jurnalistik.co.id – Kebakaran hutan besar yang melanda BĂ©dar, di Almeria, Spanyol, menelan banyak korban jiwa dan membuat sebagian warga mengambil keputusan berjarak hanya hitungan menit saat api mendekat ke pemukiman mereka.
Di tengah kekacauan itu, Malcolm Timbrell, warga Inggris berusia 70 tahun, selamat dan terpisah dari istri serta sejumlah tetangga yang berupaya mencari jalan keluar.
Menurut keterangan Malcolm, peristiwa terjadi pada Kamis malam pekan lalu, ketika desa tempat ia tinggal ikut dilalap api hingga menewaskan 13 orang. Ia menyebut Bédar mengalami kondisi paling menghancurkan, dengan kepulan asap dan angin kencang yang mempercepat penjalaran.
Malcolm berbicara kepada BBC dari lokasi rumahnya yang hancur di lereng perbukitan, jauh dari suasana yang sebelumnya ia bayangkan bersama orang-orang terdekat.
Ia menceritakan momen ketika semuanya berubah cepat, termasuk rasa tidak percaya sesaat setelah api semakin dekat. “You’d never imagine it could happen,” katanya, lalu menambahkan, “And when it does, and you’re the only survivor, then you’re left in a situation of, ‘What can I do?’”
Malcolm dan Annette Kilgore, 69 tahun, hidup di Bédar bersama keluarganya dan para tetangga dekat. Keduanya sebelumnya pernah dikenal luas setelah menemukan properti mereka melalui program Channel 4 “A Place in the Sun”.
Malcolm menggambarkan Annette sebagai sosok yang ceria dan mudah bergaul. “She was such a happy, outgoing person,” ujarnya.
Dalam kesaksian yang dibagikan, Malcolm menekankan bahwa hidup mereka pernah berjalan dengan baik sebelum kebakaran menghentikannya. “We have had an amazing life together – and now it’s stopped.”
Ia mengatakan kepergian orang-orang di sekitar rumahnya membuat dirinya merasa seperti berada dalam keadaan yang tak ada pilihan selain bertahan hidup dengan keterbatasan informasi.
Ketika Kamis malam api melaju deras dan angin turut mendorong, Malcolm menyatakan mereka bersama tetangga memutuskan untuk mencoba melarikan diri menggunakan mobil. Langkah itu diambil karena waktu terasa terlalu sempit untuk cara lain.
Namun sebelum rombongan benar-benar bergerak, Malcolm memilih kembali ke arah rumah mereka, dengan alasan ada dua kucing yang menjadi tanggung jawabnya: Charlie dan Lilly.
Malcolm mengatakan ia tidak mengikuti opsi “pergi saja” seperti yang dipandang lebih aman oleh sebagian orang. “If we’d have done the sensible thing and gone the other way and let our cats die, we both would be alive. But when you’ve got animals, you don’t think like that.”
Setelah kucing-kucing itu diamankan, Malcolm mengaku berusaha menyusul kelompok yang sebelumnya mengevakuasi diri di kendaraan mereka.
Ia menyebut pada saat ia kembali, rombongan itu sudah berada di luar kendaraan. Malcolm kemudian mengatakan istri beserta tujuh teman dan tetangga lainnya memutuskan jalan yang dianggap paling selamat: berjalan keluar tepat di depan “firewall”.
“My wife and our other seven friends and neighbours – against me screaming at them not to – decided the only safe way was to walk out in front of the firewall. I’ve subsequently heard that that fire wall was moving at 20 kilometres per hour, plus. They had no chance.”
Dalam situasi yang membuatnya sendirian, Malcolm mengatakan ia mencoba berlindung di mobil-mobil yang ditinggalkan. Ia menjelaskan dari total enam mobil, empat di antaranya langsung terbakar.
Setiap kali sebuah mobil mulai terbakar, ia bergerak mundur ke satu kendaraan di belakangnya. “Of the six cars, four of them instantly combusted and as each one started to go, I moved back one car.”
Malcolm kemudian mengisahkan bahwa dua mobil terakhir, meski mengalami kerusakan berat, masih bertahan. Ia menambahkan bahwa catnya melepuh dan terbakar, namun ia tetap bisa bertahan di dalam mobil tersebut bersama seekor kucing.
