jurnalistik.co.id – Kementerian Pertahanan (Kemenhan) melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelatihan calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) setelah lima orang dinyatakan meninggal dunia.
Rico Ricardo Sirait, Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemenhan, menyampaikan bahwa peninjauan itu melibatkan kementerian atau lembaga terkait untuk menilai aspek pelaksanaan program.
Menurut Rico, evaluasi yang dilakukan mencakup penguatan pengawasan medis. Selain itu, dilakukan pemetaan kondisi kesehatan peserta, penyesuaian intensitas kegiatan, serta perbaikan sistem rujukan ketika dibutuhkan respons medis.
Kemenhan juga menyiapkan mekanisme deteksi dini bagi peserta yang memiliki faktor risiko, sebagai upaya untuk mengurangi kemungkinan kejadian serupa terulang.
Perubahan istilah dan arah materi pelatihan
Sebagai tindak lanjut evaluasi bersama, Kemenhan mengubah nama dan pendekatan Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) menjadi Latihan Pembekalan Bela Negara dan Manajerial.
Rico menegaskan bahwa perubahan ini tidak hanya bersifat penamaan, tetapi juga menyangkut penyesuaian cara pelaksanaan kegiatan.
Dalam penyesuaian tersebut, Kemenhan mengarahkan kegiatan agar berfokus pada pembekalan bela negara serta kemampuan manajerial. Rico menyebutkan bahwa pendekatan baru tersebut diarahkan agar tidak lagi menggunakan format latihan Latsarmil.
Pengurangan materi juga dilakukan, terutama untuk bagian yang bersifat taktis dan teknis militer.
Rico menyatakan bahwa materi menembak dihapus dari program tersebut. Ia menambahkan bahwa kegiatan menembak tidak lagi menjadi bagian dari pelaksanaan latihan saat ini.
Selain materi, intensitas aktivitas fisik turut disesuaikan, mengingat latar belakang peserta merupakan warga sipil.
Pembekalan kini difokuskan pada pembentukan disiplin, karakter, dan kepemimpinan yang relevan dengan peran calon manajer KDKMP dan KNMP. Program juga diarahkan untuk memperkuat kerja sama, tanggung jawab, serta wawasan kebangsaan.
Di sisi lain, peserta diharapkan memperoleh bekal kemampuan manajerial yang dapat digunakan saat menjalankan tugas sebagai pengelola koperasi.
Soal video peserta memegang senjata
Kemenhan juga merespons beredarnya video yang memperlihatkan calon manajer mengikuti latihan sambil memegang senjata.
Rico memastikan kegiatan seperti itu tidak lagi dilakukan setelah evaluasi berjalan.
Ia menyebut kemungkinan bahwa video tersebut bisa berasal dari pelaksanaan yang terjadi minggu sebelumnya atau bahkan lebih awal dari saat evaluasi dilakukan.
Dengan kata lain, perubahan pendekatan dan pemangkasan materi dilakukan sebagai penyesuaian program setelah proses evaluasi berlangsung.
Melalui rangkaian penyesuaian ini, Kemenhan menyampaikan bahwa pelatihan diarahkan untuk memberi bekal yang lebih sesuai dengan kebutuhan pengelola KDKMP dan KNMP, sekaligus memperhatikan faktor kesehatan peserta melalui pengawasan medis dan mekanisme rujukan.
Penataan ulang istilah, materi, dan intensitas kegiatan menjadi bagian dari upaya memastikan program berjalan dengan arah yang lebih tepat serta lebih aman bagi peserta.
Rangkaian evaluasi tersebut juga menjadi dasar dalam menyelaraskan pelatihan dengan karakter peserta yang merupakan warga sipil. Penyesuaian dilakukan agar kegiatan yang diikuti tidak hanya menekankan pembekalan, tetapi juga mempertimbangkan batas kemampuan fisik dan kebutuhan keselamatan selama proses belajar berlangsung.
Dalam pelaksanaan yang sudah disesuaikan, pembekalan bela negara diarahkan untuk membentuk kedisiplinan, karakter, serta kepemimpinan yang sejalan dengan tugas calon manajer koperasi. Materi diarahkan pada pemahaman tanggung jawab, wawasan kebangsaan, dan penguatan sikap kerja sama, sehingga peserta memiliki fondasi yang relevan ketika menjalankan peran sebagai pengelola KDKMP dan KNMP.
Selain perubahan fokus materi, penyesuaian pada aspek kegiatan juga dilakukan melalui pengaturan intensitas aktivitas fisik. Dengan latar belakang peserta sebagai warga sipil, Kemenhan menyiapkan langkah-langkah agar kegiatan dapat berlangsung lebih terukur, termasuk melalui pemetaan kondisi kesehatan peserta dan perbaikan sistem rujukan apabila respons medis diperlukan.
Kemenhan juga menegaskan komitmennya menindaklanjuti respons terhadap beredarnya video peserta yang memegang senjata. Setelah evaluasi berjalan, kegiatan yang menampilkan praktik tersebut tidak lagi dilakukan. Upaya ini sekaligus dimaksudkan sebagai bentuk penegasan arah program setelah penyesuaian materi, istilah, serta metode pelaksanaan diorientasikan agar lebih sesuai dan lebih aman bagi peserta.












