Nasional

KRI Bung Hatta dan KRI Teluk Kupang Gelar Latihan Evakuasi Medis di Balikpapan

0
×

KRI Bung Hatta dan KRI Teluk Kupang Gelar Latihan Evakuasi Medis di Balikpapan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: KRI Bung Hatta dan KRI Teluk Kupang Latihan Evakuasi Medis hingga Manuver di Balikpapan

jurnalistik.co.id – JAKARTA — Dua kapal perang TNI AL, KRI Bung Hatta-370 dan KRI Teluk Kupang-519, menggelar latihan taktis di perairan Balikpapan, Kalimantan Timur, pada Senin (25/5/2026). Latihan ini menjadi bagian dari operasi laut yang tetap dijalankan sambil menjaga kesiapan unsur dan prajurit di lapangan.

Dalam kegiatan tersebut, helikopter Panther HS-1310 dilibatkan untuk simulasi evakuasi medis antarkapal. Skema ini memperlihatkan bagaimana unsur laut dan udara bekerja bersama ketika dibutuhkan penanganan medis lanjutan di tengah operasi.

Berdasarkan siaran pers Komando Armada (Koarmada) II, KRI Bung Hatta-370 dari Satuan Kapal Eskorta (Satkor) Koarmada II dan KRI Teluk Kupang-519 dari Satuan Kapal Amfibi (Satfib) Koarmada II terlebih dahulu melaksanakan patroli sektor. Setelah itu, keduanya menjalankan sejumlah serial latihan taktis yang sudah disiapkan.

Rangkaian materi latihan mencakup pemeriksaan komunikasi atau communication check, passing exercise, prosedur pendekatan pengisian logistik di laut atau replenishment at sea approach (RASAP), breakaway, hingga photo exercise (photex). Seluruh tahapan itu dilakukan sebagai bagian dari latihan yang menuntut ketepatan koordinasi antarunsur.

Latihan-latihan seperti ini tidak hanya menilai kemampuan kapal bergerak dan berkomunikasi di laut, tetapi juga melihat kesiapan personel saat menghadapi situasi yang membutuhkan respons cepat. Dalam konteks operasi laut, kemampuan menjalankan prosedur dasar secara rapi menjadi bagian penting dari kesiapan tempur maupun dukungan operasi.

“Dalam serial Medevac, disimulasikan adanya pasien yang harus dipindahkan antarkapal menggunakan helikopter Panther HS-1310 guna mendapatkan penanganan medis lanjutan,” bunyi keterangan yang dikutip pada Kamis (28/5/2026). Simulasi itu menjadi salah satu materi yang menonjol karena menggabungkan manuver kapal dengan dukungan udara dalam satu skenario latihan.

Komandan Gugus Tempur Laut (Danguspurla) Koarmada II Laksamana Pertama TNI Endra Hartono mengatakan, latihan tetap dilakukan di tengah operasi untuk menjaga kesiapan unsur maupun prajurit di lapangan. Menurut dia, latihan semacam ini memang tidak boleh terlepas dari ritme operasi yang sedang berlangsung.

Endra juga menegaskan bahwa latihan tersebut bertujuan mengasah kemampuan terbang helikopter dalam mendukung operasi penerbangan di kapal perang. Pada saat yang sama, latihan itu diarahkan untuk meningkatkan profesionalisme dan kesiapsiagaan prajurit saat melaksanakan tugas di laut.

Ia menyampaikan, seluruh rangkaian latihan berlangsung aman dan lancar. Endra menilai hasil tersebut menunjukkan kesiapan, koordinasi, dan profesionalisme prajurit Jalasena Koarmada II dalam mendukung tugas operasi di laut.

Latihan yang melibatkan kapal perang, helikopter, dan unsur taktis lain itu memperlihatkan pola kerja terpadu yang dibangun TNI AL di lapangan. Dari patroli sektor, komunikasi, pengisian logistik, hingga evakuasi medis, seluruh serial latihan ditempatkan dalam satu rangkaian untuk menguji kesiapan unsur laut secara menyeluruh.

Di perairan Balikpapan, latihan tersebut juga menegaskan bahwa operasi laut tidak hanya berkutat pada pergerakan kapal, tetapi juga pada kemampuan menjaga alur koordinasi saat menghadapi kebutuhan taktis yang berbeda-beda. Dengan begitu, setiap unsur yang terlibat tetap siap menjalankan tugas ketika situasi berubah dan menuntut tindakan cepat.

Latihan semacam ini juga memberi gambaran bahwa kesiapan operasi di laut tidak bisa berdiri pada satu unsur saja. Kapal perang dituntut mampu berkoordinasi cepat, helikopter harus siap mendukung dari udara, dan prajurit di masing-masing unsur perlu memahami alur tindakan sejak awal hingga akhir. Dengan pengujian berlapis seperti ini, setiap prosedur dapat dilihat kembali apakah sudah berjalan sesuai kebutuhan operasi.

Karena itu, rangkaian yang digelar di Balikpapan bukan sekadar latihan teknis, melainkan juga sarana menjaga kebiasaan kerja yang disiplin dan terukur. Saat patroli, komunikasi, pengisian logistik, hingga evakuasi medis dipadukan dalam satu skenario, para prajurit dilatih untuk tetap tenang, sigap, dan saling mendukung. Pola tersebut menjadi penting agar kesiapan unsur laut tetap terjaga ketika dihadapkan pada situasi nyata di lapangan.