jurnalistik.co.id – Pada Jumat, tepat enam bulan setelah Nancy Guthrie diculik, pihak kepolisian merilis dua catatan tebusan dengan harapan bahasa yang tertulis di dalamnya dapat membantu mengidentifikasi pelaku penculikan.
Guthrie, ibu dari pembawa berita AS Savannah Guthrie, berusia 84 tahun saat dinyatakan hilang dari rumahnya di Arizona pada Januari. Kasus yang memicu penyelidikan panjang itu selama ini belum menghasilkan banyak petunjuk yang jelas, termasuk jumlah tersangka yang terbatas.
Petunjuk dari catatan tebusan yang “singkat, tapi khas”
Catatan pertama—yang oleh aparat diperlakukan sebagai dokumen yang tampak kredibel—meminta uang tebusan dalam jumlah “jutaan” dolar dalam bentuk Bitcoin. Catatan kedua justru menyatakan Guthrie meninggal tak lama setelah ia dibawa pergi.
Meskipun isi dua catatan itu terlihat sederhana, polisi menilai penulisnya mungkin meninggalkan jejak linguistik yang bisa dikenali. Pihak terkait mengutip pernyataan Sheriff Chris Nanos dari Pima County: “There are a number of pieces of information in these notes that just might jar someone to say ‘you know, I’ve heard that’.”
Untuk memahami potensi tersebut, BBC mewawancarai pakar linguistik forensik William Eggington. Ia menjelaskan bahwa setiap orang memiliki pola bahasa yang khas, yang ia sebut idiolect, atau “word print” yang membedakan cara seseorang menulis dibanding yang lain. Menurut Eggington, informasi penting dapat disarikan dari beberapa kalimat pendek saja.
Namun, ia juga menekankan perlunya kehati-hatian ilmiah. “It’s built upon the premise that we each carry an idiolect, or a word print, of our own that distinguishes our language from others,” katanya. Di saat yang sama, ia menilai investigasi tetap harus “scientific scepticism”, apalagi karena catatan tebusan yang dianalisis hanya berisi sedikit kata. Penulis juga bisa berupaya menyamarkan gaya penulisannya agar sulit dikenali.
Gaya penulisan pada catatan pertama
Catatan pertama, yang dikirim ke stasiun televisi lokal pada 2 Februari, diawali dengan kalimat: “Hello Savannah, we have your mother Nancy. She is safe but scared. She will be held for ransom and once payment is received she will be released unharmed.” Dalam catatan ini, penggunaan struktur kalimat pasif serta pola “if-then” dinilai mengisyaratkan tingkat pendidikan minimal setara sekolah menengah, bahkan mungkin paparan pendidikan tingkat universitas.
Di bagian berikutnya, catatan menyertakan tenggat dan konsekuensi: “Once payment is received to the bitcoin address below she will be released within 12 hours of deposit to a safe drop off location back in Tucson. If payment is not recieved [sic] by the last deadline on Monday the 9th at 5PM, she will be killed.”
Eggington menyoroti adanya variasi ejaan pada kata “received”. Ia menyebut bahwa penulis sempat menuliskannya dengan benar, tetapi kemudian melakukan kesalahan ejaan menjadi “recieved”. Bagi Eggington, itu bisa berarti penulis tidak begitu teliti pada ejaan kata tersebut, atau tidak melakukan penyuntingan lebih dekat setelah menuliskannya.
Isi catatan kedua dan pilihan diksi
Berita Terkait
Empat hari setelah catatan pertama, yakni pada 6 Februari, catatan kedua diterima dari stasiun televisi lokal di Tucson. Isi diawali dengan alamat “Guthrie Family”, lalu menyatakan: “Guthrie Family, we did not fully grasp the seriousness of her physical condition. We never intended to hurt her, that was not our intention.”
Setelah itu, catatan berlanjut pada klaim kematian: “She perished shortly after she was taken. We believe it was heart related. She is buried in nature now.” Eggington menilai, dari kalimat-kalimat tersebut penulis melakukan “dehumanising Nancy by talking about her in the third person” dan bahkan “putting the blame for her death on her”. Ia juga mencatat bahwa klaim “perished” menunjukkan penulis tidak menerima tanggung jawab atas kejadian tersebut.
Eggington juga menyinggung frasa khas “buried in nature” yang muncul dalam catatan. Ia menambahkan bahwa bagian tersebut memuat bahasa yang terdengar seperti gaya akademik dan mungkin tidak sepenuhnya mencerminkan bahasa alami penulis, karena bisa jadi penulis sengaja menulis secara kaku sebagai cara untuk menyamarkan suara aslinya.
Pihak setempat sendiri menyatakan belum bisa memverifikasi klaim kematian Guthrie. Akan tetapi, menurut Eggington, perbedaan pilihan kata dan cara penyampaian tetap bisa menjadi bagian dari pola yang dicari dalam penyelidikan.
Mengapa dua catatan diduga berasal dari orang yang sama
Eggington meyakini bahwa catatan pertama dan kedua kemungkinan besar ditulis oleh orang yang sama. Ia menilai hal itu terutama berdasarkan gaya penulisan serta kebiasaan pengulangan dalam kedua catatan: penggunaan koma yang berulang untuk memisahkan gagasan yang seharusnya merupakan dua kalimat.
Dalam tahap penyelidikan, detail-detail kecil seperti ini bisa digunakan untuk membangun profil penulis. Saat ada tersangka yang ditemukan—baik dari profil yang dibangun maupun dari informasi publik—penyelidik dapat membandingkan tulisan yang diketahui dengan catatan tebusan yang dirilis.
Harapan keluarga, tetapi tantangan identifikasi
Meski harapan itu ada, Prof Jeffrey Adler memperingatkan bahwa setelah enam bulan berlalu, kemungkinan tersangka teridentifikasi hanya dari dua catatan tersebut terasa “a stretch”. Ia menambahkan bahwa penculikan bukan kejahatan yang umum. Adler juga mencatat bahwa dalam banyak kasus, penculikan melibatkan konflik keluarga terkait perebutan hak asuh anak.
Ia mengingat kasus-kasus profil tinggi di sejarah AS, seperti penculikan bayi Charles Lindbergh pada 1930-an dan penculikan putra Frank Sinatra pada 1960-an, yang umumnya memiliki motif jelas untuk mengekstraksi uang tebusan. Meski demikian, Adler menegaskan, bukan hal baru jika tersangka justru ditemukan berkat identifikasi dari tulisannya.
Ia mencontohkan penanganan manifesto Theodore Kaczynski yang dikenal sebagai Unabomber pada 1996. Saat otoritas memutuskan memublikasikannya, yang kemudian maju mengenali penulis adalah saudaranya sendiri.
Dalam kasus Nancy Guthrie, polisi menyatakan mereka telah berbicara dengan pihak keluarga sebelum catatan tebusan itu dirilis. Tidak lama setelah rilis tersebut, Savannah Guthrie menyampaikan harapan agar catatan itu mendorong siapa pun yang mengetahui sesuatu untuk maju. Ia mengatakan: “We are desperate. We need someone to come forward. Someone knows something. “Someone suspects something. Someone recognises the writing in the ransom demand notes.”












