Daerah

Dapur MBG Libur, Harga Telur dan Daging Ayam di Pangandaran Turun

×

Dapur MBG Libur, Harga Telur dan Daging Ayam di Pangandaran Turun

Sebarkan artikel ini
Dapur MBG Libur, Harga Telur dan Daging Ayam di Pangandaran Turun Regional 26 Juni 2026
Ilustrasi: Dapur MBG Libur, Harga Telur dan Daging Ayam di Pangandaran Turun

jurnalistik.co.id – Harga sejumlah komoditas pangan di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, mengalami penurunan dalam sepekan terakhir. Penurunan itu dirasakan warga setelah operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak berjalan selama libur sekolah.

Komoditas yang paling terasa turun adalah telur ayam dan daging ayam broiler. Bagi konsumen maupun pelaku usaha rumahan, perubahan harga ini membantu menekan pengeluaran harian sekaligus biaya produksi.

Penurunan dipicu dapur MBG berhenti sementara

Warga menyebut harga mulai bergerak setelah dapur MBG tidak beroperasi selama masa libur sekolah. Pada periode ini, layanan SPPG dalam Program MBG berhenti sementara, sehingga pasokan dan kebutuhan di tingkat warung ikut berpengaruh.

Di tengah kondisi tersebut, telur ayam menjadi komoditas yang paling menonjol penurunannya. Setelah sempat mengalami kenaikan ketika kebutuhan pasokan meningkat, harga telur kemudian turun kembali.

Harga telur ayam turun hingga Rp22.500/kg

Harga telur ayam yang sebelumnya berada di kisaran Rp27.000 hingga Rp28.000 per kilogram kini turun menjadi Rp22.500 hingga Rp25.000 per kilogram di tingkat warung. Perubahan ini dirasakan langsung oleh warga yang membutuhkan telur untuk kebutuhan rumah tangga maupun produksi.

Pelaku usaha kue rumahan di Pangandaran, Mardiana (31), mengatakan dirinya terbantu dengan turunnya harga telur. Menurut dia, telur merupakan salah satu bahan utama yang cukup banyak digunakan untuk produksi kue.

“Alhamdulillah sekarang banyak yang jual lebih murah. Tadi saya beli telur Rp22,5 ribu per kilogram, di warung lain ada juga yang Rp25 ribu per kilogram,” ujar Mardiana kepada Tribun Jabar di rumahnya, Jumat (26/6/2026) sore.

Mardiana menyebut saat Program MBG masih berjalan, harga telur sempat mencapai Rp28.000 per kilogram. Dengan kondisi harga seperti sekarang, kebutuhan belanja untuk produksi kue ikut menjadi lebih ringan.

“Sekali belanja saya bisa tiga sampai lima kilogram untuk kebutuhan adonan tepung kue. Jadi ketika harga turun seperti sekarang cukup membantu,” katanya.

Ia menilai penurunan harga memberi ruang agar proses produksi tetap berjalan tanpa harus menekan kualitas atau mengurangi volume kebutuhan bahan. Dalam praktik harian, telur menjadi komponen yang dibeli dalam jumlah beberapa kilogram sekaligus agar adonan bisa diproses sesuai kebutuhan.

Daging ayam broiler ikut melemah harga

Selain telur, harga daging ayam broiler potong juga ikut turun. Harga daging ayam yang sebelumnya berada di atas Rp30.000 per kilogram di warung kini turun menjadi sekitar Rp25.000 per kilogram.

Warga Kecamatan Padaherang, Wiwi (41), mengatakan harga daging ayam saat ini lebih terjangkau dibanding beberapa pekan sebelumnya. Ia menyebut perubahan harga membuat warga lebih mudah menyesuaikan belanja rumah tangga.

“Daging ayam sekarang murah. Kemarin saya beli satu kilogram cuma Rp 25 ribu. Kalau beli kepala sama ceker cuma Rp 10 ribu per kilogram,” ucap Wiwi.

Menurut Wiwi, perbedaan harga tidak hanya terasa pada daging ayam potong, tetapi juga pada bagian lain seperti kepala dan ceker yang dapat dibeli dengan kisaran harga berbeda. Hal ini turut memengaruhi pilihan konsumen saat berbelanja.

Turunnya harga daging ayam kemudian menjadi perhatian warga karena terjadi berbarengan dengan berhentinya operasional dapur MBG selama libur sekolah. Kondisi ini membuat banyak pihak menilai pasokan dan kebutuhan bergerak sehingga harga di tingkat warung tidak lagi berada pada level sebelumnya.

Dampak ke warga dan biaya produksi rumahan

Penurunan harga telur dan daging ayam berdampak pada berbagai kebutuhan, mulai dari konsumsi harian sampai kebutuhan pelaku usaha rumahan. Bagi konsumen, harga yang lebih rendah membuat pengeluaran harian menjadi lebih terkendali.

Bagi pelaku usaha seperti Mardiana, perubahan harga memberi pengaruh langsung pada biaya produksi. Saat harga telur turun, belanja bahan baku dapat dilakukan dengan jumlah beberapa kilogram per kali belanja sehingga adonan bisa dipersiapkan untuk kebutuhan produksi.

Dengan operasional SPPG dalam Program MBG yang tidak berjalan selama libur sekolah, warga melihat perubahan harga berlangsung dalam waktu yang relatif berdekatan. Namun bagi mereka, yang paling penting adalah kondisi harga yang sekarang lebih terjangkau dan dapat membantu menyeimbangkan kebutuhan sehari-hari.

Sebagian artikel menyebutkan Program MBG libur seminggu dan harga telur serta daging ayam langsung anjlok. Di Pangandaran, penurunan tersebut tercermin dari kisaran harga telur yang turun hingga Rp22.500 per kilogram serta daging ayam broiler yang turun menjadi sekitar Rp25.000 per kilogram di tingkat warung.