jurnalistik.co.id – Brendon McCullum meninggalkan peran pelatih kepala tim Test Inggris setelah empat tahun, menyusul keputusan yang mengubah peta kepelatihan tim putra. Namun, ia tetap memegang tanggung jawab di jalur white-ball.
Perpisahan ini datang di tengah pergantian besar setelah Ben Stokes mengumumkan mundur sebagai kapten dan pensiun dari kriket internasional dua pekan sebelumnya. Dengan keluarnya McCullum, fase kepemimpinan yang selama ini membentuk gaya bermain Test Inggris mendapat ujung yang jelas.
Peran di Test berakhir, white-ball berlanjut
McCullum akan terus menjadi pelatih white-ball, tetapi tidak lagi memimpin tim Test. Langkah itu diputuskan setelah pihak hierarki England and Wales Cricket Board merenungkan situasi yang membelit tim putra.
Direktur kriket Rob Key tetap berada di posisinya. Adapun McCullum menyampaikan rasa bangga atas perjalanan yang ia jalani bersama tim Test.
“I’ve absolutely loved coaching the Test side and I’m incredibly proud of what we’ve achieved together,” said McCullum.
“There’ve been some unbelievable highs and a few tough days along the way, but that’s all part of taking on a challenge like this.
“Of course I’m gutted not to be continuing, but I respect the decision. My focus now is on giving everything I’ve got to the white-ball teams and helping England keep moving forward.”
Keputusan ini sekaligus menandai akhir era Bazball sebagai respons terhadap rangkaian hasil yang tidak sesuai harapan, serta insiden-insiden di luar lapangan.
Dalam rentang yang baru-baru ini, Inggris kalah dalam tujuh dari sembilan pertandingan Test terakhir mereka. Di antaranya termasuk kekalahan telak 4-1 pada seri Ashes di Australia.
Nasib Test Inggris tanpa pelatih kepala dan tanpa kapten
Meski McCullum, Stokes, dan Key sempat didukung untuk tetap memegang kendali setelah kekalahan Ashes tersebut, perjalanan berikutnya tak membaik. Inggris kemudian tumbang 2-1 oleh Selandia Baru.
Kekalahan dari Black Caps itu menjadi catatan getir karena ini adalah kekalahan kandang Inggris dalam seri setidaknya tiga Test untuk pertama kalinya dalam 14 tahun. Pada momen yang sama, rangkaian masalah lain juga menonjol: insiden klub malam yang melibatkan Stokes dan Gus Atkinson, kemudian disusul keputusan Stokes untuk pensiun secara mendadak.
Kini, tim Test Inggris memasuki babak baru dengan kondisi yang berbeda: mereka belum memiliki pelatih kepala dan juga belum memiliki kapten. Seri berikutnya melawan Pakistan dijadwalkan dimulai pada 19 Agustus.
Harry Brook diperkirakan paling mungkin ditunjuk sebagai kapten Test, meskipun penetapan itu bisa bergantung pada siapa yang akhirnya mengisi kursi pelatih kepala.
Sejak 1999, Inggris hanya memiliki dua pelatih kepala Test yang berasal dari kalangan Inggris. Peter Moores pernah menjabat dua kali, sementara Chris Silverwood adalah pelatih pendahulu McCullum.
Calon pengganti di layar seleksi
Andy Flower disebut sebagai sosok yang menonjol untuk menggantikan McCullum. Ia pernah menjadi pelatih ketika Inggris meraih Ashes di Australia pada 2010-11, tetapi belum jelas apakah ia bisa dibujuk untuk meninggalkan dunia franchise.
Di antara opsi lokal, nama yang mungkin muncul termasuk pelatih Glamorgan Richard Dawson, atau Gareth Batty yang kini menangani Surrey. Sementara itu, Andrew Flintoff yang memimpin England Lions pernah menyatakan bahwa ia tidak ingin mengambil peran sebagai pelatih senior.
Untuk opsi dari Australia, Ryan Campbell yang tampil impresif bersama Durham menjadi kandidat yang dipantau. Ada pula Darren Lehmann, mantan pelatih Australia, yang saat ini menjadi pelatih kepala Northants.
White-ball tetap dijaga, termasuk momentum setelah seri lawan India
Sementara urusan Test memasuki masa transisi, tugas McCullum di white-ball tetap berjalan. Ia dapat melanjutkan fondasi perbaikan yang sudah dibuat tim limited-overs Inggris.
Berita Terkait
Kemenangan atas India pada Sabtu lalu mengantarkan Inggris meraih kemenangan 4-0 dalam seri T20 melawan juara dunia. Hasil itu sekaligus menempatkan Inggris di peringkat pertama dunia.
McCullum menggabungkan peran di Test dan white-ball pada 2024, dua tahun setelah kali pertama ia mengambil alih tim Test. Ketika ia mulai menjabat sebagai pelatih Test pada 2022, Inggris sempat menjalani periode hasil luar biasa.
Kolaborasi dengan Stokes—yang identik dengan gaya Bazball—membantu menghidupkan kembali tim yang sebelumnya hanya memenangkan satu dari 17 Test sebelumnya. Dengan pukulan yang agresif dan penuh keberanian, Inggris mencatat kemenangan-kemenangan penting atas Selandia Baru di Trent Bridge, India di Edgbaston, serta Pakistan di Rawalpindi yang menjadi awal perjalanan menuju kemenangan seri 3-0.
Secara keseluruhan, Inggris memenangkan 10 dari 11 Test pertama mereka di bawah kepemimpinan McCullum dan Stokes. Namun, setelah fase awal yang menjanjikan, performa kemudian berbalik: Inggris kalah 19 dan menang 17 dari total 38 Test berikutnya.
