Otomotif

Harga Spare Part Naik, Ongkos Muat Truk Rata-rata Tembus 15 Persen

×

Harga Spare Part Naik, Ongkos Muat Truk Rata-rata Tembus 15 Persen

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Harga Suku Cadang Melonjak, Ongkos Muat Truk Naik Rata-rata 15 Persen

jurnalistik.co.id – Ongkos muat barang menggunakan truk dilaporkan mulai bergerak naik hingga sekitar 15 persen. Kenaikan ini berkaitan dengan lonjakan biaya operasional yang dipicu harga suku cadang dan komponen pendukung.

Jakarta mencatat adanya penyesuaian yang mulai terasa sejak awal April 2026. Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) wilayah Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, Bambang Widjanarko, mengatakan perubahan biaya itu melanda hampir seluruh komponen utama kendaraan niaga.

Menurut Bambang, sejak awal April harga spare parts kendaraan mengalami kenaikan. Ia menyebut truk juga ikut terdampak, dengan level kenaikan yang telah mencapai sekitar 30 persen.

“Sejak awal April, terjadi kenaikan harga spare parts kendaraan, termasuk truk yang telah mencapai sekitar 30 persen,” ujar Bambang kepada Kompas.com, Selasa (30/6/2026).

Selain suku cadang, biaya operasional turut terdorong oleh kenaikan komponen yang rutin dipakai dalam kegiatan angkutan barang. Bambang mencontohkan ban dan oli pelumas yang turut naik.

“Selain itu, harga ban naik sekitar 10 persen dan harga oli pelumas meningkat hingga sekitar 50 persen,” ujarnya.

Dalam kondisi tersebut, pelaku usaha angkutan dinilai tidak punya banyak alternatif untuk menjaga arus operasional. Bambang menegaskan langkah penyesuaian akhirnya diarahkan agar kegiatan tetap berjalan tanpa mengorbankan standar keselamatan.

“Karena naiknya harga seluruh komponen pendukung tersebut, mau tidak mau para pengusaha truk harus memutar otak dengan melakukan berbagai efisiensi tanpa mengurangi standar keselamatan,” katanya.

Upaya efisiensi yang dilakukan, kata Bambang, mencakup pengaturan operasional, pengendalian biaya, serta optimalisasi penggunaan armada. Namun, ketika efisiensi tidak lagi cukup untuk menutup kesenjangan perhitungan operasional, penyesuaian tarif dinilai mulai diambil secara bertahap.

“Ketika seluruh upaya efisiensi sudah dilakukan tetapi perhitungan operasional tetap tidak masuk, mau tidak mau para pengusaha truk mulai menaikkan ongkos muat barang secara perlahan agar tidak menimbulkan kontraksi yang terlalu mengagetkan bagi pengguna jasa.”

Jika dilihat secara umum, Bambang menyatakan penyesuaian ongkos angkut yang sudah terjadi sejak awal April mencapai sekitar 15 persen. Ia menggambarkan angka tersebut sebagai hasil akumulasi dari berbagai tekanan biaya selama periode berjalan.

“Bisa disimpulkan bahwa kenaikan ongkos muat barang yang telah terjadi sejak awal April lalu sudah mencapai sekitar 15 persen,” kata Bambang.

Rata-rata penyesuaian, bukan tarif seragam

Bambang juga menekankan angka 15 persen bukan berarti seluruh anggota Aptrindo menaikkan tarif dengan besaran yang sama. Di lapangan, perusahaan tetap menentukan ongkos muat secara mandiri dengan mempertimbangkan kondisi operasional masing-masing.

Penentuan tarif, menurutnya, disesuaikan dengan jenis muatan, rute perjalanan, hubungan dengan pelanggan, hingga tingkat persaingan di wilayah setempat. Dengan cara itu, besar penyesuaian dapat berbeda antara satu perusahaan dan perusahaan lainnya.

“Kenaikan ongkos muat barang 15 persen baru awal sebagai upaya agar kita tidak tenggelam saja, jadi lempar sekoci dulu, tapi belum ideal,” ujarnya.

Meski demikian, Bambang menyebut arah kenaikan tarif cenderung bergerak sama karena tekanan biaya yang dihadapi relatif serupa di berbagai lini usaha. Persaingan tetap mendorong pelaku angkutan untuk mencari keseimbangan antara kebutuhan operasional dan daya beli pengguna jasa.

Dalam penjelasannya, Bambang menggarisbawahi bahwa angka 15 persen lebih merepresentasikan rata-rata penyesuaian yang terjadi di pasar angkutan barang. Angka tersebut bukan tarif resmi, dan bukan pula kesepakatan bersama di antara seluruh anggota asosiasi.

Dengan demikian, kenaikan ongkos muat yang tengah berlangsung dipahami sebagai respons bertahap atas perubahan struktur biaya. Sementara efisiensi dan optimalisasi armada terus dikerjakan, penyesuaian tarif dipilih agar dampaknya tidak datang sekaligus bagi pengguna jasa.