Peristiwa

Danti, Ibu Hamil di Sinjai, Rela Menerobos Banjir Setinggi Paha ke RS Bersalin Restu Ibu

×

Danti, Ibu Hamil di Sinjai, Rela Menerobos Banjir Setinggi Paha ke RS Bersalin Restu Ibu

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Perjuangan Ibu Hamil Terobos Banjir Setinggi Paha di Sinjai demi Bisa Melahirkan di RS

jurnalistik.co.id – Sinjai, Sulawesi Selatan, menorehkan kisah tentang keteguhan seorang ibu hamil, Danti, yang harus menerobos banjir setinggi paha untuk tiba di Rumah Sakit Bersalin Restu Ibu.

Keinginannya sederhana: mendapatkan penanganan medis saat waktu persalinan semakin dekat. Pada Minggu, 19 Juli 2026, perjalanan yang seharusnya singkat justru berubah menjadi upaya penyelamatan di tengah genangan.

Menurut informasi di lapangan, Danti tinggal di Kelurahan Balangnipa, Kecamatan Sinjai Utara. Ia hendak menuju rumah sakit yang berlokasi di Jalan Dr Hamka, Kelurahan Biringere, dengan bantuan warga dan personel kepolisian.

Danti awalnya berangkat dari rumah menuju Rumah Sakit Bersalin Restu Ibu. Rutenya dimulai dari Jalan Persatuan Raya, dengan jarak sekitar 8,7 kilometer ke lokasi rumah sakit.

Dalam kondisi normal, jalur tersebut dapat ditempuh sekitar 14 menit menggunakan kendaraan. Namun, banjir yang merendam sejumlah ruas jalan utama di Kota Sinjai membuat rute dan mobilitas kendaraan menjadi tidak mungkin.

Banjir itu sudah terjadi sejak dini hari dan menggenangi area yang menghubungkan permukiman dengan pusat layanan kesehatan. Situasi tersebut membuat akses jalan menuju rumah sakit terhambat karena kedalaman air cukup tinggi.

Danti ditumpangi mobil berwarna putih, yakni Toyota Rush. Saat rombongan mencoba melanjutkan perjalanan, genangan dengan ketinggian setara paha orang dewasa menghalangi kendaraan untuk mencapai halaman rumah sakit.

Ketika kendaraan tidak dapat diteruskan, sopir mulai mencari jalur alternatif agar Danti tetap bisa mendapat penanganan. Rencana itu dilakukan dengan memutar kendaraan melalui Jalan Baso Kalaka, dengan harapan bisa kembali terhubung ke Jalan Dr Hamka.

Upaya tersebut kembali menemui kendala. Akses menuju rumah sakit masih tertutup genangan, sehingga kendaraan tetap tidak bisa membawa Danti lebih dekat ke tujuan.

Di tengah kondisi tersebut, Danti akhirnya turun dari kendaraan. Ia kemudian berjalan kaki menerobos banjir sejauh sekitar 50 meter menuju area rumah sakit.

Langkah Danti tidak mudah, mengingat ia sedang dalam kondisi hamil dan hendak bersalin. Perjalanan dengan medan tergenang air membutuhkan bantuan karena ketinggian genangan membuat langkah harus dilakukan hati-hati.

Peristiwa itu menarik perhatian sejumlah orang yang berada di Warkop Candy, tidak jauh dari lokasi. Warga yang melihat kondisi Danti secara spontan turun tangan untuk mendampingi agar ia bisa melanjutkan perjalanan dengan aman.

Selain warga, bantuan juga datang dari personel Polres Sinjai. Pendampingan dilakukan untuk mengiringi Danti hingga tiba di Rumah Sakit Bersalin Restu Ibu.

Proses evakuasi tersebut menjadi penentu agar Danti tetap bisa mendapatkan layanan medis tanpa tertunda terlalu lama. Setelah berhasil melewati banjir, ia masuk ke rumah sakit dan menerima penanganan medis dengan selamat.

Perjalanan yang semula direncanakan dengan ritme biasa berubah menjadi rangkaian keputusan cepat di lokasi. Saat akses kendaraan tertutup, tindakan berubah menjadi berjalan kaki, lalu pendampingan langsung dari warga dan petugas.

Kisah ini menunjukkan betapa pentingnya kesiapsiagaan saat bencana mengganggu akses menuju layanan kesehatan. Dalam kasus Danti, jarak yang semestinya ditempuh dalam hitungan menit menjadi tantangan besar akibat banjir setinggi paha yang merendam jalur utama.

Di sisi lain, antisipasi melalui jalur alternatif juga tidak selalu menghasilkan jalan keluar ketika genangan menutup beberapa titik sekaligus. Jalan Persatuan Raya yang menjadi awal rute, lalu Jalan Baso Kalaka sebagai opsi putar balik, sama-sama berujung pada keterbatasan akses.

Meski demikian, upaya yang dilakukan tetap mengutamakan tujuan utama: memastikan Danti bisa tiba dan memperoleh penanganan sesuai kebutuhannya. Kehadiran warga di sekitar lokasi serta peran personel Polres Sinjai membantu proses pendampingan berlangsung lebih terkendali.

Setibanya di rumah sakit, Danti akhirnya mendapatkan pelayanan medis. Dari situ, perhatian bergeser pada penanganan kesehatan sebagai lanjutan dari perjalanan yang berisiko akibat kondisi cuaca dan banjir.

Peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa bencana tidak hanya berdampak pada infrastruktur, tetapi dapat langsung mengancam keselamatan kelompok rentan. Ibu hamil memerlukan akses cepat dan aman, sementara banjir kerap menutup jalan dan memperlambat mobilitas.

Di tengah keterbatasan tersebut, keteguhan Danti dan kolaborasi warga serta petugas akhirnya membawa proses evakuasi menuju rumah sakit berjalan hingga tujuan tercapai. Cerita tentang langkah 50 meter menerobos genangan itu pun menjadi bagian dari catatan lapangan yang menguatkan pentingnya solidaritas saat keadaan darurat.