jurnalistik.co.id – JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Jumat (29/5/2026) di zona merah setelah sempat bergerak nyaman di area penguatan sepanjang hari. Pada akhir sesi, indeks justru berbalik arah dan terseret melemah oleh sejumlah saham berkapitalisasi besar atau big caps yang menjadi penekan utama.
IHSG ditutup di level 6.127, turun 0,05% atau 2,8 poin dibandingkan penutupan sehari sebelumnya. Sepanjang perdagangan, arah pasar sempat terlihat jauh lebih positif. Setelah dibuka pada pagi hari, IHSG terus melaju di zona hijau dan bahkan sempat menyentuh level tertinggi intraday di 6.230.
Namun, menjelang penutupan, pergerakan indeks berubah arah. Dari posisi yang semula menguat, IHSG berangsur turun hingga menyentuh level terlemah harian di 6.111. Tekanan terbesar datang dari saham-saham berbobot besar yang melemah cukup dalam, termasuk BBCA dan BBRI, yang disebut ikut menjadi penyebab utama perubahan arah indeks pada akhir perdagangan.
Di tengah kondisi tersebut, pelemahan IHSG juga tidak lepas dari sentimen rebalancing MSCI. Efek penyesuaian indeks itu disebut terjadi seiring outflow asing menjelang efektifnya indeks MSCI pada 29 Mei. Sentimen negatif dari pasar saham juga diperkuat oleh pelemahan rupiah yang pada penutupan hari yang sama tercatat turun 0,48% ke level Rp17.874 per dolar AS berdasarkan data Bloomberg di pasar spot.
Pergerakan rupiah yang melemah menambah tekanan bagi pasar domestik. Dalam situasi seperti ini, pasar saham dan nilai tukar sama-sama berada dalam kondisi yang kurang bersahabat, sehingga tekanan yang muncul di akhir sesi menjadi lebih terasa. Kombinasi pelemahan big caps, rebalancing MSCI, dan rupiah yang terkoreksi membuat IHSG gagal mempertahankan penguatan yang sempat terlihat sejak awal perdagangan.
Meski berakhir melemah tipis, aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia tetap berlangsung dalam volume besar. Data BEI menunjukkan nilai transaksi mencapai Rp50,14 triliun. Adapun jumlah saham yang berpindah tangan tercatat sebanyak 47,21 miliar saham, dengan frekuensi transaksi menembus 2,37 juta kali perdagangan.
Pergerakan itu memperlihatkan bahwa minat transaksi di pasar tetap tinggi, meski arah indeks pada akhirnya tidak mampu bertahan di area hijau. Sepanjang sesi, pasar sempat menunjukkan optimisme, tetapi tekanan jual pada saham-saham dengan bobot besar membuat posisi indeks merosot lagi menjelang penutupan.
Dengan demikian, perdagangan Jumat menutup pekan dengan IHSG yang berada sedikit di bawah level penutupan sebelumnya. Meski penurunannya tipis, arah gerak indeks pada hari itu cukup jelas menunjukkan bagaimana saham-saham big caps dapat menjadi penentu utama saat pasar kehilangan tenaga di penghujung sesi.
Perubahan arah yang terjadi di penghujung perdagangan juga menunjukkan bahwa kekuatan pasar pada sesi ini tidak cukup solid untuk menahan tekanan jual ketika sentimen melemah. Selama sebagian besar jam perdagangan, IHSG memang masih tampak mampu bertahan di jalur positif, tetapi dorongan itu akhirnya terkikis ketika pasar mulai merespons faktor eksternal dan pergerakan saham-saham utama bergerak ke wilayah negatif.
Bagi pelaku pasar, kondisi seperti ini biasanya menjadi pengingat bahwa penguatan indeks tidak selalu berarti dukungan yang merata di seluruh saham. Saat big caps mulai terkoreksi, ruang bagi indeks untuk menjaga posisi hijau menjadi semakin sempit. Karena itu, meski penurunannya tipis, penutupan IHSG pada perdagangan Jumat memperlihatkan betapa rentannya pasar ketika tekanan datang bersamaan dari sisi aksi jual asing, pelemahan rupiah, dan koreksi pada saham dengan bobot besar.












