Pendidikan

Di Bawah Flyover Tomang, Sekolah Gratis Ini Bertahan 17 Tahun: Kisah Kak Uli Mengajar Tanpa Pamrih

0
×

Di Bawah Flyover Tomang, Sekolah Gratis Ini Bertahan 17 Tahun: Kisah Kak Uli Mengajar Tanpa Pamrih

Sebarkan artikel ini
Di Bawah Flyover Tomang, Sekolah Gratis Ini Bertahan 17 Tahun: Kisah Kak Uli Mengajar Tanpa Pamrih News 14 Juni 2026
Ilustrasi: Di Bawah Flyover Tomang, Sekolah Gratis Ini Bertahan 17 Tahun: Kisah Kak Uli Mengajar Tanpa Pamrih

jurnalistik.co.id – Di bawah flyover Tomang, Jakarta Barat, hari Minggu sore rutin diisi oleh tawa anak-anak yang belajar sambil bermain. Di area taman tepat di bawah jalan layang, puluhan murid berkumpul dalam suasana yang berbeda dari kelas-kelas formal pada umumnya.

Di Sekolah Anak Mentari Indonesia, kegiatan berlangsung sebagai ruang kelas terbuka. Anak-anak tidak belajar di dalam gedung ber-AC, melainkan di lahan terbuka beralaskan tanah, di bawah naungan pohon-pohon besar yang rimbun. Kegiatan dimulai dengan berbaris, lalu menyanyikan lagu Indonesia Raya, sebelum mereka menyesuaikan diri ke cara belajar yang lebih dekat dengan lingkungan sekitar.

Setelah melepas sandal yang dikenakan, anak-anak duduk melingkar di atas terpal. Di tengah lingkaran itu, berbagai macam buku bacaan dihamparkan begitu saja untuk dipilih dan dibaca bersama para relawan. Pada bagian lain kegiatan, anak-anak yang lebih dewasa—mulai dari siswa SD dan SMP—berpindah tempat dan duduk berjejer di lahan miring yang tersusun dari bebatuan kali di samping jalan layang.

Di sesi untuk kelompok yang lebih besar, mereka berkumpul sambil membaca buku cerita, lalu menuliskan hasil bacaannya pada secarik kertas yang disediakan oleh para relawan. Proses sederhana itu memberi ruang bagi anak untuk terlibat langsung: memilih bacaan, membaca bersama, hingga merangkum kembali melalui tulisan.

Belajar gratis yang bertahan sejak 2009

Sekolah Anak Mentari Indonesia merupakan inisiatif sekolah gratis di kawasan pinggiran Jakarta yang dihidupi oleh seorang guru les privat bernama Uli Zainuddin (40), yang akrab disapa Kak Uli. Sejak tahun 2009, Kak Uli bersama komunitas Anak Mentari Indonesia mendedikasikan hari Minggu mereka untuk mengajar anak-anak secara sukarela.

Kak Uli menuturkan, gerakan ini berawal dari rutinitas berbagi makanan saat bulan Ramadhan. Saat itu, ia dan teman-temannya kerap membantu teman-teman pengamen dan tunawisma. Ia menjelaskan asal mula keterlibatannya dengan cara yang sederhana, sebagaimana ia sampaikan saat berbincang dengan Kompas.com di lokasi, Minggu (14/6/2026).

“Awalnya dari membantu teman-teman pengamen. Jadi memang mau berbagi makanan waktu bulan puasa kepada pemulung dan gelandangan. Bukan kita punya komunitas apa, enggak ada. Cuma senang bergaul dan berbagi,” tutur Uli saat berbincang di lokasi.

Di balik cerita awal itu, ada latar yang membuat Kak Uli peka pada kebutuhan pendidikan anak-anak. Ia berlatar belakang guru Taman Kanak-Kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD). Dari pengalaman itu, ia melihat realitas yang tidak bisa dianggap biasa: anak-anak para pemulung tidak memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan. Rasa terenyuh tersebut kemudian mendorongnya membuka ruang belajar.

“Akhirnya ya kami coba membuka pendidikan, supaya anak-anak pemulung itu, yang tinggal di kolong jembatan bisa belajar membaca dan berhitung,” ucap dia.

Perubahan sasaran setelah penertiban

Seiring berjalannya waktu, target pengajaran Kak Uli mengalami perubahan. Dalam cerita yang disampaikan, hingga saat ini tidak lagi ada pemulung-pemulung yang tinggal di kolong flyover Tomang setelah ditertibkan pemerintah. Situasi itu mengubah siapa yang kemudian menjadi murid di Sekolah Anak Mentari Indonesia.

Kini, para murid merupakan anak-anak yang membutuhkan bantuan pelajaran ekstra, tetapi tidak memiliki biaya. Mereka hadir dengan kebutuhan belajar yang lebih spesifik, sementara sekolah formal dengan tuntutan kurikulumnya berjalan cepat. Kak Uli menilai, kurikulum formal yang bergerak terlalu kencang dapat meninggalkan anak-anak dari keluarga prasejahtera jauh di belakang.

Pandangan tersebut muncul dari pengamatan langsung yang ia rasakan di kelas. Kak Uli menggambarkan kondisi anak-anak yang belum menguasai kemampuan dasar membaca. Ia menyoroti bahwa usia sekolah seharusnya sudah cukup untuk bisa membaca, namun kenyataannya berbeda.

“Saya ngelihat anak yang enggak tahu baca tuh kayaknya gemas banget . Umur sudah SD tuh seharusnya sudah bisa baca, karena kurikulum sekarang harus bisa membaca untuk menjawab pertanyaan panjang. Kenyataannya, anak-anak di pinggiran ini belum bisa baca,” keluh Uli.

Menurut Kak Uli, salah satu alasan sistem pembelajaran di sekolah negeri tidak berjalan optimal berkaitan dengan perbandingan jumlah guru dan murid. Ia menyebut bahwa idealnya, satu guru hanya memegang lima murid agar pembelajarannya maksimal. Dengan angka perbandingan yang ia nyatakan itu, ia ingin menekankan bahwa kebutuhan belajar anak-anak tidak bisa hanya ditangani dengan cara yang seragam, terutama ketika kemampuan dasar mereka masih tertinggal.

Di bawah flyover Tomang, kebutuhan tersebut dijawab dengan pola yang tetap berpegang pada inti kegiatan yang sama: anak-anak diberi kesempatan membaca bersama, merespons bacaan melalui tulisan, dan mengikuti proses belajar yang berlangsung dalam suasana terbuka dan bersahabat. Kak Uli dan komunitas Anak Mentari Indonesia tetap melanjutkan kelas sukarela hari Minggu, membiarkan ruang belajar tumbuh dari keterlibatan relawan, bukan dari biaya yang harus dibayar.

Bagi mereka, ketahanan hingga 17 tahun bukan sekadar durasi, tetapi konsistensi terhadap tujuan yang sama: menghadirkan kesempatan belajar bagi anak-anak yang membutuhkan bantuan, di tengah perubahan kondisi lingkungan di sekitar flyover Tomang. Dari awal gerakan yang dimulai saat bulan Ramadhan, hingga kelas yang kini menyasar anak-anak tanpa biaya untuk pelajaran ekstra, Sekolah Anak Mentari Indonesia terus menjaga ritme sederhana yang tetap hidup—berbaris, bernyanyi, membaca, lalu menulis hasil bacaan di secarik kertas.