jurnalistik.co.id – Pangeran William tiba di London Climate Week dengan bus listrik untuk menghadiri acara bertema penanganan perubahan iklim dan perlindungan lingkungan. Acara tersebut digelar di Guildhall, London, pada hari yang sangat panas.
Dalam sambutannya kepada para delegasi, Pangeran William menyoroti pentingnya membantu “repair” planet. Ia berbicara langsung kepada hadirin, termasuk Wali Kota London, Sir Sadiq Khan.
Pangeran William juga menandai dampak Earthshot Prize, menghubungkan upaya berbasis ide dan proyek untuk lingkungan dengan keyakinan terhadap bukti yang dihasilkan. Ia mengatakan gagasan-gagasan untuk memecahkan persoalan lingkungan membuatnya merasa “more optimistic than ever”.
Namun, ia menekankan bahwa optimisme perlu berpijak pada hasil yang terbukti. Pangeran William menyampaikan bahwa ketika kita memiliki bukti tentang apa yang berhasil melindungi lingkungan, “history will ask what we did with it”.
Earthshot Prize merupakan program 10 tahun yang diluncurkan pada 2020 untuk menemukan cara-cara inovatif menyelamatkan planet. Program ini menyediakan pendanaan ÂŁ1m bagi lima pemenang setiap tahunnya.
Menjelang penanda fase yang telah melewati titik tengah, Pangeran William menyebut adanya pencapaian nyata dari proyek-proyek yang meraih penghargaan. Ia menyampaikan bahwa kontribusinya setara dengan “taking four million cars off the road” melalui pemotongan 18 juta ton emisi.
Selain emisi, ia juga menyinggung dampak pada wilayah alam. Menurutnya, terdapat 85 juta hektare daratan, hutan, dan sungai yang telah “protected, restored and improved”.
Untuk langkah berikutnya, Pangeran William mengatakan sejumlah skema akan diarahkan pada perbaikan masa pakai baterai untuk penyimpanan energi hijau. Ia juga menyebut pengembangan teknik bertani di India agar lebih tahan menghadapi perubahan iklim, serta gagasan terkait pewarna dan warna yang ramah lingkungan bagi industri fesyen.
Di kesempatan yang sama, para pembicara mengapresiasi capaian pemerintahan Khan di London dalam menunjukkan bagaimana kota besar dapat menurunkan emisi kendaraan. Wali Kota London menyampaikan materi pada pertemuan tersebut yang merupakan bagian dari London Climate Action Week.
Sir Sadiq Khan menyoroti dampak kesehatan yang merugikan akibat polusi udara. Ia juga memuji keterlibatan Pangeran William dengan mengatakan keterlibatan itu “authentic… he really believes in this stuff”.
Robert Irwin, seorang konservasionis dan pembawa acara televisi, berbicara tentang perlunya kombinasi “urgency and optimism” saat berupaya melindungi lingkungan. Ia menempatkan urgensi dan harapan sebagai dua unsur yang harus berjalan berdampingan.
Sementara itu, Jason Knauf selaku chief executive Earthshot Prize menyatakan bahwa optimisme mungkin tampak “jarring” ketika situasinya dipenuhi perpecahan dalam arena politik terkait tantangan iklim. Akan tetapi, ia menegaskan bahwa “despair and defeatism are mindsets we cannot afford”.
Pada bagian penutup, Pangeran William kembali menegaskan bahwa tantangan tetap bisa terasa sangat besar. Meski demikian, ia menyampaikan bahwa ada gagasan tentang apa yang dapat dilakukan untuk mengatasinya.
Ia mengajukan pertanyaan yang mengarah pada penilaian masa depan. “One day people will look back at this decade and ask: when the evidence was clear, what did we do with it?” ujarnya.
Ia melanjutkan dengan pertanyaan lanjutan agar bukti yang terlihat benar-benar mendorong perubahan yang lebih luas. “When we saw forests being restored, did we help restoration spread? When we saw clean air policies working, did we help other cities follow?”
Di tengah penilaian menuju fase berikutnya, sejumlah pencapaian yang pernah disebut sebagai bukti nyata kembali ditekankan. Proyek-proyek yang mendapat pengakuan dipandang bukan sekadar ide, melainkan contoh yang bisa diukur dampaknya, dari pengurangan emisi hingga perbaikan area alam.
Sejumlah pembicara juga menggarisbawahi bahwa cara pandang tidak boleh berakhir pada sikap puas atau menyerah. Urgensi dan harapan perlu berjalan bersama, terutama ketika perdebatan politik membuat isu iklim terasa semakin terpecah, agar kerja perlindungan lingkungan tetap berlanjut dan tidak kehilangan arah.
Pada penutup, arah pembahasan mengarah pada pertanyaan tentang tindak lanjut setelah bukti terlihat. Apakah kebijakan yang sudah menunjukkan hasil akan ikut menular ke tempat lain, dan apakah langkah teknis seperti peningkatan masa pakai baterai serta praktik pertanian yang lebih tahan dapat memperkuat perubahan yang berkelanjutan.











