jurnalistik.co.id – Gramedia resmi menghadirkan wajah baru toko bukunya di Jalan Pandanaran, Kota Semarang, Jawa Tengah, melalui konsep bernama Gramedia Jalma. Tempat ini tidak hanya berfungsi sebagai lokasi membeli buku, tetapi juga dirancang sebagai ruang berkumpul yang interaktif bagi berbagai komunitas dan masyarakat luas.
Peluncuran toko tersebut digelar lewat acara soft opening pada Jumat (5/6/2026) malam. Pantauan di lokasi menunjukkan gedung berlantai dua masih dipadati pengunjung hingga pukul 20.00 WIB.
Sebagian pengunjung terlihat berburu buku, komik, hingga merchandise karakter favorit mereka. Di sisi lain, ada pula pengunjung yang tampak asyik membuka laptop, membaca buku, serta menikmati secangkir kopi.
Konsep “Jalma” sebagai ruang penghubung antarmanusia
PR Manager Gramedia, Rezza Patria Wibowo, menjelaskan bahwa konsep “Jalma” merupakan pengembangan transformatif dari toko buku konvensional menjadi ruang penghubung antarmanusia. Ia menegaskan perbedaan model kunjungan dibanding Gramedia reguler.
“Kalau sebelumnya Gramedia reguler konsepnya bookstore , orang datang untuk membeli lalu pulang. Kalau Gramedia Jalma ini berbeda. Kata ‘jalma’ diambil dari bahasa Sanskerta yang artinya manusia,” kata Rezza saat ditemui di sela-sela acara soft opening Gramedia Jalma Semarang pada Jumat (5/6/2026) malam.
Rezza juga menyebut desain toko disiapkan untuk memfasilitasi beragam kegiatan positif. Menurutnya, Gramedia Jalma bukan sekadar store, melainkan ruang yang memberi ruang bagi orang untuk datang dan terlibat dalam aktivitas bersama.
“Harapannya selain jadi store Gramedia, ini juga menjadi hub bagi komunitas dan orang-orang yang ingin berkumpul. Akan banyak aktivitas komunitas dan event yang mendukung,” ujarnya.
Dalam pengembangan berbasis komunitas, Gramedia menyiapkan program Heritage Hunter. Program ini mengajak para peserta menjelajahi ikon-ikon kota sambil mempelajari sejarahnya secara mendalam.
Rezza menuturkan Semarang menjadi kota kedua di Indonesia yang mengusung konsep Gramedia Jalma setelah gerai pertama sukses dibuka di kawasan Melawai, Jakarta. Ia mengatakan konsep tersebut dibuat untuk menjawab pergeseran tren masyarakat urban yang mencari ruang publik nyaman untuk membaca, berdiskusi, sekaligus berinteraksi.
“Kami melihat di negara seperti Korea dan Jepang, toko buku tidak hanya menyediakan buku, tetapi juga mendukung budaya membaca melalui desain ruang dan aktivitas yang dihadirkan. Jadi tidak semata-mata transaction based ,” kata Rezza menjelaskan.
Fasilitas modern, termasuk area kafe dan “Creative Space”
Head of Store Experience Gramedia Jalma Semarang, Chris Wahyu, menyampaikan sejumlah fasilitas baru berskala modern telah disiapkan untuk menunjang pengalaman pengunjung. Ia menyebutkan area kafe menjadi salah satu fasilitas yang melengkapi kebutuhan pengunjung saat berada di dalam toko.
Selain kafe, toko ini menyediakan creative space, meeting room, ruang menyusui (laktasi), musala, serta fasilitas toilet di setiap lantai. Chris juga menyebut adanya banyak titik pengisian daya (charging station) untuk perangkat elektronik.
“Konsep keseluruhannya baru. Kami ingin pengunjung lebih nyaman berlama-lama di sini,” tutur Wahyu.
Wahyu menilai Kota Semarang dipilih sebagai lokasi Gramedia Jalma kedua karena tingginya antusiasme sekaligus loyalitas masyarakat terhadap Gramedia. Di hari pertama pembukaannya, ia memperkirakan ada sekitar 4.000 pengunjung yang mendatangi lokasi tersebut.
Selama tiga hari pertama masa soft opening, Gramedia juga memanjakan pelanggan dengan program voucher belanja. Voucher senilai Rp 50 ribu diberikan kepada 100 transaksi pertama, dengan syarat minimal pembelanjaan sebesar Rp 100 ribu.
“Harapannya weekend ini bisa mencapai 5.000 pengunjung per hari,” kata Wahyu optimistis.
Evaluasi respons publik untuk pengembangan ke depan
Menjelang berjalannya periode setelah soft opening, pihak manajemen menegaskan akan terus mengevaluasi respons serta masukan dari masyarakat terhadap konsep Jalma. Evaluasi tersebut mencakup peluang pengembangan fasilitas penunjang maupun kolaborasi baru di gerai tersebut ke depannya.
Dengan sejumlah fasilitas dan program komunitas yang disiapkan, Gramedia Jalma Semarang diposisikan sebagai ruang publik yang memberi pengalaman membaca dan berinteraksi, sekaligus menghadirkan aktivitas yang mendorong partisipasi pengunjung.












