jurnalistik.co.id – Festival seni cahaya tahunan i Light Singapore kembali digelar di Marina Bay, Singapura, mulai Jumat (5/6/2026) hingga Minggu (28/6/2026). Acara yang diselenggarakan Urban Redevelopment Authority (URA) dan dipersembahkan UOB ini menghadirkan sejumlah instalasi seni cahaya interaktif yang mengajak pengunjung tidak hanya melihat, tetapi juga ikut bergerak dan terlibat.
Dengan mengusung tema “Movement” atau gerakan, i Light Singapore tahun ini menempatkan pengalaman fisik sebagai bagian dari cara menikmati karya. Setiap instalasi dirancang untuk berinteraksi bersama pengunjung melalui cahaya, teknologi, suara, serta mekanisme yang mendorong keterlibatan langsung.
Secara keseluruhan, festival menghadirkan 14 karya seni cahaya interaktif dari seniman lokal dan internasional. Karya-karya tersebut dipasang di berbagai titik di kawasan Marina Bay oleh 17 seniman serta kolektif kreatif yang berasal dari Asia, Eropa, dan Australia.
Jason Chen, Direktur Festival i Light Singapore 2026 sekaligus Director (Place Management) URA, menyampaikan harapannya agar festival ini dapat mengubah cara masyarakat memandang ruang kota. “Di balik spektakel visualnya, i Light Singapore memainkan peran penting dalam menjadikan Marina Bay sebagai destinasi yang hidup dan inklusif, tempat masyarakat dapat berinteraksi satu sama lain untuk menciptakan kenangan dan hubungan yang bermakna,” ujar Chen.
Warna, ilusi, dan gerak dalam instalasi
Salah satu instalasi yang menjadi sorotan adalah Arch Flower karya seniman asal Prancis Cyril Lancelin. Arch Flower dipamerkan di Raffles Place Park dan berbentuk lengkungan dengan warna merah muda dan hijau yang terinspirasi dari taman tropis Singapura.
Pada malam hari, pengunjung diajak berjalan di bawah struktur lengkungan yang menyala. Perjalanan tersebut menjadi cara karya bekerja: bukan sekadar tontonan, melainkan ruang yang menuntun orang bergerak sambil menikmati efek cahaya di sekeliling mereka.
Di Lower Boardwalk Marina Bay, terdapat karya berjudul Let’s Fish The Sun! yang dihadirkan seniman asal China Wentao Wang. Instalasi ini memungkinkan pengunjung memutar alat pancing untuk mengangkat replika matahari ke udara, sehingga tercipta ilusi seolah matahari bergerak berlawanan arah saat terbenam.
Selain itu, di Mist Walk, terdapat Where The Wildflowers Grow dari seniman Singapura Kester Wong dan Tan Shao Qi. Karya ini dibuat dari potongan logam bekas dan karpet daur ulang yang dirangkai menjadi bunga-bunga raksasa.
Ketika bunga-bunga tersebut disentuh, bunga bergerak perlahan dan memancarkan cahaya ritmis. Dengan demikian, keterlibatan pengunjung menjadi pemicu perubahan pada tampilan cahaya serta ritme pergerakannya.
Festival juga menyuguhkan Sliced karya Encor Studio dari Swiss. Instalasi ini berupa koridor gelap dengan celah-celah kecil yang membiaskan cahaya hingga menghasilkan bayangan geometris yang terus berubah mengikuti pergerakan orang yang melintas.
Di antara rangkaian karya lainnya, ada pula WAVE karya Masamichi Shimada. Instalasi ini terinspirasi dari ritme hujan sekaligus menggambarkan hubungan manusia dengan bumi melalui pola cahaya dan pengalaman interaktif yang menekankan nuansa gerak.
Lewat rangkaian instalasi yang beragam, i Light Singapore 2026 menempatkan interaksi sebagai inti dari perayaan seni cahaya. Pengunjung dapat merasakan langsung bagaimana gerakan—baik saat berjalan, memutar alat, menyentuh elemen karya, hingga melintasi koridor—membentuk pengalaman visual dan suasana di Marina Bay selama festival berlangsung.
Selama berlangsungnya festival dari Jumat (5/6/2026) hingga Minggu (28/6/2026), URA bersama UOB menghadirkan rangkaian instalasi seni cahaya yang berfokus pada keterlibatan pengunjung. Karya-karya tersebut dirancang agar pengalaman tidak berhenti pada penglihatan, melainkan berkembang lewat interaksi yang melibatkan gerak, teknologi, dan suasana sekitar.
Dengan tema “Movement”, setiap instalasi menyusun cara menikmati karya melalui aktivitas sederhana namun bermakna. Mulai dari melangkah di bawah struktur Arch Flower yang menyala, mencoba memutar alat pancing pada karya Let’s Fish The Sun! untuk membentuk ilusi gerak matahari, hingga menyentuh elemen pada Where The Wildflowers Grow yang memandu perubahan cahaya dengan ritme pelan.
Keseluruhan nuansa itu juga tampak pada karya-karya lain seperti koridor gelap Sliced yang membiaskan cahaya menjadi bayangan geometris yang terus berubah mengikuti orang yang melintas, serta WAVE yang menekankan pola cahaya dan ritme. Melalui 14 karya dari seniman dan kolektif yang tersebar di berbagai titik Marina Bay, festival menempatkan ruang kota sebagai tempat bertemu dan berinteraksi—sesuai harapan Direktur Festival Jason Chen agar Marina Bay menjadi destinasi yang hidup dan inklusif.