Dari perubahan cepat menuju kemunduran beruntun
Proses penurunan itu dimulai dengan kekalahan tipis satu run dari Selandia Baru di Wellington, setelah Inggris sempat menerapkan follow-on. Inggris lalu tertinggal 2-0 pada Ashes kandang 2023, sebelum akhirnya mampu menyamakan kedudukan menjadi 2-2.
Mereka bahkan punya peluang meraih urn tersebut, tetapi gangguan hujan membuat hampir dua hari penuh pada Test keempat di Old Trafford tersapu, sehingga kemenangan yang diincar tidak pernah menjadi kenyataan.
Tur India 2024 juga menjadi episode yang beragam: Inggris memulai dengan kemenangan terkenal di Hyderabad, namun kemudian merosot hingga kalah 4-1 dalam seri. Setelah kembali ke kandang, Stokes, McCullum, dan Key menargetkan Ashes tur 2025-26, termasuk upaya mengakhiri karier James Anderson yang merupakan pencetak wicket terbanyak sepanjang masa Inggris.
Inggris menyusun rencana untuk menekan Australia dengan kecepatan dan menyiapkan serangan yang sangat menantang untuk perjalanan itu—disebut sebagai yang paling “hostile” dalam lebih dari 50 tahun. Tetapi tur tersebut urung berjalan sesuai arah karena perencanaan yang dinilai tidak memadai, performa yang kurang meyakinkan, serta tuduhan terkait budaya minum.
Setelah hanya memainkan satu pertandingan pemanasan melawan Lions, Inggris sempat berada dalam posisi kuat pada Test pertama di Perth: mereka unggul 105 run dengan sembilan wicket tersisa tak lama setelah makan siang hari kedua. Namun, mereka kemudian mengalami keruntuhan yang mengejutkan dan akhirnya kalah sebelum hari itu berakhir, tanpa pernah kembali memulihkan ritme permainan.
Meskipun Inggris kemudian menang pada Test keempat di Melbourne—menjadi kemenangan pertama mereka di Australia dalam 14 tahun—catatan di tempat lain tetap dinilai buruk. Skuad yang dianggap tipis dibiarkan tidak siap menghadapi tuntutan tur semacam itu.
Rangkaian insiden di luar lapangan turut menambah tekanan
Di luar lapangan, reputasi tim turut terpengaruh oleh kebiasaan minum di ruang publik di Noosa, ketika pembuka Ben Duckett terekam sedang terlihat seperti dalam kondisi mabuk. Tekanan makin bertambah di akhir tur Ashes, saat Brook disebut terkena pukulan dari bouncer klub malam di Wellington, tepat pada malam sebelum pertandingan one-day international pada tur Selandia Baru yang mendahului perjalanan ke Australia.
Setelah mendapat dukungan untuk tetap berada di posisi mereka, McCullum dan Stokes mencoba menjauh dari rumor adanya retak yang disebut berkembang di Australia. Inggris juga menambah staf pendukung untuk membantu persiapan, serta menerapkan curfew tengah malam guna mencegah kontroversi lanjutan.
Masih ada momen optimisme ketika Inggris menang pada Test pertama musim panas kandang melawan Selandia Baru di Lord’s. Namun, insiden klub malam ketika Stokes sedang merayakan kemenangan itu justru memicu rangkaian peristiwa yang akhirnya meninggalkan Inggris dalam situasi penuh gejolak.
Kontrak McCullum di tim white-ball berjalan hingga akhir Piala Dunia 50-over di Afrika bagian selatan pada musim gugur tahun depan. Dengan perubahan ini, Inggris kini dituntut menemukan pelatih kepala Test yang mampu bekerja berdampingan dengan karakter McCullum yang besar dan pendekatan yang lebih santai.
Analisis: “It began with a bang, it ended with a bang”
Jonathan Agnew menilai keputusan itu terasa tidak sejalan dengan narasi yang sebelumnya dibangun. Ia menilai, “It began with a bang, it ended with a bang” dan mempertanyakan alasan pemecatan karena sebelumnya McCullum dipandang meninggalkan tim Test dalam kondisi baik serta siap mencapai tujuan-tujuan besar.
Agnew menilai faktor kedisiplinan menjadi titik berat yang membuat keputusan tersebut jatuh. Ia menyebut bahwa pembahasan tentang Ashes tak hanya terjadi di lapangan, tetapi juga menyebar ke isu-isu di luar lapangan, dan ia menduga hal itulah yang menjadi kekhawatiran utama Richard Gould.
Ia juga menilai citra permainan putra perlu dibenahi agar terlihat ada peningkatan disiplin dan kontrol yang lebih kuat terhadap permainan Inggris. Dalam spekulasi pengganti, ia menyatakan belum jelas siapa yang akan datang, namun ia merasa kandidat yang “longgar” seperti yang ia maksud tidak akan dipilih.
Agnew mengingat bahwa ketika McCullum dan Stokes mengambil alih, kriket Inggris berada dalam kondisi serius dan mereka melakukan revolusi yang membuat tim memenangkan 10 dari 11 Test pertama bersama. Ia kemudian menyatakan rasa ingin tahu mengenai siapa yang akhirnya ditunjuk, terutama karena menurutnya banyak figur papan atas lebih nyaman dengan franchise cricket yang memberi bayaran dan tidak memaksa mereka jauh dari rumah selama berbulan-bulan.
Menurut Agnew, pelatih Inggris berada di bawah sorotan yang ketat—sejalan dengan kapten tim.












