Nasional

Kunjungan Prabowo ke Eropa Disebut Perkuat Posisi Geopolitik Indonesia

0
×

Kunjungan Prabowo ke Eropa Disebut Perkuat Posisi Geopolitik Indonesia

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Kunjungan Prabowo ke Eropa Dinilai Perkuat Posisi Geopolitik Indonesia

jurnalistik.co.id – JAKARTA — Juru Bicara Partai Gerindra Sugiat Santoso menilai kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke Eropa bukan sekadar perjalanan diplomatik biasa. Menurut dia, langkah itu merupakan strategi kepala negara untuk memperkuat hubungan Indonesia dengan negara sahabat sekaligus mengubah keunggulan komoditas nikel dan posisi geopolitik Indonesia menjadi sesuatu yang lebih konkret di panggung internasional.

Sugiat mengatakan, kunjungan tersebut memperlihatkan bahwa Indonesia tidak datang ke Eropa hanya untuk hadir secara simbolik. Dalam pandangannya, Prabowo sedang mendorong agar modal diplomasi Indonesia benar-benar menghasilkan investasi nyata dan sekaligus memperkuat benteng keamanan nasional sebelum peluang global yang ada tertutup.

“Indonesia tidak sekadar berkunjung. Pak Prabowo sedang mengonversi keunggulan komoditas nikel dan posisi geopolitik kita menjadi investasi nyata dan benteng keamanan sebelum jendela peluang global ini tertutup,” kata Sugiat dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (28/5/2026).

Wakil Ketua Komisi XIII DPR itu juga menekankan bahwa paradigma politik luar negeri bebas-aktif yang dijalankan Presiden Prabowo dapat dibaca sebagai diplomasi ofensif. Dalam istilah yang ia gunakan, diplomasi ofensif adalah strategi membangun hubungan luar negeri secara proaktif untuk memperjuangkan kepentingan nasional, bukan menunggu keadaan bergerak lebih dulu atau sekadar merespons dinamika yang datang dari luar.

Menurut Sugiat, pendekatan tersebut juga dipakai untuk merespons dan mengantisipasi krisis. Artinya, Presiden Prabowo, kata dia, tidak menunggu arahan dari negara lain, melainkan mengambil inisiatif untuk menentukan agenda, membangun aliansi, dan memberi tekanan strategis agar proses negosiasi berjalan sesuai tujuan Indonesia.

“Prabowo melangkah lebih awal sebelum didikte oleh negara lain. Dia mengambil posisi tegas dalam menyatakan kedaulatan, posisi politik, dan membela warga negaranya dengan terukur,” jelasnya.

Fokus pada tiga negara Eropa

Sugiat membeberkan, ada tiga negara Eropa yang dikunjungi Presiden Prabowo pada akhir Mei 2026 ini, yakni Prancis, Austria, dan Hungaria. Menurut dia, ketiga negara itu memiliki posisi strategis yang dibutuhkan Indonesia. Karena itu, rangkaian kunjungan tersebut dinilai bukan hanya penting dari sisi protokoler, tetapi juga dari sisi kepentingan nasional yang lebih luas.

Dalam bingkai itu, kunjungan Prabowo ke Eropa dipandang sebagai upaya membangun hubungan yang lebih aktif dan terarah dengan mitra luar negeri. Bagi Sugiat, kekuatan diplomasi Indonesia tidak berhenti pada komunikasi politik, melainkan harus bergerak menjadi pengaruh nyata yang mampu menguatkan kepentingan nasional di bidang investasi, keamanan, dan posisi strategis Indonesia.

Ia menempatkan komoditas nikel sebagai salah satu kekuatan yang bisa dikonversi menjadi nilai lebih besar lewat diplomasi yang tepat. Pada saat yang sama, posisi geopolitik Indonesia juga disebut perlu dikelola sebagai modal dalam pergaulan internasional agar Indonesia tidak hanya menjadi penonton, melainkan ikut menentukan arah pembicaraan.

Karena itu, kunjungan ke Eropa tersebut dinilai Sugiat sebagai bagian dari langkah yang lebih besar untuk menegaskan kedaulatan politik luar negeri Indonesia. Dengan pendekatan yang proaktif, ia menilai Indonesia dapat membangun ruang tawar yang lebih kuat sekaligus menjaga kepentingan nasional tetap berada di garis depan dalam setiap pertemuan diplomatik.

Di mata Sugiat, inilah alasan mengapa lawatan Presiden Prabowo ke Prancis, Austria, dan Hungaria dianggap penting. Bukan semata karena tiga negara itu berada di Eropa, melainkan karena masing-masing memiliki nilai strategis yang dapat mendukung tujuan diplomasi Indonesia, baik dalam konteks hubungan bilateral maupun dalam konteks posisi Indonesia di kancah internasional.

Ia pun menegaskan bahwa diplomasi semacam ini harus dibaca sebagai upaya untuk mengamankan kepentingan Indonesia sejak awal. Dengan kata lain, langkah itu tidak menunggu momentum berlalu, melainkan memanfaatkan peluang yang ada saat ini untuk memperkuat daya saing, pengaruh, dan posisi geopolitik Indonesia di hadapan dunia.