Bisnis & Ekonomi

Kenaikan Harga Pertamax Picu Antrian Pertalite Mengular di Bener Meriah

0
×

Kenaikan Harga Pertamax Picu Antrian Pertalite Mengular di Bener Meriah

Sebarkan artikel ini
Harga Pertamax Naik, Antrian Pertalite Mengular di Bener Meriah Regional 14 Juni 2026
Ilustrasi: Harga Pertamax Naik, Antrian Pertalite Mengular di Bener Meriah

jurnalistik.co.id – Kenaikan harga Pertamax memicu antrean Pertalite yang mengular di sejumlah SPBU di Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Pantauan di lapangan menunjukkan banyak warga sudah lebih awal datang untuk mendapatkan antrean pengisian BBM subsidi.

Di SPBU Pante Raya, Kecamatan Wih Pesam, Sabtu (13/6/2026), puluhan warga mulai mengantre bahkan sebelum gerai dibuka. Kendaraan tampak berderet memenuhi halaman tempat pengisian bahan bakar.

Salah satu warga, Hasanah, mengatakan ia memilih datang lebih awal karena khawatir antrean akan semakin panjang jika terlambat. “Nanti kalau datang telat, antrean Pertalitenya panjang sekali, jadi makan waktu lama,” ungkap Hasanah.

Hasanah mengaku rela menunggu hingga 1–2 jam sebelum SPBU dibuka. “Setengah tujuh sudah di SPBU, itupun sudah beberapa sepeda motor yang mengantre, dapat antrean nomor 5, Alhamdulillah nanti enggak lama lagi nunggunya,” ujar Hasanah.

Di lokasi lain, antrean pengisian Pertalite juga tampak panjang hingga ke jalan raya. Kondisi tersebut terlihat di SPBU Blok C, Kecamatan Timang Gajah.

Warga setempat, Muhammad Zakir, mengaku mulai beralih ke Pertalite karena harga Pertamax mengalami peningkatan yang signifikan. Menurut Zakir, sebelumnya ia kerap mengisi Pertamax bila antrean Pertalite masih tersedia.

Zakir menuturkan perubahan harga membuat dirinya harus mempertimbangkan kembali pilihan BBM. “Kemarin itu, sebelum dinaikin pemerintah, Pertamax masih terjangkau ya, masih bisalah dibeli. Kalau harga yang sekarang harusmikir seribu kali,” tutur Zakir.

Ia mengatakan kondisi tersebut memaksanya ikut antrean ketika tangki sepeda motornya mulai kehabisan bahan bakar. “Kalau sudah habis, mau nggak mau ikut antre,” kata Zakir, merujuk pada situasi saat BBM untuk kendaraan mulai berkurang.

Selain SPBU Pante Raya dan Blok C, antrean panjang juga terjadi di SPBU Pondok Baru, Kecamatan Bandar, serta SPBU Simpang Teritit, Kecamatan Bukit. Di beberapa titik itu, warga terlihat menunggu lebih awal agar mendapat giliran pengisian.

Fenomena antrean tersebut sejalan dengan kebijakan penyesuaian harga bahan bakar non-subsidi yang berlaku di berbagai wilayah, termasuk Aceh. Beberapa waktu lalu, Sekretaris Perusahaan Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa kenaikan harga nonsubsidi dilakukan secara berkala.

Roberth MV Dumatubun menyebut proses penyesuaian dilakukan setelah melalui evaluasi formula harga yang ditetapkan pemerintah. Ia juga menekankan pertimbangan meliputi perkembangan harga minyak dunia dan nilai keekonomian pasar.

Dalam penyesuaian tersebut, bahan bakar bersubsidi jenis Pertalite tidak mengalami kenaikan dengan harga Rp 10.000 per liter. Begitu pula Biosolar yang tetap Rp 6.800 per liter.

Sementara itu, beberapa jenis bahan bakar non-subsidi mengalami penyesuaian harga. Pertamax tercatat berada pada kisaran Rp 16.250 hingga Rp 16.650 per liter.

Adapun Pertamax Green 95 dijual seharga Rp 17.000 per liter, sedangkan Pertamax Turbo berada di Rp 20.750 per liter. Untuk kategori lainnya, Dexlite dipatok Rp 23.000 per liter dan Pertamina Dex Rp 24.800 per liter.

Dengan adanya perbedaan harga antara bahan bakar non-subsidi dan bersubsidi, sejumlah pengguna di Bener Meriah memilih menunggu giliran di SPBU agar bisa mendapatkan Pertalite. Antrean yang mengular di beberapa SPBU memperlihatkan dinamika perubahan pilihan BBM di tengah penyesuaian harga tersebut.

Di tengah antrean panjang, warga berusaha mengatur waktu kedatangan agar tidak terlalu lama menunggu. Hasanah mencontohkan bahwa ia datang lebih awal sampai mendapat antrean nomor 5, sementara Zakir menggambarkan beralih ke Pertalite ketika Pertamax terasa tidak lagi terjangkau seperti sebelumnya.

Langkah antrean itu menjadi respons langsung di lapangan terhadap penyesuaian harga non-subsidi yang disebut dilakukan secara berkala. Di beberapa titik, proses menunggu sebelum SPBU dibuka terlihat menjadi bagian dari strategi warga agar tetap memperoleh BBM yang disasar.