jurnalistik.co.id – Gunung Merapi kembali mengeluarkan awan panas guguran pada Selasa (9/6/2026) pagi. Berdasarkan laporan pengamatan Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), peristiwa itu tercatat terjadi pada pukul 08.59 WIB.
Awan panas guguran tersebut bergerak dengan jarak luncur sekitar 2.000 meter ke arah barat daya atau hulu Kali Sat/Putih. Dalam data kegempaan, awan panas guguran itu terekam dengan amplitudo maksimum 26,96 mm dan durasi 136,83 detik.
PVMBG menyebutkan aktivitas ini merupakan bagian dari dinamika erupsi efusif yang masih berlangsung di Gunung Merapi. Dengan karakter aktivitas yang sedang berjalan, pemantauan terus dilakukan agar perkembangan kondisi dapat diketahui secara berkala.
Laporan PVMBG dan parameter pengamatan
Dalam pengamatan, PVMBG melaporkan bahwa awan panas guguran terjadi pada pukul 08.59 WIB pada Selasa pagi. Arah luncur disebutkan menuju barat daya, tepatnya ke area hulu Kali Sat/Putih, dengan jarak sekitar 2.000 meter.
Selain informasi arah dan jarak, PVMBG juga mencantumkan parameter dari data kegempaan. Amplitudo maksimum tercatat 26,96 mm, sementara durasi kejadian 136,83 detik.
Rangkaian data tersebut menjadi dasar dalam penilaian tingkat aktivitas gunung api pada periode pengamatan. PVMBG kemudian mengarahkan masyarakat agar tetap mengikuti arahan resmi berkaitan dengan potensi bahaya yang dapat muncul.
Imbauan keselamatan bagi masyarakat
PVMBG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan tidak beraktivitas di kawasan rawan bencana. Imbauan itu disampaikan dengan penekanan agar warga tidak mendekati area bahaya, termasuk alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi.
“Masyarakat diimbau untuk menjauhi daerah bahaya dan alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi serta mematuhi rekomendasi resmi,” tulis PVMBG.
Hingga saat ini, status aktivitas Gunung Merapi masih berada pada Level III (Siaga). Dengan status tersebut, masyarakat diminta untuk terus mengikuti perkembangan informasi resmi dari PVMBG dan BPPTKG serta tidak mudah terpancing informasi yang belum terverifikasi.
PVMBG memastikan pemantauan aktivitas Gunung Merapi dilakukan secara intensif selama 24 jam. Langkah itu dimaksudkan agar perubahan kondisi dapat segera terpantau dan diinformasikan sesuai prosedur.
“Masyarakat yang berada di wilayah sekitar gunung api diharapkan tetap tenang, namun waspada terhadap potensi bahaya awan panas guguran maupun aliran material vulkanik di sungai-sungai yang berhulu di puncak Merapi,” imbaunya.
Pemantauan dan imbauan tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko bagi warga yang berada di sekitar kawasan terdampak. Pada periode Level III (Siaga), kewaspadaan terus diperlukan karena aktivitas awan panas guguran berpotensi menimbulkan dampak ke area tertentu, termasuk jalur aliran material di sungai-sungai berhulu dari puncak Merapi.
Peristiwa yang tercatat pada Selasa pagi itu menjadi salah satu catatan pengamatan yang dilakukan PVMBG untuk memahami kelanjutan aktivitas Gunung Merapi. Informasi waktu kejadian yang spesifik membantu pihak berwenang menilai pola pergerakan dan kecenderungan aktivitas pada periode pemantauan.
Berdasarkan keluaran data pengamatan, awan panas guguran yang teramati mengalami luncur dengan jangkauan sekitar 2.000 meter menuju barat daya, yaitu ke arah hulu Kali Sat/Putih. Dalam pencatatan kegempaan, kejadian tersebut ditandai dengan amplitudo maksimum 26,96 mm serta berlangsung selama 136,83 detik.
Dengan status Level III (Siaga), PVMBG meminta masyarakat tetap berada dalam koridor kewaspadaan. Warga di sekitar kawasan terdampak dianjurkan untuk tidak melakukan aktivitas di area yang dikategorikan rawan, terutama menghindari alur sungai yang berhulu dari puncak Merapi, sekaligus mengikuti arahan resmi.
PVMBG menegaskan pemantauan dilakukan secara intensif selama 24 jam agar setiap perubahan dapat segera dikenali dan diumumkan sesuai prosedur. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun waspada terhadap kemungkinan dampak lanjutan berupa awan panas guguran maupun material vulkanik yang dapat terbawa aliran di sungai-sungai berhulu dari Gunung Merapi.








