Teknologi

Krisis Memori Meluas, GPU Kelas Menengah seperti RTX 5070 dan RX 9070 XT Ikut Jadi Korban Kenaikan Harga

0
×

Krisis Memori Meluas, GPU Kelas Menengah seperti RTX 5070 dan RX 9070 XT Ikut Jadi Korban Kenaikan Harga

Sebarkan artikel ini
Krisis Memori Meluas, Giliran GPU Kelas Menengah Jadi Korban Tekno 9 Juni 2026
Ilustrasi: Krisis Memori Meluas, Giliran GPU Kelas Menengah Jadi Korban

jurnalistik.co.id – Krisis memori yang awalnya paling terasa di segmen kartu grafis kelas atas kini mulai merembet ke lini produk mid-range. Tekanan harga muncul seiring meningkatnya permintaan memori berkapasitas tinggi untuk kebutuhan AI.

KOMPAS.com Tekno melaporkan, dampak paling besar sebelumnya dirasakan GPU high-end seperti Nvidia GeForce RTX 5090, RTX 5080, dan RTX 5070 Ti. Pada fase berikutnya, model kelas menengah seperti RTX 5070, RTX 5060 Ti, hingga AMD Radeon RX 9070 XT mulai menunjukkan kenaikan harga.

Salah satu rujukan yang disebut dalam laporan tersebut berasal dari XDADevelopers. Dalam catatan mereka, RTX 5060 Ti kini dijual dengan banderol sekitar 30 persen lebih mahal dari harga rekomendasi pabrikan atau MSRP.

Untuk RTX 5070, kenaikan harga disebut berada di kisaran sekitar 15 persen di atas MSRP. Pola serupa juga terlihat pada kartu grafis AMD, di mana Radeon RX 9070 XT dipasarkan sekitar 16 persen di atas MSRP.

Masih dari laporan yang sama, Radeon RX 9070 dilaporkan dijual sekitar 10 persen lebih mahal dari MSRP. Dengan demikian, lonjakan tidak hanya menjangkau satu ekosistem, tetapi merata pada beberapa varian kelas menengah dari produsen berbeda.

Di balik kenaikan ini, penyebab utamanya disebut terkait melonjaknya harga VRAM. VRAM adalah memori yang digunakan untuk menyimpan data grafis sekaligus menjalankan berbagai proses visual pada kartu grafis.

Lonjakan harga VRAM dikaitkan dengan tingginya permintaan chip memori berperforma tinggi untuk kebutuhan AI. Perusahaan pengembang AI dan operator pusat data disebut menyerap sebagian besar pasokan memori yang tersedia, sehingga pasokan untuk industri PC menjadi lebih terbatas.

Keterbatasan pasokan tersebut kemudian berdampak langsung pada biaya produksi kartu grafis. Bahkan, laporan industri menyebut memori GDDR7 kini dapat menyumbang hingga sekitar 80 persen dari total biaya produksi sebuah GPU, padahal sebelumnya kontribusinya berada di kisaran 30–40 persen.

Dalam kondisi biaya yang berubah seperti itu, produsen GPU disebut lebih memprioritaskan produksi model kelas atas. Alasannya, lini high-end menawarkan margin keuntungan yang lebih besar, sementara ketersediaan komponen yang dibutuhkan kelas menengah menjadi semakin sempit.

Akibatnya, pasokan GPU kelas menengah turut berkurang dan harga jualnya ikut terdorong naik. Laporan tersebut juga memperkirakan kenaikan harga GPU kelas menengah akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan, mengingat harga memori global belum menunjukkan penurunan.

Meski begitu, kenaikan pada segmen mid-range disebut tidak akan setinggi GPU kelas atas. Paling tinggi, laporan menyatakan kenaikannya belum lebih dari 110 persen dari MSRP.

Untuk ke depannya, permintaan memori bagi kebutuhan AI diperkirakan tetap tinggi. Pada saat yang sama, belum ada tanda-tanda bahwa harga VRAM akan kembali normal dalam waktu dekat.

Bagi para gamer, kondisi ini membuat pilihan upgrade PC menjadi lebih sulit. GPU kelas bawah dinilai kurang memadai untuk menjalankan banyak game modern, sementara GPU kelas atas kini makin sulit dijangkau karena harga yang terus melonjak.

Dengan kata lain, GPU segmen kelas menengah yang sebelumnya disebut sebagai “primadona” karena tak mengalami kenaikan harga, pelan-pelan bisa kehilangan daya tarik. Hal itu terjadi seiring harga yang mulai ikut terangkat dan membuat opsi upgrade semakin sempit.

Selain memengaruhi harga per unit, kenaikan biaya VRAM juga membuat produsen harus menata ulang prioritas pasokan. Saat komponen memori berperforma tinggi lebih dulu terserap untuk ekosistem AI dan pusat data, jalur suplai untuk kebutuhan PC ikut tersendat.

Di pasar kartu grafis, kondisi ini kemudian terlihat dari pergeseran harga yang mengikuti pola biaya produksi. Untuk kelas menengah, kenaikan memang tidak disamakan dengan segmen high-end, tetapi tetap terasa karena ketersediaan komponen yang diperlukan menjadi lebih terbatas dan harga pasarnya ikut terangkat.

Bagi pengguna yang merencanakan upgrade, konsekuensinya adalah penyesuaian ekspektasi waktu dan anggaran. Ketika harga memori global belum menunjukkan sinyal mereda, keputusan pembelian cenderung ditunda atau diarahkan ke opsi yang lebih konservatif, sambil menunggu perkembangan harga VRAM.