Peristiwa

Gunung Lewotobi Laki-laki Kembali Erupsi Minggu Siang, Kolom Abu 1.500 Meter

×

Gunung Lewotobi Laki-laki Kembali Erupsi Minggu Siang, Kolom Abu 1.500 Meter

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Gunung Lewotobi Meletus Lagi Minggu Siang, Tinggi Kolom Abu 1,5 Kilometer

jurnalistik.co.id – Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali mengalami erupsi pada Minggu (19/7/2026) sekitar pukul 13.20 Wita.

Letusan itu melontarkan kolom abu vulkanik setinggi 1.500 meter di atas puncak gunung.

Keterangan dari Pos Pengamat Gunung Api (PGA) Lewotobi Laki-laki menyebutkan, kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal.

Arah sebaran abu dan ketinggian pengamatan

Dalam pengamatan yang disampaikan petugas, abu vulkanik bergerak ke arah utara, barat, serta barat laut.

Petugas juga menyatakan tinggi kolom abu teramati sekitar 1.500 meter di atas puncak, atau setara sekitar 3.084 meter di atas permukaan laut.

Pengamatan dilakukan berdasarkan hasil pemantauan saat erupsi berlangsung.

Menurut catatan seismik, letusan tersebut terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 29,6 milimeter.

Erupsi berlangsung sekitar enam menit, yakni selama 6 menit 4 detik.

Petugas mengimbau masyarakat di wilayah terdampak hujan abu untuk mengenakan masker atau alat pelindung pernapasan saat beraktivitas di luar ruangan.

Status Level III (Siaga) tetap berlaku

Pihak PGA juga menegaskan aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki masih berada pada Level III (Siaga).

Dengan status tersebut, pengawasan terhadap perkembangan letusan tetap dilakukan mengingat aktivitas gunung yang cenderung dinamis.

Langkah perlindungan diri menjadi bagian penting terutama pada saat hujan abu muncul di area sekitar.

Warga: erupsi makin sering, abu masih turun

Di lapangan, warga setempat menilai intensitas aktivitas gunung meningkat dalam beberapa hari terakhir.

Paulus (30) mengatakan, dalam beberapa waktu terakhir kadang satu hari bisa terjadi 8 sampai 10 kali erupsi.

Ia menyebut hujan abu masih terjadi di sejumlah desa di lereng gunung, termasuk Desa Hokeng Jaya, Boru, Nawokote, Boru Kedang, Dulipali, dan Klatanlo.

Meski sebagian warga sudah direlokasi ke hunian sementara, banyak di antaranya tetap harus kembali ke kebun untuk mengelola lahan pertanian.

Menurut Paulus, kebutuhan ekonomi membuat mereka tidak bisa sepenuhnya bertahan di tempat pengungsian.

“Ekonomi kami sangat susah, mau tidak ke kebun kita makan apa. Kita dapat uang darimana? Sekarang kita hanya bisa pasrah dengan keadaan,” tandasnya.

Situasi tersebut menggambarkan bagaimana dampak erupsi tidak berhenti pada kejadian letusan semata, tetapi juga memengaruhi pola hidup harian masyarakat di wilayah sekitar.

Sejumlah aktivitas warga tetap dijalankan dengan mempertimbangkan kondisi abu, sambil mengikuti arahan keselamatan yang disampaikan petugas pengamat.

Dengan erupsi pada Minggu siang dan status Level III (Siaga) yang masih diberlakukan, perhatian terhadap pemantauan lanjutan serta perlindungan diri di area terdampak menjadi prioritas.

Dalam laporan pengamatan, letusan terjadi pada Minggu (19/7/2026) sekitar pukul 13.20 Wita, lalu membentuk kolom abu vulkanik yang menjulang hingga kurang lebih 1.500 meter di atas puncak. Berdasarkan pemantauan, abu tersebut kemudian bergerak ke wilayah utara, barat, serta barat laut, dengan kondisi teramati tampak kelabu dan cukup tebal.

Petugas juga mencatat aspek teknis dari aktivitas tersebut. Secara seismik, letusan terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 29,6 milimeter, sementara proses erupsi berlangsung sekitar enam menit, tepatnya 6 menit 4 detik. Durasi ini menjadi acuan bagi petugas untuk melanjutkan pembacaan perkembangan aktivitas selama periode pemantauan berlangsung.

Di sisi keselamatan, imbauan yang disampaikan Pos Pengamat Gunung Api (PGA) menekankan perlindungan diri ketika hujan abu turun. Masyarakat di wilayah terdampak dianjurkan mengenakan masker atau alat pelindung pernapasan saat beraktivitas di luar ruangan, agar kebutuhan pekerjaan tetap dapat dijalankan dengan mempertimbangkan kondisi sekitar.

Warga di lapangan turut menggambarkan bahwa aktivitas gunung belum menunjukkan penurunan. Paulus menyebut dalam beberapa waktu terakhir erupsi dapat terjadi berkali-kali dalam sehari, bahkan mencapai 8 sampai 10 kali pada kondisi tertentu, dan hujan abu masih terlihat jatuh di sejumlah desa di lereng, termasuk Desa Hokeng Jaya, Boru, Nawokote, Boru Kedang, Dulipali, serta Klatanlo. Meski sebagian telah direlokasi ke hunian sementara, kebutuhan ekonomi membuat mereka tetap kembali ke kebun untuk mengelola lahan pertanian, dengan tetap menyesuaikan kegiatan harian pada situasi abu dan mengikuti arahan keselamatan dari petugas.