jurnalistik.co.id – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyalurkan dukungan alat kesehatan senilai Rp1,5 miliar untuk membantu pemulihan sarana dan prasarana layanan kesehatan pascabencana banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Penyaluran bantuan itu dilakukan untuk mempercepat pemulihan layanan kesehatan dasar di puskesmas yang terdampak banjir. Kemenkes menekankan bahwa kebutuhan alat kesehatan yang mendesak menjadi prioritas agar layanan dapat kembali berjalan.
Direktur Surveilans dan Kekarantinaan Kesehatan Kemenkes, Sumarjaya, menyampaikan bahwa bantuan mencakup berbagai perangkat yang diperlukan puskesmas. Rangkaian alat yang disebutkan mencakup tensimeter, antropometri kit, sterilisator kering, tempat tidur tiga engkol, stetoskop dewasa, alat fogging, hingga dental unit.
“Memang kebutuhan memang mendasar untuk Puskesmas yang terdampak. Dan, prioritas pertama itu kan memang dental unit,” kata Sumarjaya saat ditemui di Kementerian Kesehatan, Kamis (25/6/2026).
Menurut Sumarjaya, penyaluran dukungan tersebut ditujukan untuk mempercepat pemulihan layanan kesehatan dasar. Bantuan diharapkan membantu pemulihan sarana-prasarana kesehatan pascabencana di wilayah terdampak, terutama pada pelayanan di puskesmas.
“Tujuannya untuk mendukung pemulihan, pemulihan sarana-prasarana kesehatan pascabencana di Sumatera, di pelayanan kesehatan dasar di puskesmas,” ujarnya.
Asal donasi dan mekanisme penggalangan dana
Di sisi lain, Perwakilan donatur Pemuda Sumatera Utara, Bara Krishna Hasibuan, menjelaskan bahwa donasi Rp1,5 miliar berasal dari hasil penggalangan dana melalui kegiatan charity running “Care for Sumut Running” yang digelar pada awal Februari 2026.
Bara menyebutkan kegiatan tersebut berhasil menghimpun dana sekitar Rp5,5 miliar. Ia mengatakan pendanaan dikumpulkan dari biaya pendaftaran peserta, sponsorship, charity dinner, serta sumbangan dari berbagai donatur.
Menurut Bara, pihaknya memilih menyalurkan bantuan melalui Kementerian Kesehatan. Alasan yang disampaikan adalah Kemenkes dinilai memiliki pengalaman serta jaringan yang kuat dalam penanganan bencana.
“Dan 1,5 miliar kami sepakat untuk menyalurkannya melalui program yang sudah diadakan di Kementerian Kesehatan ini. Kami sepakat bekerja sama dengan institusi yang memang sudah mempunyai network, sudah mempunyai pengalaman dalam menyalurkan bantuan,” kata Bara setelah penyerahan donasi.
Bara menambahkan bahwa selain alat kesehatan yang disalurkan, sisa dana yang terkumpul akan didistribusikan melalui Dharma Wanita Kementerian Kesehatan.
Upaya pendanaan rehabilitasi fasilitas kesehatan
Pada kesempatan yang sama, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa pemerintah juga terus mengupayakan pendanaan rehabilitasi fasilitas kesehatan pascabencana. Ia menyebutkan usulan pendanaan untuk rumah sakit sudah memperoleh persetujuan dalam kisaran Rp100 miliar.
“Jadi kita dari 200-an ya kita usulkan sudah disetujui sekitar Rp100 miliar untuk rumah sakit. Nah yang puskesmas-puskesmas belum karena kelengkapannya sedang kita kejar,” kata Budi Gunadi Sadikin.
Ia mengatakan masih ada kebutuhan kelengkapan terkait puskesmas yang sedang dikejar. Budi berharap usulan anggaran rehabilitasi untuk puskesmas di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dapat segera disetujui.
Penyaluran donasi alat kesehatan senilai Rp1,5 miliar itu, dengan demikian, menjadi salah satu langkah untuk menjembatani kebutuhan pemulihan layanan. Daftar alat yang disampaikan Kemenkes juga menunjukkan fokus pada perangkat layanan dasar, termasuk kebutuhan pemeriksaan vital dan penunjang layanan puskesmas, serta dukungan khusus melalui dental unit.
Dengan adanya bantuan tersebut, Kemenkes menargetkan agar puskesmas yang terdampak banjir dapat lebih cepat kembali menjalankan layanan kesehatan dasar. Di saat yang sama, pemerintah terus mendorong kelanjutan pendanaan rehabilitasi agar pemulihan fasilitas kesehatan berlangsung menyeluruh sesuai usulan yang diajukan.
Penekanan prioritas pada peralatan medis dasar juga tampak dari jenis bantuan yang disebutkan. Selain mendukung pemeriksaan dan pemantauan layanan, perangkat seperti tensimeter, antropometri kit, serta stetoskop dewasa diperlukan agar aktivitas pemeriksaan di puskesmas dapat kembali berjalan dengan lebih cepat. Di saat yang sama, sterilisator kering dan tempat tidur tiga engkol membantu kesiapan layanan bagi kebutuhan perawatan, sementara alat fogging mendukung upaya penanganan situasi pascabencana.
Dukungan yang berasal dari penggalangan dana pun diarahkan agar tepat guna. Bara Krishna Hasibuan menjelaskan bahwa donasi Rp1,5 miliar merupakan bagian dari hasil kegiatan charity running “Care for Sumut Running” pada awal Februari 2026 yang mengumpulkan sekitar Rp5,5 miliar. Dana tersebut dihimpun dari biaya pendaftaran peserta, sponsorship, charity dinner, serta sumbangan berbagai donatur. Pemilihan penyaluran melalui Kementerian Kesehatan dilakukan karena dinilai memiliki pengalaman dan jaringan kuat dalam penanganan bencana, sedangkan sisa dana akan didistribusikan melalui Dharma Wanita Kementerian Kesehatan.
Sementara itu, upaya pemulihan juga terus dijalankan lewat jalur pendanaan rehabilitasi fasilitas kesehatan. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa usulan pendanaan untuk rumah sakit telah memperoleh persetujuan di kisaran Rp100 miliar, sedangkan untuk puskesmas masih dalam proses pengejaran karena kelengkapan yang tengah dilengkapi. Dengan demikian, penyaluran bantuan alat kesehatan senilai Rp1,5 miliar dapat dipahami sebagai langkah lanjutan yang menjembatani kebutuhan pemulihan layanan, hingga usulan rehabilitasi puskesmas di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dapat segera disetujui.












