Hukum & Kriminal

Cerita Eks Sopir: Diperintah Bupati Gowa Mengintai Pria Lain Hampir Tiap Hari

×

Cerita Eks Sopir: Diperintah Bupati Gowa Mengintai Pria Lain Hampir Tiap Hari

Sebarkan artikel ini

jurnalistik.co.id – Mantan sopir Bupati Gowa, Sitti Husniah Talenrang, Wahyu Akbar mengungkapkan pengalamannya selama bekerja dan menyebut dirinya pernah diperintahkan memantau, bahkan mencari keberadaan Muhammad Basri alias Basri Kajang alias Om Bas alias BK. Ia menyampaikan hal itu dalam sidang Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket DPRD Gowa.

Dalam persidangan yang digelar pada Rabu (24/6/2026), Wahyu mengatakan anggota Pansus menggali informasi mengenai hubungan Husniah dengan Basri Kajang. Kesaksian Wahyu kemudian menjadi salah satu cerita yang menurutnya paling membekas selama mendampingi atasannya.

Wahyu menyebut bahwa ia beberapa kali mendapatkan tugas untuk memantau aktivitas BK jauh sebelum Husniah menjabat sebagai Bupati Gowa. Ia lalu menjelaskan bahwa setelah menerima arahan tersebut, ia mendatangi rumah BK hampir setiap hari, termasuk pada malam hari, demi memastikan apakah pria yang disebut-sebut memiliki kedekatan dengan Husniah itu berada di rumah.

Ia menuturkan bahwa perintah itu datang langsung dari Husniah. Wahyu mengatakan, beliau pernah menyampaikan kepadanya, “Wahyu, kau cek dulu ada tidak orangnya di rumahnya”.

Menurut Wahyu, instruksi tersebut ia jalankan dengan intensitas yang hampir tak memberi jeda. “Hampir setiap hari, bahkan malam pun saya pergi ke rumahnya cek ini orang. BK di mana,” katanya dalam persidangan.

Wahyu menjelaskan mulai bekerja sebagai sopir Husniah sejak tahun 2019, ketika atasannya masih menjabat sebagai anggota DPRD Gowa. Ia menambahkan bahwa pekerjaannya tidak hanya sebatas mengantar Husniah menghadiri berbagai agenda, melainkan juga menjalankan sejumlah tugas lain sesuai perintah yang ia terima.

Dalam salah satu kejadian yang ia ingat, Wahyu mengaku diminta untuk mengawasi rumah BK hingga ia melapor ketika pria tersebut telah tiba di kediamannya. Ia menceritakan momen itu dengan menyampaikan, “Saya bilang sama ibu, ‘Ibu, BK sudah ada di rumahnya’.”

Wahyu kemudian melanjutkan laporannya. Ia mengaku melihat istri BK meninggalkan rumah bersama anaknya menggunakan sepeda motor, lalu informasi tersebut ia sampaikan kembali kepada Husniah.

“Saya lapor lagi sama ibu, ‘Bu, istrinya keluar’,” ujar Wahyu.

Setelah menerima laporan itu, Wahyu mengatakan ia kembali mendapat perintah. Ia mengaku diperintahkan masuk ke rumah BK untuk menyampaikan pesan dari Husniah.

Wahyu menuturkan bahwa ia masuk ke rumah BK dengan berjalan kaki dan kemudian membisikkan pesan tersebut. Ia mengisahkan, “Saya masuklah ke rumahnya jalan kaki. Saya bisiki dia, ‘Om Bas, ibu ada menunggu di sebelah, tidak mau pulang kalau tidak ketemu ki’.”

Kesaksian Wahyu tersebut, menurut alur ceritanya, menggambarkan pola komunikasi dan tugas yang ia terima dalam periode tertentu selama bekerja. Ia menyampaikan bahwa semua aktivitas pemantauan dan pelaporan dilakukan dalam upayanya memastikan keberadaan BK di rumah.

Wahyu juga menegaskan bahwa tugas itu bukan hanya sekali atau sesekali, melainkan terjadi berulang. Ia kembali menekankan bahwa perintah untuk memeriksa keberadaan orang di rumah dilakukan hampir setiap hari, bahkan pada malam hari.

Di hadapan sidang Pansus Hak Angket DPRD Gowa, Wahyu menyampaikan bahwa ia menjalankan peran sebagai sopir dan juga sebagai pihak yang ditugaskan untuk memantau. Dalam cerita yang ia sampaikan, hubungan Husniah dengan Basri Kajang menjadi pokok yang diperdalam melalui keterangan para saksi.

Melalui pengakuannya, Wahyu merinci tahapan yang ia lakukan: mendatangi rumah BK, memastikan apakah pria itu berada di kediamannya, melaporkan kabar yang ia dapatkan, lalu, ketika diperintahkan, menyampaikan pesan Husniah langsung kepada Om Bas.

Dengan kesaksian tersebut, Wahyu memperlihatkan bahwa tugas yang ia terima melibatkan pemantauan lokasi dan penyampaian informasi, termasuk pengamatan saat istri BK keluar bersama anaknya. Rangkaian ceritanya kemudian menutup pada momen ketika ia diminta masuk dan menyampaikan pesan.

Dalam persidangan, rincian ini turut memperkuat fokus Pansus terhadap penggalian informasi mengenai hubungan Husniah dengan Basri Kajang, sesuai yang ia sampaikan saat ditanya dan menggambarkan pengalaman pribadinya selama bekerja mendampingi atasannya.