Daerah

Kemkomdigi Klaim Layanan Telekomunikasi di Sumatera Pulih 100% usai Blackout 2 Hari

1
×

Kemkomdigi Klaim Layanan Telekomunikasi di Sumatera Pulih 100% usai Blackout 2 Hari

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Pemerintah Klaim Layanan Telekomunikasi di Sumatra Pulih 100% - Sektor Riil

jurnalistik.co.id – Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) Republik Indonesia mengeklaim layanan telekomunikasi di wilayah Sumatera sudah kembali pulih sepenuhnya setelah insiden mati listrik massal yang berlangsung selama dua hari. Pemulihan itu disebut tercapai usai gangguan blackout yang terjadi sejak Jumat (22/05/2026) hingga Minggu (24/05/2026) lalu.

Dalam siaran pers yang dikutip pada Jumat (29/05/2026), Kemkomdigi RI menyampaikan tingkat pemulihan sudah berada di level penuh sejak Kamis (28/05/2026) dini hari. Pemerintah menyebut kondisi tersebut stabil dan tidak menunjukkan penurunan kembali sampai beberapa jam setelahnya.

“Tingkat pemulihan tetap pada 100% sejak tercapai pada 28 Mei 2026 pukul 00.00 WIB, dan bertahan stabil hingga pukul 09.00 WIB,” kata Kemkomdigi RI lewat siaran pers, dikutip Jumat (29/05/2026).

Pemerintah pun mengeklaim layanan telekomunikasi di kawasan tersebut telah berjalan normal. Pernyataan itu menjadi penegasan bahwa pemulihan tidak hanya bersifat sementara, melainkan sudah masuk ke fase stabil setelah gangguan yang sempat melumpuhkan jaringan.

Selain itu, Kemkomdigi RI menyebut seluruh site atau stasiun pemancar, yakni base transceiver station (BTS), kini berada dalam keadaan normal. Artinya, tidak ada lagi infrastruktur yang tercatat masih mengalami kendala operasional setelah proses pemulihan dilakukan.

“Tidak ada lagi site yang berstatus down (padam),” ujar Kemkomdigi RI.

Klaim tersebut menunjukkan bahwa jaringan telekomunikasi di Sumatera sudah kembali berfungsi tanpa ada titik pemancar yang tersisa dalam status terganggu. Dalam konteks layanan komunikasi publik, pemulihan BTS menjadi salah satu indikator utama untuk memastikan akses masyarakat terhadap layanan seluler kembali berjalan seperti semula.

Kemkomdigi juga menyampaikan bahwa tidak terdapat penambahan site terdampak baru maupun gangguan susulan. Dengan demikian, menurut pemerintah, proses normalisasi yang dilakukan sejauh ini belum memunculkan masalah lanjutan yang bisa mengganggu kestabilan layanan di lapangan.

Meski kondisi dinyatakan pulih, Kemkomdigi RI menegaskan pemantauan tetap akan dilakukan. Lembaga itu mengatakan pengawasan perlu terus dijalankan untuk mengantisipasi kemungkinan gangguan lanjutan, terutama agar situasi yang sudah stabil tidak kembali terganggu.

“Kemkomdigi akan terus melakukan pemantauan untuk mengantisipasi potensi gangguan lanjutan,” tutur Kemkomdigi RI.

Insiden blackout selama dua hari tersebut sebelumnya menjadi sorotan karena berdampak pada sejumlah layanan dasar di wilayah Sumatera. Dalam pernyataan terbaru ini, pemerintah berupaya menegaskan bahwa pemulihan telekomunikasi telah menyentuh level penuh dan situasi disebut telah kembali terkendali.

Dengan status pemulihan 100% yang diklaim sejak 28 Mei 2026 pukul 00.00 WIB, pemerintah menilai layanan komunikasi di Sumatera saat ini sudah berada pada kondisi normal. Fokus berikutnya, menurut Kemkomdigi, adalah memastikan stabilitas itu tetap terjaga agar tidak muncul gangguan baru setelah blackout yang terjadi pada akhir pekan sebelumnya.

Di sisi lain, pernyataan tersebut juga mengisyaratkan bahwa proses pemulihan tidak berhenti pada tahap perbaikan teknis semata, melainkan sudah masuk ke fase pengawasan rutin. Pemerintah ingin memastikan layanan yang telah kembali normal itu tetap bertahan, terutama karena gangguan sebelumnya berlangsung cukup lama dan sempat memengaruhi kenyamanan masyarakat dalam berkomunikasi.

Dengan demikian, penanganan pascablackout kini tampak diarahkan pada dua hal utama, yaitu menjaga kestabilan jaringan dan mencegah munculnya gangguan baru. Klaim pulih sepenuhnya yang disampaikan Kemkomdigi RI menjadi penanda bahwa infrastruktur telekomunikasi di Sumatera telah kembali beroperasi, meski pemantauan masih dianggap perlu untuk memastikan kondisi normal tersebut tidak berubah kembali.

Dalam situasi seperti ini, penekanan pemerintah pada pemantauan berkelanjutan menjadi penting agar pemulihan yang sudah dicapai tidak kembali terganggu. Status normal yang diklaim Kemkomdigi RI pun diposisikan bukan sebagai akhir proses, melainkan sebagai titik awal untuk menjaga layanan tetap konsisten di wilayah yang sempat terdampak blackout.

Karena itu, fokus utama saat ini tampaknya adalah memastikan jaringan tetap stabil dari waktu ke waktu. Jika kondisi tersebut bertahan, klaim pemulihan penuh yang disampaikan pemerintah akan memiliki bobot yang lebih kuat, sebab tidak hanya ditopang oleh perbaikan teknis, tetapi juga oleh kestabilan layanan setelah masa gangguan berakhir.