Berita Terkait
“For some reason of fate, the last two cars, although very, very badly singed and paint bubbled and burnt, survived. And I survived inside the last one with a cat.”
Setelah kobaran api akhirnya lewat, Malcolm berhasil diselamatkan oleh pekerja darurat. Meski ia selamat, pencarian tidak langsung berakhir dengan kabar baik.
Belakangan, delapan jenazah ditemukan di sebuah jalur menurun dari rumah pasangan itu. Terdapat pula empat bekas hangus besar di lokasi kendaraan yang terbakar.
Otoritas setempat juga menyatakan empat korban lainnya ditemukan di sebuah kendaraan yang setirnya berada di sisi kanan, dan dugaan mereka berasal dari Inggris. Malcolm menyebut jumlah identifikasi masih belum sepenuhnya selesai, sementara proses penelusuran terus berjalan.
Menurut keterangan otoritas Spanyol, tiga warga Inggris dan masing-masing satu orang dari Prancis, Belgia, serta Spanyol turut menjadi korban. Salah satu korban adalah perempuan berusia 93 tahun yang diyakini berasal dari Inggris, dan meninggal akibat luka-lukanya di rumah sakit pada Minggu.
Kritik atas peringatan darurat dan penjelasan otoritas
Di tengah duka warga, sejumlah ekspatriat Inggris di Bédar mengkritik kurangnya peringatan melalui telepon seluler. Malcolm, bagaimanapun, mengatakan ia tidak ingin membagi kesalahan dengan menunjuk pihak tertentu.
Ia mengutip penjelasan otoritas setempat: “didn’t have time to get the seaplanes here before dark,” serta menambahkan, “The helicopters couldn’t get up because of the smoke.”
Malcolm meyakini kondisi cuaca pada saat itu membuat keadaan semakin sulit dikendalikan. Ia menilai kombinasi angin kencang, daratan kering, dan suhu yang meningkat drastis membuat situasinya tidak mungkin menjadi lebih buruk.
“It’s nobody’s fault. Nobody can be blamed for this,” ujarnya.
Di sisi lain, ia menyampaikan bahwa dirinya dibanjiri dukungan dari teman-teman dengan beragam kewarganegaraan. Ia dan Annette, kata Malcolm, pindah ke Spanyol setelah bertahun-tahun berlayar bersama.
Ia juga menyebut sebelumnya mereka pernah kehilangan pasangan karena penyakit terminal. Dari pengalaman itu, mereka berbagi ketertarikan pada perjalanan dan kemampuan membangun pertemanan baru, hingga akhirnya berharap menghabiskan tahun-tahun terakhir di ketenangan pedesaan Andalusia.
Namun harapan itu kini bercampur kepastian yang sulit diterima. Malcolm mengatakan ada “spark” kecil yang membuatnya tetap berharap, meski ia telah mengetahui satu jenazah ditemukan sambil menggenggam seekor kucing.
Ia menyatakan, “There’s just that little spark of hope, even though I know a body has been found clutching a cat. Hard cold facts are pointing to the bodies they’ve found.”
Malcolm menuturkan polisi setempat juga membantu besar dan terus memberi pembaruan mengenai pekerjaan mereka. Meski demikian, ia mengaku cemas menghadapi hari-hari ke depan ketika besarnya kehilangan mulai benar-benar terasa.
“So we are just waiting now for DNA clarification. And after that, I will probably just fall apart,” katanya, menggambarkan bahwa proses verifikasi identitas masih menunggu langkah lanjutan.
Di balik kesaksiannya, peristiwa ini juga menggarisbawahi betapa cepatnya kebakaran hutan mengubah kehidupan—dan bagaimana keputusan dalam hitungan detik dapat menentukan nasib seseorang. Kebakaran di Bédar pada Kamis malam itu kini menjadi peristiwa yang terus dipahami melalui detail-detail temuan di lapangan dan kesaksian para penyintas.
Malcolm Timbrell kemudian menjadi salah satu suara yang, di tengah duka, masih berusaha menjelaskan apa yang terjadi pada keluarganya dan tetangga terdekatnya di tengah kondisi yang tak memberi banyak ruang untuk bertahan.












