jurnalistik.co.id – BENER MERIAH — Wajah Hadri Suharman tampak semringah saat memberi pakan kerbau-kerbau dagangannya. Menjelang Idul Adha tahun ini, peternak asal Kampung Tingkem Bersatu, Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah, itu kebanjiran pesanan hewan kurban.
Tahun ini, Hadri sudah berhasil menjual 16 kerbau. Jumlah itu lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang hanya mencapai 9 ekor.
“Alhamdulillah tahun ini ada peningkatan, luar biasa semangat berkurban masyarakat di sini tahun ini, kendatipun baru saja diterpa bencana banjir dan longsor,” kata Hadri saat Kompas.com berkunjung ke peternakan kerbaunya, Senin (25/5/2026).
Peternak kerbau andal yang belajar sejak kecil
Hadri bukan peternak baru. Ia mulai menekuni ternak kerbau sejak usia belia, mengikuti jejak ayahnya yang juga berprofesi sama. Dari lingkungan keluarga itulah ia belajar mengenal karakter kerbau dan cara merawatnya.
Menurut Hadri, beternak kerbau menuntut kesabaran dan ketelatenan. Ia menyebut keberhasilan beternak hewan, khususnya kerbau, sangat bergantung pada ketekunan dalam merawatnya dari hari ke hari.
“Beternak kerbau lumayan menantang, tidak seperti sapi, kerbau butuh kubangan,” ucapnya. Hal sederhana seperti itu, katanya, menjadi salah satu alasan mengapa tidak semua orang bertahan memelihara kerbau.
Di wilayah itu, jumlah peternak kerbau perlahan berkurang. Sebagian warga memilih beralih ke sapi atau kambing karena menilai perawatannya lebih sederhana dibandingkan kerbau.
Dulu simbol kejayaan peternak Gayo
Bagi Hadri, masa keemasan ternak kerbau di Dataran Tinggi Gayo, Aceh, terjadi pada era 80-an. Pada masa itu, para peternak kerbau disebut bisa memiliki ternak hingga ratusan ekor.
Kerbau-kerbau milik tiap pengembala ditempatkan di satu lokasi khusus yang disebut Peruweren. Lokasi itu disebut sangat luas, bahkan bisa mencapai puluhan hektar.
Gambaran tersebut menunjukkan betapa pentingnya kerbau dalam kehidupan masyarakat Gayo pada masa itu. Kerbau bukan hanya ternak, tetapi juga bagian dari kejayaan para peternak di wilayah dataran tinggi tersebut.
Namun, keadaan kini mulai berubah. Hadri melihat, perlahan jumlah peternak yang mau dan mampu mempertahankan usaha ternak kerbau semakin sedikit. Tantangan merawat kerbau yang lebih rumit membuat sebagian orang memilih jalan lain.
Di tengah perubahan itu, Hadri tetap bertahan. Ia masih menyediakan hewan kurban setiap tahun dan tetap memelihara kerbau sebagai usaha yang sudah lama ia tekuni bersama keluarganya.
Musim kurban tahun ini menjadi bukti bahwa permintaan terhadap kerbau masih ada. Meski daerahnya baru diterpa banjir dan longsor, masyarakat setempat tetap menunjukkan semangat berkurban, dan Hadri menjadi salah satu peternak yang ikut merasakan dampaknya.
Di peternakannya, kerbau-kerbau yang ia pelihara bukan sekadar komoditas dagang. Bagi Hadri, hewan-hewan itu juga menjadi penanda bahwa tradisi beternak kerbau di Gayo belum sepenuhnya hilang, meski langkahnya kini terasa makin tergerus zaman.
Di satu sisi, penjualan 16 ekor kerbau menjelang Idul Adha memberi kabar baik bagi Hadri. Di sisi lain, cerita tentang menurunnya jumlah peternak dan berubahnya pilihan warga menunjukkan bahwa kejayaan kerbau Gayo tengah menghadapi tantangan baru.
Hadri masih bertahan di jalannya. Dari kandang di Kampung Tingkem Bersatu, ia menjaga tradisi yang diwariskan ayahnya, sambil berharap kerbau Gayo tetap punya tempat di tengah perubahan zaman yang terus bergerak.
Meski kebutuhan merawat kerbau tidak ringan, Hadri melihat pekerjaan itu tetap punya arti besar bagi keluarganya dan bagi tradisi yang sudah lama hidup di kampungnya. Ia percaya, selama masih ada orang yang membutuhkan hewan kurban dan masih ada peternak yang tekun menjaga kualitas ternaknya, usaha kerbau tetap memiliki peluang untuk bertahan.
Bagi Hadri, peningkatan penjualan tahun ini menjadi penguat semangat di tengah situasi yang tidak selalu mudah. Ia pun berharap minat masyarakat terhadap kerbau tidak ikut surut, agar jejak peternakan yang pernah begitu kuat di Gayo tidak benar-benar lenyap oleh perubahan zaman.











