jurnalistik.co.id – Di tengah menjamurnya minuman modern seperti kopi susu, boba, hingga minuman berkarbonasi, pedagang air nira keliling di Jakarta mulai kian sulit ditemui. Di balik pikulan bambu yang menjadi ciri khas, usaha ini membawa jejak panjang perdagangan tradisional yang selama puluhan tahun ikut menghidupkan ekonomi kerakyatan ibu kota.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (PPKUKM) Provinsi DKI Jakarta, Elisabeth Ratu Rante Allo, menilai pedagang air nira keliling merupakan bagian dari ekosistem UMKM Jakarta yang ikut mewarnai keragaman ekonomi kerakyatan di ibu kota. Ia menekankan bahwa usaha semacam ini tidak hanya menjadi sumber penghidupan, melainkan juga merepresentasikan kearifan lokal yang berlangsung secara turun-temurun serta masih memiliki pasar tersendiri.
Menurut Ratu, keberadaan usaha tradisional tetap memiliki daya tarik meski gaya hidup masyarakat perkotaan terus berubah. “Keberadaannya menunjukkan bahwa usaha tradisional masih memiliki daya tarik dan mampu beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat. Karena itu, pelaku usaha seperti ini juga menjadi bagian dari kelompok UMKM yang perlu mendapatkan dukungan dan pemberdayaan,” ujar Ratu saat dihubungi Kompas.com, Kamis (18/6/2026).
Untuk membantu pelaku usaha tradisional agar dapat bertahan sekaligus berkembang, Dinas PPKUKM menyediakan berbagai program pemberdayaan melalui Jakpreneur. Program tersebut mencakup pendampingan usaha, fasilitasi legalitas seperti Nomor Induk Berusaha (NIB), pelatihan peningkatan kapasitas usaha, akses pembiayaan, hingga perluasan pemasaran melalui promosi dan pameran UMKM.
Selain dukungan melalui Jakpreneur, Pemprov DKI Jakarta juga mendorong pelaku usaha tradisional meningkatkan kualitas produk, kemasan, serta standar kebersihan dan keamanan pangan. Dorongan ini diarahkan agar jangkauan pasar dapat makin luas, tanpa meninggalkan ciri khas yang menjadi pembeda bagi produk air nira keliling.
Ratu juga menegaskan bahwa modernisasi tidak seharusnya diposisikan sebagai ancaman bagi keberlangsungan usaha tradisional. Ia melihat perkembangan zaman justru perlu dimanfaatkan untuk membantu pelaku usaha berinovasi, meningkatkan kualitas layanan, menggunakan teknologi secara bertahap, serta memperluas akses pasar.
“Dengan demikian, usaha tradisional dapat tetap eksis, memiliki daya saing, serta diwariskan kepada generasi berikutnya,” kata dia.
Harapan tersebut tampak relevan dengan kondisi di lapangan, ketika pedagang keliling yang menawarkan air nira semakin sulit dicari. Di sisi lain, minuman tradisional ini menyimpan karakter yang khas baik dari sisi asal bahan maupun rasa yang dikenal menyegarkan.
Air nira merupakan cairan manis alami hasil sadapan mayang pohon palma, seperti aren, kelapa, atau siwalan. Secara tampilan, minuman ini umumnya berwarna bening hingga kekuningan, dengan cita rasa manis yang ringan dan memberi sensasi segar saat dinikmati.
Rasanya sering digambarkan mirip perpaduan air kelapa muda dan sari tebu, namun dengan sensasi yang lebih lembut serta aroma fermentasi alami yang tipis. Keunikan rasa inilah yang membuat air nira memiliki penggemar tersendiri di tengah pilihan minuman yang terus bertambah.
Di Jakarta, air nira biasanya dijual dalam gelas seharga sekitar Rp 7.000. Sementara itu, harga per liter berkisar Rp 9.500 hingga Rp 10.000, tergantung pemasok dan lokasi penjualan.
Dengan perubahan pola konsumsi yang terjadi seiring perkembangan tren minuman, keberlangsungan usaha air nira keliling menjadi semakin bergantung pada kemampuan beradaptasi. Dukungan pemberdayaan, perbaikan kualitas, hingga dorongan pemanfaatan teknologi secara bertahap menjadi sejumlah langkah yang disebut akan membantu pelaku usaha menjaga eksistensi sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas.
Dalam pandangan Ratu, usaha tradisional yang tetap relevan perlu diberi ruang untuk berkembang tanpa kehilangan akar budayanya. Upaya tersebut diharapkan membuat air nira keliling tidak hanya bertahan di tengah arus minuman modern, tetapi juga terus diwariskan dari waktu ke waktu.












