jurnalistik.co.id – Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang masih berada pada status Level III (Siaga) membuat sebagian orang memilih meningkatkan kewaspadaan. Namun di pesisir Lampung, sebagian nelayan tetap melaut dengan cara menyesuaikan rute dan area tangkap.
Bagi mereka, keputusan itu bukan sekadar soal keberanian, melainkan pertimbangan praktis agar tetap bisa mencari ikan sambil menghindari bagian perairan yang ditetapkan sebagai zona bahaya. Mereka mengaku memahami bahwa keselamatan perlu menjadi prioritas ketika kondisi gunung api meningkat.
“Kalau memang sedang erupsi, kami menjauh dari lokasi. Tetap melaut, tetapi menghindari daerah sekitar Gunung Anak Krakatau,” kata Edi Muhtadi, nelayan asal Kampung Pulau Pasaran, Bandar Lampung, pada Senin (6/7/2026).
Edi menjelaskan bahwa imbauan pemerintah tidak selalu dimaknai sebagai penghentian total aktivitas melaut. Menurutnya, nelayan bisa tetap bekerja di laut dengan mengalihkan posisi ke wilayah yang dianggap lebih aman, selama tidak berada di dekat kawasan gunung.
Ia mengungkapkan, ketika perubahan aktivitas terpantau dan keadaan dirasa tidak memungkinkan, nelayan cenderung segera melakukan penyesuaian. “Kalau melihat kondisi tidak memungkinkan, ya kami langsung menghindar ke tempat yang lebih aman. Yang penting jangan mendekati kawasan gunung,” ujarnya.
Pernyataan itu sejalan dengan laporan aktivitas Gunung Anak Krakatau dari Magma Badan Geologi Kementerian ESDM periode Minggu (5/7/2026). Dalam laporan tersebut, gunung api di Selat Sunda disebut masih berstatus Level III (Siaga).
Pengamatan visual yang disampaikan dalam laporan mencatat asap kawah berwarna putih, dengan intensitas yang berkisar dari tipis hingga tebal. Asap terlihat setinggi 10 hingga 100 meter dari puncak, sementara aktivitas kegempaan didominasi tremor menerus.
Melalui rekomendasinya, Badan Geologi meminta agar masyarakat, wisatawan, dan nelayan tidak beraktivitas dalam radius minimal tiga kilometer dari kawah aktif. Batas itu menjadi acuan penting agar aktivitas di sekitar wilayah terdampak dapat dikendalikan.
Berita Terkait
Di lapangan, Edi menyebut nelayan telah menyesuaikan kebiasaan mereka ketika melihat peningkatan aktivitas. Perubahan yang dilakukan umumnya berupa pergantian titik tangkap dan menjauh dari area yang dinilai terlalu dekat dengan gunung.
“Kalau memang sedang erupsi, kami menjauh dari lokasi. Tetap melaut, tetapi menghindari daerah sekitar Gunung Anak Krakatau,” kembali ditegaskan Edi untuk menggambarkan pola tindakan yang biasanya dipilih ketika kondisi mulai tampak lebih aktif.
Meski demikian, ia juga mengakui tidak semua nelayan mematuhi imbauan tersebut. Masih ada pihak yang nekat mendekat dengan alasan mengejar hasil tangkapan.
“Pemerintah sudah sering mengingatkan. Tetapi, memang masih ada saja yang berani mendekat karena mengejar hasil tangkapan. Namanya mencari nafkah di laut,” kata Edi.
Pengalaman bencana tsunami Selat Sunda pada 2018 ikut membekas pada sebagian nelayan. Mereka mengaitkan ingatan tersebut dengan pentingnya pemantauan saat aktivitas gunung meningkat, karena tanda-tanda perubahan di laut dan sekitar kawasan dapat memengaruhi keputusan untuk bertahan atau berpindah.
Karena itu, ketika aktivitas Gunung Anak Krakatau terpantau bertambah, nelayan cenderung melakukan evaluasi cepat sebelum melanjutkan aktivitas. Sebagian memilih tetap bekerja dengan jarak yang diperhitungkan, sementara yang lain mengambil keputusan untuk menjauh lebih awal.
Pola ini menunjukkan bagaimana imbauan keselamatan berhadapan langsung dengan kebutuhan ekonomi di pesisir. Bagi nelayan, melaut adalah mata pencaharian harian, namun saat status gunung berada pada Level III, mereka berusaha menyeimbangkan pekerjaan dengan batasan zona bahaya yang telah ditetapkan.
Dengan mengikuti rekomendasi terkait radius minimal tiga kilometer, sebagian nelayan berharap aktivitas pencarian ikan tetap bisa berjalan. Di saat yang sama, mereka menegaskan bahwa bila kondisi tidak memungkinkan, tindakan paling utama adalah menghindar dan mencari area yang dinilai lebih aman.












