Daerah

Gunung Semeru Erupsi 21 Kali, Kolom Abu Capai 1.000 Meter

0
×

Gunung Semeru Erupsi 21 Kali, Kolom Abu Capai 1.000 Meter

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Gunung Semeru Erupsi 21 Kali, Letuskan Asap Tebal Setinggi 1.000 Meter

jurnalistik.co.id – Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, kembali mengalami erupsi pada Jumat (29/5/2026). Dalam rentang pengamatan pukul 06.00-12.00 WIB, Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Semeru mencatat 21 kali erupsi dengan letusan yang secara visual terlihat membentuk kolom abu setinggi 500-1.000 meter di atas Kawah Jonggring Saloko.

Petugas PPGA Semeru, Mukdas Sofian, menyampaikan bahwa salah satu letusan terjadi pada pukul 09.43 WIB. Saat itu, tinggi kolom abu teramati mencapai 1.000 meter di atas puncak. Erupsi tersebut juga tampak menghasilkan asap tebal dari tubuh gunung yang terus menunjukkan aktivitas vulkanik cukup tinggi sepanjang hari.

Meski erupsi berulang, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang, Insugroho, mengatakan pihaknya belum menerima laporan mengenai dampak yang ditimbulkan dari letusan tersebut. Hingga saat ini, laporan sementara masih nihil dan belum ada informasi resmi mengenai gangguan yang dirasakan warga di sekitar lereng gunung.

Namun, Insugroho menilai arah angin saat erupsi berpotensi memengaruhi sebaran abu vulkanik. Ketika asap letusan terhembus, angin dilaporkan bertiup ke arah barat laut. Karena itu, hujan abu dimungkinkan terjadi di wilayah sekitar Kabupaten Malang. “Laporan dampak sementara nihil, belum ada laporan yang masuk, tapi kalau arah anginnya ke barat sepertinya hujan abu terjadi di sekitar Malang,” ujarnya.

Aktivitas masih tinggi, risiko ikut meningkat

Insugroho menjelaskan, status aktivitas vulkanik Gunung Semeru saat ini masih berada pada level III atau Siaga. Menurut dia, intensitas letusan yang cukup tinggi membuat risiko hujan abu di kawasan sekitar lereng gunung tetap perlu diwaspadai. Kondisi ini menunjukkan bahwa erupsi yang terjadi bukan peristiwa tunggal, melainkan bagian dari rangkaian aktivitas yang masih berlangsung.

Selain potensi hujan abu, ia juga mengingatkan ancaman lain yang bisa muncul bila wilayah sekitar gunung diguyur hujan dengan intensitas tinggi. Material hasil letusan dan guguran yang selama ini menumpuk di lereng Semeru dapat terbawa aliran air dan memicu banjir lahar. Risiko itu menjadi semakin besar ketika curah hujan tinggi turun di kawasan puncak maupun lereng gunung.

“Secara jumlah letusan memang masih tinggi, ini bisa memicu banjir lahar dengan membawa material cukup banyak apabila terjadi hujan deras di sekitar gunung,” kata Insugroho.

Karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan dalam radius 13 kilometer dari puncak. Imbauan tersebut juga berlaku di luar radius itu, khususnya pada jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Langkah ini diambil karena kawasan tersebut berpotensi terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 13 kilometer dari puncak.

Insugroho menambahkan, hujan lebat yang kerap mengguyur kawasan sekitar Gunung Semeru juga harus menjadi perhatian serius. Kondisi itu dapat meningkatkan risiko banjir lahar yang membawa material vulkanik dalam jumlah besar. Dengan demikian, warga diminta tidak lengah meskipun pada saat tertentu dampak langsung erupsi belum tampak jelas di permukaan.

“Waspada terhadap potensi awan panas guguran (APG), guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru,” pungkasnya. Peringatan itu menegaskan bahwa ancaman utama dari Semeru bukan hanya letusan yang terlihat, tetapi juga aliran material vulkanik yang bisa bergerak mengikuti kontur sungai dan hujan yang turun di wilayah sekitarnya.

Rangkaian letusan yang tercatat sejak pagi menunjukkan bahwa Semeru masih berada dalam fase aktif yang perlu dipantau ketat, terutama karena tinggi kolom abu terus berubah dalam rentang pengamatan yang sama. Meski belum ada laporan dampak langsung, kondisi ini tetap menuntut kewaspadaan warga di sekitar lereng gunung maupun wilayah yang berpotensi terdampak sebaran abu.

Dengan status Siaga yang masih berlaku, perhatian utama saat ini bukan hanya pada letusan yang terlihat, tetapi juga pada kemungkinan efek lanjutan seperti hujan abu dan lahar apabila turun hujan. Situasi tersebut membuat pemantauan informasi resmi menjadi penting agar masyarakat dapat segera menyesuaikan aktivitas dan menjauhi area berisiko.