Hukum & Kriminal

Identitas 8 Korban Bentrok Warga di Adonara: 3 Tewas, 5 Luka

×

Identitas 8 Korban Bentrok Warga di Adonara: 3 Tewas, 5 Luka

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Identitas 8 Korban Bentrok antar Warga di Adonara Flores Timur

jurnalistik.co.id – Kepolisian merilis identitas delapan orang yang menjadi korban bentrok antarkelompok warga di wilayah Adonara, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Dari jumlah itu, tiga orang dinyatakan meninggal dunia, sedangkan lima lainnya mengalami luka dan sempat menjalani perawatan.

Peristiwa berawal dari konflik yang melibatkan warga Desa Narasaosina dan Dusun Bele, Desa Waiburak, Kecamatan Adonara Timur. Aparat menyebut insiden yang terjadi pada Sabtu (18/7/2026) dipicu dugaan sengketa lahan di antara pihak-pihak yang berselisih.

Kepolisian menyampaikan bahwa korban meninggal terdiri dari tiga nama yang berbeda. Salah satunya adalah Nayamudin Iskandar (21), warga Dusun Bele, yang diduga meninggal akibat luka tembak.

Korban berikutnya, Hugo (62), tercatat sebagai warga Desa Lewonara. Polisi menyebut Hugo meninggal akibat luka yang diduga disebabkan senjata tajam.

Nama ketiga adalah Petrus Kopong Emit, warga Desa Narasaosina. Menurut data yang disampaikan, ia meninggal di lokasi kejadian.

Selain korban jiwa, bentrokan tersebut juga meninggalkan korban luka sebanyak lima orang. Sebagian korban dirawat di fasilitas kesehatan yang berbeda, mengikuti lokasi dan tingkat keparahan luka.

Purnama B.L. (19) mengalami luka tembak di bagian dada. Ia kemudian dirujuk ke RSUD Lewoleba untuk mendapat penanganan lebih lanjut.

Selanjutnya, Siti Soleha Asal (63) mengalami luka tembak pada kedua paha. Polisi menyebut perempuan tersebut dirujuk ke RSUD Larantuka.

Sementara itu, tiga korban lainnya sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Pratama Adonara. Tiga nama yang disebut adalah Sipriano M. Ama, Thomas Tubun, dan Anwar Sabon.

Aparat menyampaikan bahwa ketiga korban tersebut akhirnya diperbolehkan pulang setelah kondisi mereka dianggap membaik. Dengan demikian, respons medis pada fase awal bentrokan berjalan untuk menekan dampak lanjutan pada pihak-pihak yang terdampak.

Dalam keterangannya, aparat kepolisian dan TNI masih melakukan langkah-langkah pengamanan di lapangan. Upaya itu difokuskan pada sejumlah titik yang dinilai strategis untuk mencegah bentrokan susulan.

Kepala Seksi Humas Polres Flores Timur, AKP Eliezer A. Kalelado, menyatakan bahwa masyarakat dari kedua wilayah juga tetap berjaga di lingkungan masing-masing sebagai bentuk kewaspadaan.

Eliezer menekankan bahwa pengamanan tidak hanya bersifat administratif, tetapi dilakukan melalui pendekatan di lapangan secara berkelanjutan. Pernyataan tersebut disampaikan dalam kalimat, “Untuk kondisi secara umum dapat dikendalikan melalui pengamanan, patroli dialogis, dan deteksi dini yang dilakukan secara berkelanjutan,” kata Eliezer.

Pengamanan berbasis patroli dan deteksi dini

Menurut informasi yang disampaikan, patroli dialogis menjadi salah satu mekanisme yang digunakan untuk menjaga situasi tetap terkendali. Deteksi dini juga disebut berperan agar potensi eskalasi bisa diketahui lebih awal sebelum berubah menjadi kerusuhan yang lebih luas.

Pihak kepolisian bersama TNI terus berada di tingkat pengawasan untuk memantau dinamika di sekitar lokasi konflik. Langkah ini dilakukan mengingat bentrokan sebelumnya terjadi dan dikhawatirkan bisa muncul kembali jika perselisihan yang mendasarinya belum benar-benar mereda.

Bentrokan yang melibatkan warga Narasaosina dan Waiburak, pada akhirnya, berujung pada korban jiwa dan luka-luka yang disebutkan secara rinci oleh aparat. Hingga saat rilis, aparat menyatakan situasi secara umum masih dalam kendali melalui rangkaian pengamanan, patroli, dan kewaspadaan yang dilakukan terus-menerus.

Dalam rilis yang disampaikan, aparat juga menegaskan bahwa penanganan terhadap para korban luka berjalan berlapis, menyesuaikan lokasi kejadian serta kondisi masing-masing. Sejumlah korban sempat mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Pratama Adonara, sementara yang lain dirujuk ke RSUD Lewoleba dan RSUD Larantuka sesuai kebutuhan medis yang dinilai berbeda.

Aparat mengaitkan proses pengamanan dengan upaya menjaga ketenangan warga agar tidak terjadi pelebaran konflik. Pengawasan dilakukan secara terus-menerus dengan patroli dialogis dan deteksi dini, sambil memantau situasi di sekitar titik-titik yang dinilai penting. Di saat yang sama, masyarakat dari dua wilayah disebut tetap melakukan kewaspadaan di lingkungan masing-masing sebagai bagian dari langkah pencegahan.