jurnalistik.co.id – Usia Tumina kini sudah 76 tahun, tetapi jarak yang dulu terasa biasa menjadi semakin menantang. Ia tinggal seorang diri di Dusun Krajan, Desa Sumberlesung, Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Sejak terjatuh dua bulan lalu, rutinitasnya untuk memeriksakan kesehatan berubah total. Perempuan itu harus berpikir dua kali setiap kali ingin ke puskesmas atau menemui dokter.
Di tengah keterbatasannya, Tumina hanya bisa menunggu harapan yang sederhana: suatu hari ada tenaga kesehatan yang datang memeriksanya di rumah. Bagi banyak lansia yang hidup sendiri, harapan seperti ini bukan sekadar keinginan, melainkan kebutuhan agar kondisi kesehatan tetap terpantau.
Tumina memiliki hipertensi, diabetes, dan asam urat yang telah ia derita sekitar 10 tahun. Ia juga pernah mengalami kadar gula darah hingga 300 miligram per desiliter.
Ketika tekanan darahnya naik, seluruh tubuhnya terasa nyeri. Penglihatannya pun mulai kabur, membuat kegiatan sehari-hari ikut terganggu.
Dalam kondisi seperti itu, akses layanan kesehatan tidak lagi hanya soal jarak tempuh. Ia juga bergantung pada bantuan orang lain untuk bisa sampai ke fasilitas yang menyediakan pemeriksaan.
Dulu, Tumina memiliki pola pemeriksaan yang cukup teratur. Setiap dua pekan sekali, ia rutin mengikuti senam lansia di Karang Werda di desanya, sekaligus memanfaatkan kesempatan untuk mengecek tekanan darah dan kondisi kesehatan secara gratis.
Namun, semua berubah setelah ia terjatuh. Tumina mengatakan, “Kalau dulu masih olahraga, asam uratnya tidak terasa. Sekarang sudah tidak bisa ikut sejak jatuh.”
Kalimat itu menggambarkan bagaimana perubahan kondisi fisik membuat kegiatan yang sebelumnya membantu kesehatan menjadi tak lagi mungkin. Setelah kejadian tersebut, ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, dengan aktivitas yang menyesuaikan kemampuan tubuhnya.
Selain penyakit kronis, faktor mobilitas menjadi penentu besar dalam keseharian Tumina. Untuk berobat, ia tidak selalu bisa langsung bergerak menuju fasilitas kesehatan tanpa pertolongan.
Tumina menjelaskan kebutuhannya dengan sangat gamblang: “Kalau sekarang ya manggil tetangga.” Pernyataan itu menunjukkan bahwa keputusan untuk mencari layanan medis kini terikat pada ketersediaan orang yang bisa membantu mengantarnya.
Berita Terkait
Meskipun ia memiliki kartu BPJS Kesehatan, Tumina mengaku tidak mengetahui apakah kepesertaannya masih aktif. Ketidakpastian tersebut menambah lapisan kekhawatiran ketika ia harus menentukan langkah pemeriksaan atau pengobatan.
Persoalan biaya juga muncul dari pengalaman setelah terjatuh. Saat menjalani perawatan di Rumah Sakit Daerah (RSD) Kalisat setelah kejadian tersebut, Tumina menyebut biaya pengobatan dibayar secara umum.
Dengan kondisi yang tidak lagi bisa diprediksi seperti sebelum terjatuh, pemeriksaan yang datang mendekat ke rumah menjadi lebih bermakna. Bagi Tumina, layanan kesehatan yang mengunjungi rumah bukan soal kenyamanan tambahan, melainkan mekanisme untuk menjaga kondisi tubuh tetap terpantau.
Gambaran yang dialami Tumina sejalan dengan situasi yang juga dialami lansia lain di Jember. Pada satu kesempatan, foto memperlihatkan Bugira (68), yang sudah tiga tahun menghadapi stroke.
Bugira tinggal bersama suaminya, Saniman alias Pak Nur, di rumah mereka di Padukuhan Dampikrejo, Dusun Baban Timur, Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Dalam rumah tangga seperti ini, pendampingan menjadi penentu utama karena kondisi fisik memerlukan pengawasan yang berkelanjutan.
Kisah Tumina dan Bugira menampilkan pola yang sama: akses layanan kesehatan sangat dipengaruhi oleh mobilitas, status tinggal sendiri atau dengan pendamping, serta kemampuan untuk berpindah tempat ketika sakit.
Di usia senja, pemeriksaan kesehatan yang mendatangi rumah menjadi pembeda. Ketika lansia sulit menjangkau puskesmas atau harus menunggu bantuan tetangga, setiap penundaan pemeriksaan berpotensi memperpanjang ketidaknyamanan akibat penyakit kronis.
Harapan Tumina tentang tenaga kesehatan yang datang ke rumah dengan demikian mencerminkan kebutuhan nyata di lapangan. Ia tidak meminta sesuatu yang berlebihan, melainkan layanan yang sesuai dengan kemampuan tubuhnya dan kondisi hidupnya saat ini.
Dengan latar hipertensi, diabetes, dan asam urat yang telah lama ia jalani, kebutuhan untuk memonitor kesehatan menjadi semakin mendesak. Gangguan penglihatan ketika tekanan darah naik, nyeri tubuh, serta riwayat gula darah hingga 300 miligram per desiliter menunjukkan bahwa pemeriksaan berkala tetap penting.
Pada akhirnya, kisah ini menggambarkan harapan ribuan lansia di Jember: agar layanan home care benar-benar hadir sebagai jalan untuk mendekatkan pemeriksaan ke rumah. Ketika tenaga kesehatan datang, lansia seperti Tumina tidak harus berulang kali berhadapan dengan hambatan mobilitas yang memberatkan.
Bagi Tumina, menunggu layanan yang datang dari luar rumah adalah cara untuk tetap menjaga kesehatannya tanpa harus selalu bergantung pada perjalanan yang kini terlalu sulit. Dan baginya, hari ketika dokter atau tenaga medis hadir di rumah bukan sekadar janji, melainkan perubahan yang menentukan kualitas hidup di sisa usia.












