Bisnis & Ekonomi

Rupiah Terkapar di Rp 17.926 per Dolar AS, Terlemah di Asia

0
×

Rupiah Terkapar di Rp 17.926 per Dolar AS, Terlemah di Asia

Sebarkan artikel ini
Rupiah Anjlok ke Level Rp 17.926 Per Dollar AS, Terlemah di Asia Money 3 Juni 2026
Ilustrasi: Rupiah Anjlok ke Level Rp 17.926 Per Dollar AS, Terlemah di Asia

jurnalistik.co.id – JAKARTA — Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada pembukaan perdagangan Rabu (3/6/2026). Berdasarkan data Bloomberg pukul 10.13 WIB, rupiah di pasar spot melemah 0,49 persen ke posisi Rp 17.926 per dollar AS.

Posisi tersebut membuat rupiah menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan Asia pada pagi ini. Di saat yang sama, mayoritas mata uang regional juga bergerak melemah terhadap dollar AS, meski besarnya penurunan tidak sedalam rupiah.

Setelah rupiah, pelemahan terbesar berikutnya tercatat pada ringgit Malaysia yang turun 0,25 persen. Adapun baht Thailand melemah 0,09 persen, yuan China turun 0,05 persen, dan peso Filipina terkoreksi 0,02 persen.

Di sisi lain, masih ada sejumlah mata uang Asia yang mampu bertahan di zona hijau terhadap dollar AS. Dollar Taiwan memimpin penguatan dengan kenaikan 0,12 persen. Disusul won Korea Selatan yang menguat 0,07 persen, yen Jepang naik 0,04 persen, sementara dollar Singapura dan dollar Hong Kong masing-masing menguat 0,02 persen dan 0,01 persen.

Pergerakan rupiah tersebut sejalan dengan kondisi indeks dollar AS atau DXY yang masih berada di level tinggi. Indeks yang mengukur pergerakan dollar terhadap sekeranjang mata uang utama dunia itu tercatat di level 99,20, sedikit lebih rendah dibandingkan penutupan hari sebelumnya di posisi 99,22.

Tekanan di pasar valuta asing itu juga beriringan dengan pelemahan pasar saham domestik. Pada awal perdagangan Rabu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ikut bergerak di zona merah dan mencatat koreksi yang cukup dalam sejak pembukaan.

Per pukul 09.58 WIB, IHSG terkoreksi 72,281 poin atau 1,17 persen ke level 6.123,145. Arah gerak indeks menunjukkan tekanan jual sudah dominan sejak perdagangan dibuka, sehingga indeks bergerak turun cukup cepat dari level awal.

IHSG dibuka di posisi 6.207,102. Setelah sempat menguat pada awal sesi, indeks juga sempat menyentuh level tertinggi hari itu di 6.213,801. Namun, tekanan jual kemudian mendorong indeks turun hingga mencapai area terendah 6.077,465.

Dengan kondisi tersebut, pasar keuangan domestik pada pagi itu memperlihatkan pelemahan yang serempak. Rupiah tertekan di pasar spot, sementara IHSG juga bergerak turun cukup tajam. Kombinasi dua indikator utama ini menandai awal perdagangan yang kurang bersahabat bagi aset keuangan Indonesia.

Data pergerakan mata uang Asia menunjukkan rupiah memang sedang berada di kelompok yang paling tertekan. Meski beberapa mata uang lain juga melemah, jarak pelemahan rupiah relatif lebih besar dibandingkan ringgit Malaysia, baht Thailand, yuan China, dan peso Filipina.

Di tengah masih adanya penguatan pada dolar Taiwan, won Korea Selatan, yen Jepang, dollar Singapura, dan dollar Hong Kong, rupiah justru bergerak sendiri di sisi yang paling lemah. Kondisi ini menempatkan mata uang Garuda sebagai sorotan utama pada awal perdagangan Rabu, baik di pasar regional maupun terhadap dollar AS.

Pergerakan rupiah dan IHSG pada jam-jam awal perdagangan itu menjadi gambaran bahwa pasar masih menghadapi tekanan pada sesi pembukaan. Rupiah berada di level Rp 17.926 per dollar AS, sementara IHSG turun ke 6.123,145 setelah sempat dibuka lebih tinggi pada pagi hari.

Kondisi itu menunjukkan bahwa pelemahan rupiah pagi ini bukan sekadar pergerakan kecil yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari tekanan pasar yang lebih luas. Namun, dibandingkan mata uang Asia lain, rupiah tetap terlihat paling rentan karena koreksinya paling dalam pada saat sebagian aset regional masih mampu bertahan.

Di saat rupiah tertekan, IHSG juga tidak menunjukkan perlawanan yang berarti dan justru bergerak searah di zona merah sejak awal sesi. Kombinasi pelemahan di pasar valas dan pasar saham ini mempertegas bahwa pembukaan perdagangan Rabu berlangsung dengan sentimen yang kurang mendukung bagi pasar keuangan domestik.