Peristiwa

Gempa M5,3 di Labuan Bajo NTT Tak Berpotensi Tsunami: Analisis BMKG

0
×

Gempa M5,3 di Labuan Bajo NTT Tak Berpotensi Tsunami: Analisis BMKG

Sebarkan artikel ini
Gempa M5,3 di Labuan Bajo NTT Tak Berpotensi Tsunami, Ini Analisis BMKG
Ilustrasi: Gempa M5,3 di Labuan Bajo NTT Tak Berpotensi Tsunami, Ini Analisis BMKG

jurnalistik.co.id – BMKG menyatakan gempa yang mengguncang Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Gempa tersebut terjadi pada Rabu (3/6/2026) pukul 23.55.38 WIB dengan magnitudo awal 5,3.

Dalam penjelasan lanjutan, BMKG kemudian merilis parameter terbaru yang mencatat kekuatan gempa sebesar magnitudo M5,1.

BMKG menyebutkan episenter gempa berada pada koordinat 8,26° LS dan 120,15° BT, tepatnya di laut sekitar 38 kilometer timur laut Labuan Bajo, NTT.

Kedalaman hiposenter yang dicatat mencapai 169 kilometer.

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa peristiwa ini merupakan gempa menengah yang dipicu oleh aktivitas subduksi.

Penjelasan BMKG soal mekanisme gempa

“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi menengah akibat adanya aktivitas subduksi. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi memiliki mekanisme pergerakan geser (strike-slip),” ujar Wijayanto dalam keterangan tertulisnya, Kamis (4/6/2026).

Selain menegaskan karakter sumber gempa, BMKG juga menilai dampak getaran yang terpantau dari laporan yang masuk.

Gempa dilaporkan dirasakan di wilayah Waingapu dengan intensitas III MMI.

Pada skala III MMI, getaran disebut terasa nyata di dalam rumah dan digambarkan seperti truk yang sedang melintas.

BMKG menegaskan bahwa dengan mempertimbangkan parameter lokasi episenter serta kedalaman hiposenter, gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Dengan demikian, meski gempa sempat tercatat bermagnitudo 5,3, hasil analisis lanjutan BMKG menunjukkan magnitudo M5,1 serta mekanisme pergerakan geser (strike-slip) yang terkait aktivitas subduksi.

Informasi ini disampaikan sebagai rujukan kepada publik agar memahami hasil pemutakhiran analisis BMKG serta penilaian risikonya, termasuk terkait potensi tsunami.

Pemutakhiran analisis dari BMKG memperlihatkan bahwa gempa yang sempat tercatat pada magnitudo awal 5,3 kemudian mengalami penyesuaian nilai kekuatan menjadi M5,1 berdasarkan parameter terbaru. Perubahan ini menjadi bagian dari proses evaluasi yang dilakukan setelah data awal terkumpul dan dianalisis lebih lengkap.

Dari sisi lokasi sumber, BMKG menempatkan pusat gempa pada wilayah laut sekitar 38 kilometer timur laut Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Koordinat yang digunakan dalam kajian tersebut adalah 8,26° LS dan 120,15° BT, sehingga arah sebaran episenter tetap merujuk pada kawasan perairan di sekitar Labuan Bajo.

BMKG juga mencatat kedalaman hiposenter mencapai 169 kilometer. Dengan kedalaman yang berada pada level tersebut, analisis menunjukkan karakter getaran berasal dari proses geologi yang berkaitan dengan aktivitas lempeng di zona subduksi. Informasi kedalaman ini menjadi salah satu pertimbangan utama dalam penilaian jenis gempa dan risikonya.

Dalam penjelasan mekanisme sumber, Wijayanto menyampaikan bahwa gempa merupakan gempa menengah akibat aktivitas subduksi. Hasil pengolahan mekanisme sumber menyimpulkan adanya pergerakan geser (strike-slip), yang menggambarkan pola pergeseran pada bidang sumber gempa berdasarkan hasil analisis yang dilakukan BMKG.

BMKG mengaitkan temuan mekanisme pergerakan dan parameter lokasi tersebut untuk menyimpulkan penilaian risiko terhadap potensi tsunami. Dengan mempertimbangkan kombinasi episenter, kedalaman hiposenter, serta karakter pergerakan sumber, BMKG menyatakan bahwa kejadian ini tidak menunjukkan potensi untuk menimbulkan tsunami.

Terkait dampak yang dilaporkan masyarakat, gempa dicatat terasa di Waingapu dengan intensitas III MMI. Pada tingkat intensitas tersebut, getaran digambarkan masih terasakan dalam aktivitas sehari-hari, termasuk di dalam rumah, dan sensasinya disebut seperti adanya benda besar yang sedang melintas.

BMKG menempatkan informasi pemutakhiran tersebut sebagai bahan rujukan agar publik memahami perkembangan hasil analisis. Dengan adanya pembaruan magnitudo dan penegasan mekanisme sumber, penilaian BMKG disajikan untuk memperjelas interpretasi kejadian serta dasar pertimbangan terhadap aspek risiko, termasuk penilaian terkait tsunami.

Peristiwa gempa ini terjadi pada Rabu (3/6/2026) pukul 23.55.38 WIB, lalu penjelasan lanjutan disampaikan pada Kamis (4/6/2026) melalui Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto. Rangkaian waktu antara pencatatan awal dan rilis parameter terbaru menggambarkan bahwa analisis lanjutan dilakukan setelah pengolahan data untuk memperoleh gambaran yang lebih akurat.