik.co.id – Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan pengetatan standar menu dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sejumlah makanan yang selama ini kerap muncul dalam menu harian anak-anak sekolah kini resmi dilarang disajikan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG.
Penegasan larangan tersebut disampaikan Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Sleman, Harsono Budi Waluyo, saat rapat koordinasi pelaksanaan MBG di Kabupaten Purworejo pada Senin (8/6/2026). Dalam rapat itu, BGN juga menjelaskan dasar pengetatan dilakukan untuk menjaga kualitas gizi dan keamanan pangan bagi penerima manfaat program.
Pengetatan menu MBG dan alasan kebijakan
Dalam aturan terbaru, BGN melarang penggunaan telur dadar, orak-arik telur, mi instan, berbagai jenis keripik, hingga makanan tertentu yang dinilai berisiko menurunkan kualitas gizi maupun keamanan pangan bagi peserta MBG. Harsono menyebut kebijakan ini bagian dari upaya pemerintah meningkatkan kualitas layanan gizi.
Menurut Harsono, pada tahun sebelumnya fokus utama pemerintah berada pada percepatan pembentukan dapur MBG di seluruh Indonesia. Setelah tahapan perluasan dapur dilakukan, pengetatan standar menu kemudian menjadi langkah berikutnya untuk memperbaiki kualitas layanan gizi yang diterima peserta didik.
Larangan telur dadar dan orak-arik telur
Harsono menegaskan, telur tidak sepenuhnya dilarang dalam Program MBG, tetapi ada bentuk pengolahan yang tidak diperbolehkan. Ia menyampaikan, “Telur tidak dilarang dalam Program MBG, tetapi ada bentuk pengolahan telur yang tidak diperbolehkan. Telur dadar dan orak-arik telur tidak boleh digunakan dalam menu MBG,” kata Harsono pada Senin tersebut.
Penjelasan Harsono berangkat dari kondisi di lapangan saat telur disajikan. Dalam praktik, penyajian telur dadar dinilai berpotensi menurunkan kandungan telur yang benar-benar diterima peserta didik karena dapat dicampur dengan berbagai bahan tambahan.
Harsono menyatakan bahwa dampaknya bisa memengaruhi jumlah protein yang diterima siswa. Ia menekankan, “Kalau telur dadar, bisa saja campurannya lebih banyak daripada telurnya. Karena itu yang dianjurkan adalah telur utuh atau telur bulat sehingga kandungan gizinya lebih jelas dan terukur,” ujarnya.
Larangan mi instan untuk menjaga kualitas sumber karbohidrat
Selain telur dadar dan orak-arik, BGN juga melarang penggunaan seluruh jenis mi dalam menu MBG. Kebijakan ini disebut sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber protein dan karbohidrat yang diberikan kepada peserta didik.
Harsono menyampaikan bahwa pemerintah ingin memastikan makanan yang disajikan benar-benar memberikan manfaat gizi yang optimal. Ia menekankan tujuan program bukan semata-mata mengenyangkan, melainkan memastikan kebutuhan gizi dapat terpenuhi sesuai dengan standar yang ditargetkan.
Dengan demikian, larangan mi menjadi langkah penyesuaian menu yang dimaksudkan untuk mengarahkan pilihan makanan agar lebih selaras dengan target pemenuhan gizi penerima manfaat MBG.
Keripik dilarang karena tidak sejalan dengan tujuan pemenuhan gizi
BGN juga memasukkan berbagai jenis keripik ke dalam daftar makanan yang tidak diperbolehkan disajikan. Larangan tersebut mencakup makanan ringan yang dinilai tidak memberikan kontribusi signifikan terhadap kebutuhan gizi penerima manfaat program.
Harsono menyinggung temuan menu keripik yang pernah disajikan pada sejumlah dapur MBG di masa awal pelaksanaan program. Ia menilai penggunaan makanan ringan seperti keripik tidak sejalan dengan tujuan utama Program MBG yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan protein, vitamin, mineral, dan energi bagi anak-anak.
Dalam konteks pengetatan standar, pengaturan menu dimaksudkan agar setiap pilihan bahan makanan mendukung tujuan gizi program secara lebih tepat. BGN, melalui penegasan ini, mendorong SPPG atau dapur MBG menjalankan menu yang memenuhi standar kualitas gizi dan keamanan pangan.
Kebijakan penertiban menu tersebut mulai berjalan pada tahun ini, seiring penajaman standar setelah tahapan percepatan pembentukan dapur MBG. Dengan pengetatan yang diumumkan dalam rapat koordinasi di Purworejo, BGN berupaya memastikan layanan gizi Program Makan Bergizi Gratis berjalan lebih berkualitas bagi peserta didik.












