jurnalistik.co.id – Militer Amerika Serikat (AS) menyerang situs radar pantai Iran pada Sabtu (6/6/2026) setelah menembak jatuh drone yang diluncurkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di Selat Hormuz. Langkah ini dipaparkan sebagai eskalasi terbaru di tengah upaya menghentikan perang yang telah berlangsung selama tiga bulan.
Menurut pengumuman militer, AS melakukan serangan sebagai respons langsung terhadap drone Iran yang sebelumnya ditembak jatuh. Di waktu yang sama, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan di akun resminya bahwa AS kemudian menyerang situs pengawasan di Goruk dan Pulau Qeshm, keduanya berada di Selat Hormuz.
Pejabat AS mengatakan kepada Reuters bahwa empat drone Iran menargetkan lalu lintas maritim regional. Pernyataan itu menjadi dasar pembenaran tindakan AS, sekaligus menggambarkan keterkaitan serangan lintas wilayah di kawasan tersebut.
IRGC, di sisi lain, menyatakan serangan ke Pulau Qeshm dan Goruk merupakan balasan atas serangan AS. Dalam perkembangan yang sama, Kementerian Pertahanan Kuwait melaporkan bahwa pihaknya mencegat tujuh rudal balistik yang diluncurkan IRGC pada Sabtu.
Pelaporan dari Kuwait menggarisbawahi bahwa gelombang serangan berlanjut melibatkan beberapa titik di sekitar Selat Hormuz. Setelah pengumuman tersebut, fokus pemberitaan turut bergeser pada dampak serangan terhadap fasilitas dan sistem pengawasan di kawasan perairan strategis.
Negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran disebut masih berjalan dalam bentuk yang sebagian besar tidak langsung. Tujuannya adalah mengamankan kesepakatan sementara untuk menghentikan perang, dengan sejumlah isu—termasuk program nuklir Iran—diupayakan untuk dinegosiasikan lebih lanjut.
Meski demikian, di tengah bentrokan yang tetap berlangsung, pihak-pihak terkait menilai kesepakatan masih sulit dicapai. Iran, sebagai bagian dari kerangka kesepakatan apa pun, menginginkan akses ke pendapatan minyak senilai miliaran dolar, pengecualian sanksi ekspor minyak mentah, pencabutan blokade AS terhadap pelabuhannya, serta pengaruh atas selat tersebut.
Dalam konteks strategis, Iran disebut secara efektif telah memblokir Selat Hormuz—jalur yang menurut laporan memuat sekitar seperlima minyak dunia sebelum perang. Klaim ini memperlihatkan bahwa perselisihan yang berlangsung tidak hanya bersifat militer, tetapi juga terkait kepentingan ekonomi dan logistik regional global.
Di Amerika Serikat, Presiden Donald Trump menghadapi tekanan politik domestik yang meningkat akibat kenaikan harga bahan bakar untuk tujuan mengakhiri perang yang dinilai tidak populer. Ia mengatakan kepada NBC bahwa meskipun sebagian besar fasilitas manufaktur drone dan rudal Iran telah dihancurkan, Iran masih memiliki akses ke sekitar seperlima rudal mereka.
Dengan rangkaian serangan yang saling susul-menyusul, eskalasi terbaru ini kembali menegaskan posisi Selat Hormuz sebagai titik rawan konflik. Baik laporan mengenai drone di Selat Hormuz maupun pencegatan rudal balistik di Kuwait menunjukkan bahwa dinamika pertempuran dan proses diplomasi berjalan beriringan, namun belum cukup untuk menghentikan bentrokan secara penuh.
Serangan pada Sabtu itu juga memperlihatkan pola saling menanggapi yang membentuk eskalasi berlapis. Setelah AS menyebut tindakan terhadap drone Iran sebagai pemicu, pusat komando AS (CENTCOM) memaparkan serangan susulan ke fasilitas pengawasan di Goruk dan Pulau Qeshm. Rangkaian ini kemudian diikuti narasi balasan dari IRGC yang menempatkan serangan tersebut sebagai respons atas tindakan pihak AS.
Di saat yang sama, laporan dari Kuwait menambah gambaran bahwa ancaman di kawasan tidak terbatas pada satu titik. Pihak Kementerian Pertahanan Kuwait menyatakan terjadi upaya pencegatan terhadap rudal balistik yang diluncurkan IRGC, sehingga benturan melibatkan beberapa lokasi di sekitar Selat Hormuz. Dengan latar itu, proses negosiasi yang masih berjalan secara tidak langsung dipandang tetap sulit, terutama karena Iran mengaitkan kemungkinan kesepakatan dengan akses pendapatan minyak dan pengecualian sanksi ekspor.












