Bisnis & Ekonomi

Zahroni UMKM Seafood Muara Angke Raup Hingga 300 Kg Kerang per Hari ke Pulau Jawa lewat Digitalisasi Marketplace

×

Zahroni UMKM Seafood Muara Angke Raup Hingga 300 Kg Kerang per Hari ke Pulau Jawa lewat Digitalisasi Marketplace

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Saat Marketplace Membawa UMKM Seafood Muara Angke Menembus Pasar yang Lebih Luas

jurnalistik.co.id – Zahroni, pelaku UMKM seafood frozen dari Muara Angke, Jakarta Utara, menunjukkan bagaimana digitalisasi dapat membuka pasar yang lebih luas. Ia mengandalkan marketplace untuk menjual kerang dan produk seafood beku hingga 100–300 kilogram per hari, termasuk kiriman ke wilayah di Pulau Jawa.

Zahroni mengaku mulai memasarkan produknya melalui platform belanja daring dan media sosial sejak tahun 2021. Langkah tersebut membuat penjualan tidak lagi bergantung pada cara-cara konvensional di lokasi produksi, tetapi menjangkau pembeli dari berbagai daerah.

Dengan model penjualan tersebut, Zahroni menyebut mampu menjual beranekaragam kerang sebanyak 100 hingga 300 Kg setiap harinya. Angka itu menjadi bukti bahwa produk seafood frozen bisa tetap bergerak secara rutin apabila distribusi dan pemasaran ditangani secara konsisten.

Pengiriman ke luar Jakarta juga menjadi bagian penting dari perluasan pasar. Zahroni menekankan bahwa sistem pengemasan dingin memungkinkan produk tetap terjaga selama proses pengiriman. Ia mengatakan, “Kirim keluar kota juga aman, kan pakai boks stereofoam pakai es batu biar tetap beku dan dingin. Perjalanan satu hingga dua hari juga aman tetap segar sampai tangan konsumen,” kata dia ketika diwawancarai di Muara Angke, Kamis (23/7/2026).

Menurut Zahroni, pengemasan menggunakan boks styrofoam (stereofoam) dan es batu menjadi kunci agar suhu tetap terjaga. Ia menyebut perjalanan 1–2 hari dinilai masih aman untuk menjaga kondisi produk sampai diterima konsumen.

Di sisi lain, Pemprov DKI melalui Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Perikanan (DKPKP) juga melihat pemanfaatan digitalisasi sebagai tren yang semakin nyata di kalangan UMKM seafood frozen Muara Angke. Kepala DKPKP Provinsi DKI Jakarta Hasudungan Sidabalok mengatakan pemanfaatan digitalisasi tidak berhenti pada sekadar promosi, tetapi turut memengaruhi cara transaksi dan layanan kepada pelanggan.

Hasudungan menyebutkan, “Semakin banyak pelaku usaha yang tidak lagi hanya mengandalkan penjualan secara konvensional atau offline, tetapi mulai memanfaatkan marketplace, media sosial, layanan pesan instan, hingga platform pengiriman instan untuk memperluas jangkauan pasar,” ucap Hasudungan ketika dihubungi pada Kamis (23/7/2026).

Di dalam kerangka tersebut, digitalisasi dinilai tidak hanya memperbesar peluang penjualan, melainkan juga mendorong efisiensi bisnis UMKM. Pemesanan menjadi lebih mudah, komunikasi dengan pelanggan berlangsung lebih cepat, promosi produk lebih efektif, dan transaksi dapat dilakukan secara digital. Dari perubahan proses tersebut, Hasudungan menilai UMKM berpotensi membentuk pelanggan tetap melalui kanal-kanal online.

Meski demikian, peningkatan pendapatan tetap bergantung pada kesiapan masing-masing pelaku usaha. Hasudungan menekankan besarnya hasil yang diperoleh tidak bisa dilepaskan dari kualitas produksi, kemasan yang mampu menjaga kondisi produk, kemampuan pelaku dalam memanfaatkan media digital, serta konsistensi dalam memberikan pelayanan kepada konsumen.

Prospek bisnis berbasis digital

DKPKP Provinsi DKI Jakarta menilai prospek bisnis seafood frozen yang memanfaatkan pendekatan digital dalam lima tahun ke depan sangat menjanjikan. Dengan dukungan digitalisasi, UMKM seperti Zahroni dapat mempertahankan ritme penjualan dan memperluas jangkauan distribusi, sehingga pasar tidak terbatas di satu wilayah saja.

Dalam praktiknya, kombinasi pemasaran daring dan logistik rantai dingin menjadi faktor yang menentukan keberlanjutan. Ketika pengemasan dan pengiriman berjalan sesuai kebutuhan produk, peluang untuk mengirim ke berbagai wilayah di Pulau Jawa tetap terbuka, sekaligus memperkuat posisi UMKM dalam persaingan pasar yang semakin terhubung secara digital.

Dalam pengelolaan hariannya, Zahroni memanfaatkan jalur penjualan daring untuk membuat proses pemesanan lebih tertata dan respons terhadap permintaan pelanggan berjalan cepat. Ketika transaksi tidak semata bergantung pada interaksi di lokasi produksi, pelaku bisa menjangkau pembeli dari berbagai daerah sekaligus menjaga ritme perputaran barang.

Untuk mendukung penyaluran ke luar Jakarta, pengaturan kemasan ikut menentukan kelancaran distribusi. Zahroni menekankan penggunaan boks styrofoam (stereofoam) dan es batu sebagai upaya mempertahankan suhu agar produk tetap dalam kondisi beku hingga diterima konsumen, termasuk saat menempuh perjalanan satu sampai dua hari.

DKPKP menilai keberlanjutan prospek ini juga bergantung pada kesiapan pelaku, mulai dari kualitas produksi, kemampuan merawat kondisi produk lewat kemasan yang tepat, sampai konsistensi dalam melayani pelanggan melalui kanal-kanal digital. Jika faktor-faktor tersebut berjalan beriringan, UMKM dapat memperkuat kepercayaan pembeli dan membangun peluang pelanggan yang datang kembali melalui platform online.