Pendidikan

Bunga Nyaris Putus Sekolah di Lereng Ijen, Berjanji Jadi Guru kepada Ipuk Banyuwangi

×

Bunga Nyaris Putus Sekolah di Lereng Ijen, Berjanji Jadi Guru kepada Ipuk Banyuwangi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Janji Bocah Putus Sekolah di Kaki Gunung Ijen ke Bupati Banyuwangi

jurnalistik.co.id – Di lereng kaki Gunung Ijen, angin bergerak pelan di antara pepohonan yang rapat. Di tempat yang jalan setapaknya berisi bebatuan dan menanjak, sebuah perkampungan menggantungkan akses harian pada jalur yang tidak mudah.

Di salah satu rumah di kawasan itu tinggal seorang anak bernama Bunga. Ia termasuk kelompok anak rentan putus sekolah, yang membutuhkan perhatian agar kesempatan belajar tidak berhenti di tengah jalan.

Bunga adalah salah satu dari ribuan anak di Banyuwangi yang masuk dalam skema bantuan pendidikan untuk mengentaskan risiko putus sekolah. Melalui program tersebut, pemerintah berupaya menjaga agar anak-anak tetap bisa melanjutkan pendidikan sesuai jenjang yang semestinya.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, datang langsung meninjau kondisi Bunga. Kunjungan dilakukan ke rumah anak tersebut sebagai bentuk pendampingan yang lebih dekat dan memahami akar persoalan yang dialami keluarga.

Di lokasi, sang bapak menyampaikan terima kasih. Pekerjaannya sehari-hari sebagai tour guide di Taman Wisata Alam Kawah Ijen menjadi bagian dari cerita tentang kondisi ekonomi keluarga yang tidak selalu stabil.

Bunga pada periode tertentu nyaris tidak dapat melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP. Kendala biaya menjadi alasan utama yang membuat kelanjutan sekolahnya berada di ambang keputusan.

Setelah bertemu Bunga, Ipuk mendorong anak itu agar tetap kuat mengejar cita-cita. Di hadapan bupati, Bunga menyatakan tekadnya untuk belajar dengan giat dan tidak menyerah.

“Janji ibu, Bunga ingin jadi guru,” ucapnya lirih sambil malu-malu. Mendengar janji itu, Ipuk langsung mengelus pelan pundak si bocah untuk memupuk semangat.

Ipuk menegaskan, pemerintah daerah memiliki komitmen agar hak setiap anak memperoleh pendidikan tetap terjaga. Menurutnya, tidak boleh ada anak yang kehilangan kesempatan belajar hanya karena persoalan yang dihadapi.

“Bagi kami, tidak boleh ada anak yang kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan apapun persoalannya. Setiap anak berhak mendapatkan haknya untuk bersekolah melalui berbagai skema bantuan,” kata Ipuk, Kamis (16/7/2026).

Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai bentuk dukungan. Bantuan perlengkapan sekolah dan uang saku menjadi salah satu langkah agar anak tidak tertahan di kebutuhan dasar.

Selain dukungan fisik, pemerintah juga menyiapkan pendidikan kesetaraan bagi anak yang membutuhkan jalur alternatif. Pendampingan juga diberikan bagi anak yang sempat putus sekolah agar bisa kembali duduk di bangku sekolah.

Rindu Bulan: Wajib belajar 12 tahun berbasis pendataan desa

Upaya tersebut dijalankan melalui Program Rintisan Desa Tuntas Wajib Belajar 12 Tahun, yang dikenal sebagai Rindu Bulan. Program ini menekankan kolaborasi berbasis desa dan kelurahan untuk mendata sekaligus mengembalikan Anak Tidak Sekolah (ATS) ke jalur pendidikan.

Jalur yang dimaksud dapat melalui sekolah formal maupun pendidikan kesetaraan, menyesuaikan kebutuhan masing-masing anak. Dengan pendekatan seperti itu, pendampingan diharapkan tidak berhenti pada sekadar mengarahkan, tetapi juga membantu proses agar anak benar-benar mampu melanjutkan.

Dalam pelaksanaannya, program melibatkan banyak pihak. Mulai dari desa/kelurahan, satuan pendidikan, Kementerian Agama, hingga Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, serta Baznas.

Ipuk menjelaskan cara kerja program dengan menekankan penyisiran dari wilayah terkecil. Ia menyebut langkah tersebut membuat penanganan lebih tepat sasaran karena penyebab putus sekolah tidak selalu sama.

“Penyisiran kami lakukan dari lingkup desa. Kalau kita kunci dari wilayah terkecil, penanganannya akan lebih tepat sasaran karena penyebab anak putus sekolah berbeda-beda sehingga bentuk bantuannya juga harus disesuaikan,” kata Ipuk.

Program ini telah berjalan sejak diluncurkan pada 2023. Ipuk menyebut, Rindu Bulan berhasil mengembalikan 3.259 Anak Tidak Sekolah (ATS) ke bangku pendidikan.

Lebih dari sekadar memulangkan anak ke sekolah, pemerintah juga meneruskan pendampingan. “Tidak sekadar mengembalikan mereka ke sekolah, kami juga terus mendampingi, baik dari sisi prestasi maupun kebutuhan pendidikannya hingga lulus,” kata Ipuk.

Dalam kegiatan pendampingan, Ipuk menuturkan bahwa kunjungan ke rumah anak juga dilakukan secara rutin. Anak-anak yang teridentifikasi berisiko putus sekolah didatangi untuk diberi motivasi, sekaligus melibatkan keluarga agar ada dukungan dari lingkungan terdekat.

Dengan cara itu, pemerintah berharap anak-anak tidak hanya kembali masuk kelas, tetapi juga bertahan hingga menyelesaikan proses belajar. Harapan tersebut sejalan dengan tujuan memutus rantai masalah yang membuat keluarga kesulitan bertahan di jalur pendidikan.

“Dengan kolaborasi banyak pihak, kami berharap semakin banyak anak Banyuwangi yang bisa menyelesaikan pendidikannya. Pendidikan merupakan salah satu kunci memutus rantai kemiskinan,” tandasnya.

Di sisi Bunga, momen pertemuan dengan Ipuk menjadi titik tumpu bagi keyakinan bahwa pendidikan masih mungkin digenggam. Janji untuk belajar dengan giat membawa harapan baru, sekaligus menegaskan bahwa dukungan yang tepat dapat mengubah arah masa depan seorang anak.