jurnalistik.co.id – Di ruang digital yang ramai, masyarakat modern seperti sedang menyaksikan pertarungan yang bergerak berlawanan: frugal living dan gaya hidup flexing. Keduanya sama-sama tampil ke permukaan, namun memaknai “hidup yang baik” dengan cara yang berbeda.
Dua gaya hidup yang saling menukar perhatian
Frugal living mengedepankan kesederhanaan, pengelolaan keuangan yang bijaksana, dan konsumsi yang lebih terukur. Sebaliknya, budaya flexing cenderung memamerkan kekayaan, kemewahan, serta simbol-simbol status sosial demi memperoleh pengakuan dari lingkungan.
Fenomena ini terasa semakin menarik karena berkembang pada waktu yang sama. Ketika sebagian orang mulai berhitung setiap pengeluaran dan berupaya hidup lebih hemat, sebagian lainnya justru berlomba-lomba menunjukkan kemewahan melalui berbagai platform digital.
Instagram, TikTok, YouTube, dan media sosial lainnya menjadi arena tempat dua gaya hidup itu berkompetisi untuk memperebutkan perhatian publik. Dalam konteks seperti itu, pertanyaan yang muncul bukan hanya gaya hidup mana yang lebih terlihat, tetapi juga apa yang mendorong keduanya hadir bersamaan.
Di ruang publik, beberapa orang mencari penjelasan mengapa frugal living semakin populer. Pada saat yang sama, ada pula pertanyaan mengapa flexing tetap tumbuh subur, bahkan ketika tekanan ekonomi terasa semakin berat.
Tekanan ekonomi yang mengubah cara pandang kelas menengah
Untuk memahami mengapa frugal living mendapatkan momentum, perubahan kondisi ekonomi menjadi titik awal yang perlu dilihat. Dalam beberapa tahun terakhir, kelas menengah Indonesia menghadapi tekanan yang tidak ringan.
Pertumbuhan ekonomi melambat, lapangan kerja formal berkurang, biaya hidup meningkat, dan ketidakpastian global ikut menambah beban rumah tangga. Akibatnya, pola konsumsi banyak keluarga perlu disesuaikan dengan realitas yang berubah.
Data yang diolah menunjukkan bahwa pertumbuhan konsumsi kelompok kelas menengah Indonesia pada tahun 2025 hanya sekitar 4,1 persen. Angka itu disebut menjadi yang terendah dibandingkan kelompok ekonomi lainnya.
Sementara itu, kelompok atas mencatat pertumbuhan konsumsi yang lebih tinggi. Pola ini mengindikasikan bahwa kelompok kelas menengah tengah menghadapi tekanan daya beli yang cukup signifikan.
Berbagai laporan juga menyebut bahwa jumlah kelas menengah mengalami penyusutan dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah analisis bahkan menyatakan bahwa jutaan masyarakat yang sebelumnya berada di kategori kelas menengah kini turun ke kelompok yang lebih rentan, dipengaruhi oleh perubahan struktur ekonomi, meningkatnya pekerjaan informal, dan stagnasi pendapatan riil.
Dalam situasi seperti itu, kebutuhan untuk hidup lebih efisien menjadi semakin relevan. Kemampuan bertahan tidak lagi ditentukan semata-mata oleh seberapa besar pendapatan yang diperoleh, melainkan oleh seberapa baik pendapatan tersebut dikelola.
Frugal living: bukan menolak kemewahan, tetapi mengatur prioritas
Frugal living sebenarnya bukan konsep baru. Sebelum istilah ini populer di media sosial, prinsip hidup hemat telah diajarkan dalam berbagai budaya dan agama.
Namun dalam konteks modern, frugal living tidak sekadar berarti hidup sederhana. Budaya ini merupakan pendekatan rasional dalam mengelola sumber daya agar memberikan manfaat maksimal dalam jangka panjang.
Orang yang menerapkan frugal living tidak anti terhadap kemewahan. Mereka tidak menolak membeli barang berkualitas atau menikmati hiburan. Yang berubah adalah cara mengambil keputusan konsumsi: setiap keputusan lebih sadar dan berdasarkan pertimbangan kebutuhan, bukan dorongan emosional atau tekanan sosial.
Dalam praktiknya, penerapan frugal living membuat seseorang lebih memilih membeli barang yang benar-benar dibutuhkan dibanding mengikuti tren yang sedang viral. Alih-alih menghabiskan pendapatan untuk simbol-simbol status yang hanya memuaskan sesaat, fokusnya bergeser pada upaya membangun dana darurat, investasi, dan aset produktif.
Menariknya, tren ini berkembang di kalangan generasi muda. Banyak anak muda mulai memahami bahwa keamanan finansial lebih penting daripada sekadar terlihat sukses di media sosial. Bagi mereka, memiliki tabungan yang cukup, bebas dari utang konsumtif, dan investasi yang berkembang diposisikan sebagai bentuk kemewahan yang sesungguhnya.
Flexing: dorongan pengakuan tetap menemukan ruangnya
Di sisi lain, budaya flexing justru berkembang semakin masif. Setiap hari, media sosial dipenuhi konten yang menampilkan kehidupan serba mewah.
Flexing berangkat dari kecenderungan untuk memamerkan kekayaan, kemewahan, dan simbol-simbol status sosial. Semua itu ditampilkan dengan tujuan mendapatkan pengakuan dari lingkungan sekitar, sehingga perhatian publik bisa menjadi semacam “ruang pembuktian”.
Karena dua gaya hidup ini bergerak dalam waktu yang sama, kompetisi di platform digital tidak hanya soal selera, tetapi juga soal makna yang dikejar. Pada satu sisi, frugal living menawarkan kendali melalui pengelolaan keuangan dan keputusan yang lebih sadar. Pada sisi lain, flexing menawarkan pengakuan lewat penampilan yang menonjol.
Karena itu, pertarungan frugal living dan flexing pada dasarnya adalah pertarungan dua cara memaknai hidup. Keduanya lahir dari kondisi yang berbeda, namun sama-sama tumbuh dalam ekosistem sosial yang menuntut respons cepat—termasuk respons di layar, di mana perhatian publik dapat menjadi mata uang tersendiri.
Dengan latar ekonomi yang menekan kelas menengah, frugal living menemukan momentum melalui kebutuhan untuk bertahan dan mengelola pendapatan secara lebih efisien. Sementara itu, flexing tetap hadir karena dorongan akan pengakuan dan simbol status terus mencari jalannya, bahkan ketika kondisi ekonomi membuat banyak orang harus lebih berhitung.












