jurnalistik.co.id – KAI Group melaporkan peningkatan jumlah pelanggan pada semester I 2026, didorong oleh skema Public Service Obligation (PSO) serta layanan kereta api perintis yang ditugaskan untuk menjaga keterjangkauan transportasi publik.
Sepanjang Januari–Juni 2026, KAI Group melayani 258,9 juta pelanggan atau naik 7,55 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebanyak 240,8 juta pelanggan.
Dalam periode tersebut, 258,99 juta pelanggan juga menunjukkan bahwa sekitar 90,79 persen di antaranya menggunakan layanan yang masuk dalam kelompok operasional PSO, kereta perintis, maupun penugasan pemerintah.
PSO dan KA Perintis menjaga tarif serta akses perjalanan
Anne Purba, Vice President Corporate Communication KAI, menilai dukungan pemerintah melalui PSO dan layanan perintis menjadi faktor penting dalam penyediaan layanan berbasis rel yang tetap terjangkau sekaligus memperluas konektivitas di sejumlah daerah.
“PSO membantu menjaga tarif sejumlah perjalanan tetap terjangkau, sedangkan KA Perintis membuka dan mempertahankan akses transportasi di wilayah yang masih memerlukan dukungan Pemerintah,” ujar Anne dalam keterangannya, Rabu (22/7/2026).
Anne menambahkan, kedua skema itu memungkinkan masyarakat memperoleh opsi perjalanan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masing-masing. “Kedua skema tersebut membantu masyarakat memperoleh pilihan perjalanan yang sesuai dengan kebutuhannya,” lanjut Anne.
Lebih dari sekadar angka, peningkatan pelanggan juga tercermin dari bertambahnya mobilitas masyarakat pada berbagai layanan KAI. Mulai dari kereta jarak jauh, kereta lokal, commuter line, LRT, hingga kereta bandara, permintaan perjalanan terlihat meningkat seiring aktivitas masyarakat di banyak sektor.
Mayoritas pelanggan berasal dari layanan bersubsidi dan penugasan
Dari total pelanggan pada semester I 2026, sebanyak 235,14 juta pelanggan berasal dari kelompok layanan yang mencakup PSO, KA Perintis, serta penugasan pemerintah.
Berita Terkait
Kelompok tersebut meliputi layanan KA jarak jauh dan lokal bersubsidi, KAI Commuter, LRT Jabodebek, sebagian layanan KA Bandara, LRT Sumatra Selatan, hingga KA Makassar–Parepare.
Pada layanan KA jarak jauh dan lokal yang dikelola KAI, tercatat 9,54 juta pelanggan menggunakan kereta bersubsidi selama enam bulan pertama 2026. Angka tersebut naik 8,08 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Secara rinci, KA jarak jauh PSO melayani 5,96 juta pelanggan atau naik 4,88 persen, sedangkan KA lokal PSO mengangkut 3,58 juta pelanggan dengan pertumbuhan 13,85 persen secara tahunan.
Anne juga menegaskan bahwa layanan tersebut digunakan masyarakat untuk berbagai aktivitas harian dan kebutuhan mobilitas. Kebutuhan perjalanan itu mencakup bekerja, bersekolah, berdagang, hingga akses layanan kesehatan dan pusat-pusat ekonomi.
“Dukungan Pemerintah memberi ruang agar kebutuhan perjalanan masyarakat dapat dilayani dengan tarif sesuai penugasan,” kata dia.
Menurut Anne, keterjangkauan menjadi elemen penting dalam menjaga mobilitas serta aktivitas ekonomi masyarakat. “Keterjangkauan menjadi bagian penting dalam menjaga mobilitas dan aktivitas ekonomi masyarakat,” lanjut Anne.
KAI Commuter turut meningkat pada semester I 2026
Di sisi layanan perkotaan, KAI Commuter mencatatkan pertumbuhan jumlah pelanggan menjadi 204,15 juta orang sepanjang semester I 2026. Capaian itu naik 6,58 persen dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dengan demikian, kombinasi antara penugasan pemerintah melalui PSO dan peran layanan KA Perintis, bersama penguatan layanan yang lebih luas, ikut menjelaskan mengapa volume pelanggan KAI terus bertambah pada paruh pertama 2026.
Hasil itu juga menunjukkan bahwa skema PSO dan KA Perintis tidak hanya berfungsi menjaga tarif, tetapi turut memastikan akses transportasi berbasis rel tetap dapat dijangkau, termasuk pada wilayah yang membutuhkan dukungan pemerintah agar layanan berjalan dan berkelanjutan.












