Internasional

Krisis Iklim Ancam Kepunahan Sejumlah Spesies Tumbuhan di Dunia

0
×

Krisis Iklim Ancam Kepunahan Sejumlah Spesies Tumbuhan di Dunia

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Spesies Tumbuhan di Dunia Terancam Punah Gegara Krisis Iklim - Green

jurnalistik.co.id – Sejumlah tumbuhan yang selama ini memperindah bentang alam dunia diperkirakan tidak akan mampu bertahan hingga akhir abad ini. Para ilmuwan menilai krisis iklim kini menjadi salah satu pendorong utama meningkatnya risiko kepunahan spesies, karena perubahan iklim mengubah bentuk habitat dan kerap memperkecil wilayah yang dibutuhkan tumbuhan untuk tetap hidup.

Dalam studi yang mereka lakukan, para peneliti memodelkan sebaran masa depan berbagai spesies tumbuhan vaskular, yakni kelompok yang mencakup hampir semua tumbuhan di dunia. Tumbuhan vaskular memiliki jaringan pengangkut air dan nutrisi, sehingga mampu tumbuh dan berkembang dalam beragam lingkungan. Analisis ini menjadi penting karena perubahan iklim dapat memengaruhi bukan hanya suhu, tetapi juga pola sebaran tempat tumbuhan bisa bertahan.

Tim peneliti menelaah lebih dari 67.000 spesies, atau sekitar 18% dari seluruh tumbuhan vaskular yang telah dikenal di dunia. Dari hasil pemodelan itu, mereka menemukan bahwa 7% hingga 16% spesies yang diteliti berisiko kehilangan lebih dari 90% wilayah sebarannya. Kondisi tersebut menempatkan mereka pada risiko kepunahan yang tinggi.

Sejumlah contoh spesies yang disebut dalam temuan ini menunjukkan betapa luasnya ancaman tersebut. Salah satunya adalah Catalina ironwood, atau island ironwood, yaitu pohon endemik langka di California. Ada pula lumut jarum biru, yang berasal dari garis keturunan tumbuhan berusia lebih dari 400 juta tahun, serta sekitar sepertiga spesies Eucalyptus, salah satu kelompok tumbuhan paling ikonik di Australia.

Para peneliti memperoleh perkiraan itu setelah menganalisis jutaan catatan lokasi tumbuhan dan menggabungkannya dengan skenario emisi gas rumah kaca untuk periode 2081-2100. Dengan pendekatan tersebut, mereka mencoba melihat bagaimana perubahan iklim dapat memengaruhi habitat tumbuhan di masa depan, termasuk wilayah yang masih memungkinkan bagi spesies tertentu untuk bertahan hidup.

Hasil kajian itu memperlihatkan bahwa ancaman terhadap tumbuhan tidak hanya berlaku pada spesies yang sudah jarang terlihat. Bahkan kelompok tumbuhan yang selama ini dikenal luas pun dapat menghadapi tekanan besar ketika kondisi lingkungan berubah terlalu cepat. Dalam banyak kasus, masalahnya bukan semata jumlah individu yang tersisa, melainkan seberapa jauh habitat yang layak menyempit dalam waktu panjang.

Bagi sebagian spesies, kehilangan wilayah sebaran dalam skala besar berarti ruang hidup yang tersisa bisa menjadi terlalu sempit untuk menopang kelangsungan populasi. Itulah sebabnya para ilmuwan menyoroti risiko kehilangan lebih dari 90% sebaran sebagai tanda bahaya serius. Dalam konteks ini, perubahan iklim tidak lagi sekadar isu lingkungan, melainkan faktor yang dapat menentukan hidup-matinya banyak tumbuhan.

Temuan tersebut juga menegaskan bahwa krisis iklim berpotensi menggeser komposisi lanskap alam dunia. Tumbuhan-tumbuhan yang selama ini menjadi bagian dari identitas ekosistem, termasuk spesies endemik dan kelompok yang sangat tua secara evolusi, bisa terdorong ke ambang kepunahan jika kondisi habitat terus memburuk. Ancaman itu muncul perlahan, tetapi dampaknya dapat bertahan sangat lama.

Dengan proyeksi hingga 2100, para ilmuwan ingin menunjukkan bahwa masa depan tumbuhan sangat bergantung pada seberapa besar emisi gas rumah kaca dapat ditekan. Semakin besar gangguan terhadap iklim, semakin banyak spesies yang harus berhadapan dengan habitat yang makin tidak cocok untuk hidup. Dalam skenario itu, sejumlah tumbuhan yang selama ini memperkaya keindahan alam dunia mungkin tinggal menjadi catatan dalam kajian ilmiah.

Karena itu, kajian ini memberi sinyal bahwa perlindungan tumbuhan tidak bisa dipandang sebagai urusan kecil. Saat habitat menyempit dan kondisi lingkungan berubah lebih cepat dari kemampuan adaptasi, bahkan spesies yang tampak mapan pun dapat terdorong ke posisi rentan.

Para peneliti pada dasarnya ingin menegaskan satu hal sederhana: jika tekanan iklim terus berlanjut, banyak tumbuhan akan menghadapi pilihan yang semakin sempit untuk bertahan. Dalam jangka panjang, dampaknya dapat terasa luas, bukan hanya pada satu spesies, tetapi pada keseluruhan wajah ekosistem dunia.