Bisnis & Ekonomi

Dana Darurat Tetap Penting bagi Lansia di Era Aging Population

2
×

Dana Darurat Tetap Penting bagi Lansia di Era Aging Population

Sebarkan artikel ini
Mengapa Dana Darurat Penting bagi Lansia di Era Aging Population? Money 3 Juni 2026
Ilustrasi: Mengapa Dana Darurat Penting bagi Lansia di Era Aging Population?

jurnalistik.co.id – JAKARTA — Indonesia resmi memasuki fase aging population atau penuaan penduduk. Situasi ini menandai perubahan struktur demografi yang tidak lagi bisa dipandang sekadar sebagai tren statistik, tetapi juga sebagai sinyal bahwa kebutuhan perencanaan keuangan masyarakat, terutama lansia dan pensiunan, harus semakin diperhatikan.

Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan persentase penduduk lanjut usia atau lansia telah mencapai 11,97 persen dari total penduduk Indonesia. Angka itu sudah melewati ambang 10 persen, yang menjadi indikator suatu negara memasuki fase penuaan penduduk.

Data BPS juga memperlihatkan bahwa kenaikan jumlah lansia berlangsung konsisten dalam lebih dari satu dekade terakhir. Persentasenya tercatat 7,59 persen pada 2010, lalu naik menjadi 8,47 persen pada 2015, bertambah lagi menjadi 9,93 persen pada 2020, dan akhirnya mencapai 11,97 persen pada 2025. Tren tersebut menunjukkan bahwa Indonesia bergerak semakin jauh ke arah struktur penduduk yang menua.

Perubahan demografi ini membawa konsekuensi ekonomi yang tidak kecil. Salah satunya adalah kebutuhan akan perencanaan keuangan yang lebih matang ketika seseorang memasuki masa pensiun. Dalam konteks inilah dana darurat tetap menjadi instrumen yang dianggap penting, terutama bagi kelompok lansia dan pensiunan yang umumnya tidak lagi memiliki penghasilan aktif secara rutin.

Dikutip dari Investopedia, dana darurat tetap merupakan kebutuhan penting meski seseorang sudah memasuki masa pensiun. Pandangan ini menegaskan bahwa berhenti bekerja tidak berarti risiko keuangan ikut hilang. Justru pada fase pensiun, banyak risiko yang tetap muncul dan bisa berdampak langsung pada kestabilan keuangan seseorang.

Risiko keuangan tidak berhenti saat pensiun

Masih banyak orang yang mengira dana darurat hanya relevan ketika seseorang masih berada di usia produktif dan menerima gaji bulanan. Padahal, dalam masa pensiun, sumber pendapatan cenderung lebih terbatas dan bersifat tetap. Karena itu, setiap pengeluaran yang tidak direncanakan bisa terasa lebih berat dibanding saat seseorang masih bekerja.

Di saat yang sama, kebutuhan tak terduga tetap dapat muncul kapan saja. Kerusakan rumah, perbaikan kendaraan, hingga pengeluaran kesehatan yang tidak direncanakan merupakan contoh biaya yang bisa datang tanpa peringatan. Kondisi seperti ini membuat dana darurat berfungsi sebagai bantalan keuangan agar pengeluaran mendadak tidak langsung mengganggu rencana keuangan jangka panjang.

Fungsi bantalan tersebut menjadi semakin penting ketika seseorang sudah tidak lagi memiliki fleksibilitas pendapatan seperti saat masih aktif bekerja. Tanpa dana darurat, pengeluaran mendadak berisiko mengganggu kebutuhan lain yang seharusnya sudah masuk dalam perencanaan pensiun. Dalam situasi itu, dana yang seharusnya dipakai untuk kebutuhan jangka panjang bisa ikut terpakai untuk menutup biaya yang sifatnya mendesak.

Menjaga investasi tetap utuh saat pasar melemah

Salah satu alasan utama mengapa dana darurat dinilai penting bagi pensiunan adalah untuk menghindari pencairan investasi ketika kondisi pasar sedang melemah. Ketika ada kebutuhan mendadak, dana darurat dapat dipakai terlebih dahulu sehingga seseorang tidak perlu menjual aset atau investasi dalam kondisi yang kurang menguntungkan.

Langkah ini penting karena pencairan investasi saat pasar turun bisa berdampak pada nilai yang diterima. Dengan adanya dana darurat, pensiunan memiliki ruang untuk menunggu kondisi membaik tanpa harus mengambil keputusan keuangan yang terburu-buru. Pada tahap ini, dana darurat membantu menjaga agar rencana keuangan jangka panjang tidak terganggu oleh kebutuhan jangka pendek.

Kondisi tersebut juga menjadi semakin relevan seiring bertambahnya jumlah lansia di Indonesia. BPS menyebut tantangan yang muncul akibat penuaan penduduk mencakup berbagai aspek kehidupan. Artinya, kebutuhan akan perlindungan finansial tidak hanya menjadi urusan individu, tetapi juga bagian dari respons terhadap perubahan demografi nasional.

Dengan angka lansia yang terus meningkat dari 7,59 persen pada 2010 menjadi 11,97 persen pada 2025, keberadaan dana darurat bagi pensiunan semakin sulit untuk diabaikan. Dalam masa ketika pendapatan tidak lagi mengalir secara aktif dan kebutuhan tak terduga tetap bisa muncul, dana darurat menjadi salah satu penopang penting agar keuangan tetap lebih aman dan terkendali.