Peristiwa

Kebakaran Hutan Lindung di Bali Utara Meluas, Pemadaman Terkendala Medan Terjal

×

Kebakaran Hutan Lindung di Bali Utara Meluas, Pemadaman Terkendala Medan Terjal

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Hutan Lindung di Bali Utara Terbakar, Pemadaman Terkendala Medan Terjal

jurnalistik.co.id – Kebakaran melanda kawasan hutan lindung di Bali Utara, tepatnya di perbukitan Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng. Petugas menghadapi kendala utama di lapangan: medan yang terjal dan sulit dijangkau membuat pemadaman tidak bisa mengandalkan kendaraan maupun armada pemadam.

Kejadian pertama kali dilaporkan pada Jumat (17/7/2026) sekitar pukul 21.00 Wita. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Buleleng, Gede Suyasa, menyebut kobaran api sempat terlihat besar dari lokasi yang berjarak sekitar dua kilometer.

Suyasa mengatakan api terpantau dari kawasan Vila Bukit Kursi dan pergeserannya berlangsung cepat. Ia menuturkan, “Api terlihat cukup besar dan pergeserannya cukup cepat,” saat dikonfirmasi pada Minggu (19/7/2026).

Setelah laporan diterima, Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Buleleng bersama BPBD Provinsi Bali langsung bergerak menuju lokasi. Namun pada Jumat malam, upaya pemadaman belum dapat dilakukan karena kondisi gelap dan akses menuju titik kebakaran dinilai membahayakan.

Dalam penjelasannya, Suyasa menyampaikan, “Pada Jumat malam api belum bisa dipadamkan karena medan menuju lokasi cukup membahayakan dan kondisi gelap. Tim hanya bisa memantau perkembangan api dari kejauhan.” Dengan demikian, pada malam hari fokus penanganan lebih diarahkan pada pemantauan perkembangan.

Pemadaman manual di tengah medan terjal Pada Sabtu (18/7/2026), tim gabungan kembali mendaki menuju lokasi untuk melakukan pemadaman. Mengingat area kebakaran berada di wilayah perbukitan yang tidak dapat dijangkau kendaraan, penanganan dilakukan secara manual menggunakan peralatan sederhana yang dapat dibawa ke titik api.

Personel membawa kantong air (water bag) serta memanfaatkan dahan pohon untuk memukul kobaran api pada beberapa titik. Cara ini dipilih agar api dapat dikendalikan dari dekat, meski medan tetap menjadi tantangan dalam mobilisasi tenaga dan peralatan.

Untuk mempercepat penanganan, personel kemudian dibagi menjadi dua regu. Pembagian tugas itu memungkinkan pemadaman dilakukan dari beberapa sisi sekaligus, dengan tujuan menghambat penyebaran api ke bagian hutan lindung yang lebih luas.

Hingga Sabtu sore, api masih tampak di sejumlah titik dan terus menyebar. Perluasan tersebut didorong oleh vegetasi yang kering serta embusan angin di kawasan perbukitan.

Suyasa menegaskan seluruh upaya dilakukan dengan mempertimbangkan keselamatan petugas di lapangan. Ia menyatakan, “Seluruh personel gabungan tetap melaksanakan upaya pemadaman dan pengendalian api secara maksimal dengan mengutamakan keselamatan petugas di lapangan.”

Luas terdampak dan penyebab masih didata Pada tahap awal, BPBD Kabupaten Buleleng belum dapat memastikan luas kawasan hutan yang terbakar maupun penyebab munculnya api. Pemadaman dilakukan hingga Sabtu pukul 17.00 Wita.

Saat ini, kondisi lokasi kebakaran masih dipantau oleh pemerintah desa dan kecamatan. Suyasa menutup keterangannya dengan menyebut, “Proses pemadaman kemarin sampai pukul 17.00 Wita. Saat ini masih dalam pemantauan pemerintah desa dan kecamatan. Mudah-mudahan tidak terjadi kebakaran lagi.”

Menurut keterangan yang dihimpun, operasi sempat terkendala bukan hanya oleh akses yang sulit, tetapi juga karena situasi malam yang membuat titik api tidak mudah dijangkau langsung. Karena itulah, selama jeda waktu tersebut penguatan respons lebih menekankan pada pemantauan jarak jauh sambil menyiapkan langkah penanganan berikutnya.

Pada fase pemadaman yang dilakukan di hari berikutnya, pendekatan tetap menyesuaikan karakter area perbukitan yang tidak memungkinkan penggunaan kendaraan pemadam. Personel memaksimalkan alat yang dapat dibawa, sekaligus memanfaatkan teknik pemukulan pada titik-titik yang terlihat untuk membantu menekan kobaran agar tidak makin melebar.

Upaya pengendalian dilakukan secara bertahap dan terkoordinasi, termasuk dengan pembagian regu agar tindakan bisa dilakukan dari beberapa arah. Penanganan diarahkan untuk menghambat perluasan ke hamparan hutan lindung yang lebih luas, terlebih ketika kondisi lapangan menunjukkan vegetasi kering dan embusan angin yang dapat mempercepat penyebaran.