Nasional

Menag: Idul Adha Mengajarkan Keikhlasan dan Kepedulian

0
×

Menag: Idul Adha Mengajarkan Keikhlasan dan Kepedulian

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Menag: Idul Adha Mengajarkan Kita Keikhlasan dan Kepedulian

jurnalistik.co.id – Menteri Agama Nasaruddin Umar menilai, Hari Raya Idul Adha bukan sekadar momentum ibadah tahunan, tetapi juga pengingat penting bagi umat untuk terus meneguhkan sikap batin dan kepedulian sosial. Menurut dia, Idul Adha mengajak umat untuk kembali menguatkan nilai keikhlasan, kepedulian, dan tanggung jawab sosial di tengah dinamika kehidupan yang terus berjalan.

Pernyataan itu disampaikan Nasaruddin di Jakarta, Selasa (26/5/2026), sebagaimana dikutip dari Antara. Ia menekankan bahwa semangat Idul Adha memiliki makna yang jauh melampaui ritual semata, karena di dalamnya terdapat pesan tentang pengorbanan, ketulusan, dan kepekaan terhadap sesama.

“Di tengah dinamika kehidupan yang kita hadapi bersama, Idul Adha mengajak kita untuk kembali meneguhkan nilai keikhlasan, kepedulian, dan tanggung jawab sosial,” ujar Nasaruddin.

Ia menjelaskan, ibadah kurban memiliki dimensi sosial yang sangat nyata. Daging kurban yang dibagikan bukan hanya simbol dari sebuah ibadah, tetapi juga bentuk konkret kepedulian kepada masyarakat. Menurut dia, pembagian daging kurban ikut memperkuat ketahanan pangan dan protein keluarga, terutama bagi mereka yang membutuhkan.

Dengan cara itu, Idul Adha menjadi momen yang menghadirkan manfaat langsung di tengah masyarakat. Nasaruddin menilai, semangat berbagi dalam kurban membantu warga yang membutuhkan sekaligus memberi kontribusi pada upaya pemenuhan gizi, termasuk dalam pencegahan stunting.

Energi kebersamaan

Dalam pandangannya, kurban juga mengandung energi kebersamaan yang kuat. Semangat tersebut, kata dia, mendorong solidaritas, mempererat gotong royong, dan menghadirkan rasa keadilan sosial di tengah kehidupan bermasyarakat. Dari kepedulian yang tampak sederhana itulah, menurut Nasaruddin, sebuah bangsa dapat dibangun dengan lebih kokoh.

“Semangat berkurban adalah energi kebersamaan. Ia menggerakkan solidaritas, memperkuat gotong royong, dan menghadirkan keadilan sosial. Dari sinilah kita membangun bangsa, dari kepedulian yang sederhana, tetapi berdampak luas,” kata Nasaruddin.

Imam Besar Masjid Istiqlal itu juga mengajak umat Islam menjadikan Idul Adha sebagai ruang untuk memperluas manfaat ibadah, memperkuat empati, dan memastikan setiap amal yang dilakukan memberi dampak bagi orang lain. Baginya, pesan Idul Adha tidak berhenti pada penyembelihan hewan kurban, tetapi berlanjut pada bagaimana nilai-nilai itu diwujudkan dalam hubungan sosial sehari-hari.

Ia menegaskan, kepedulian kepada sesama adalah bagian penting dari semangat Idul Adha. Karena itu, ibadah kurban seharusnya tidak dipandang sebagai kewajiban individu semata, melainkan sebagai kesempatan untuk menghadirkan kebermanfaatan yang lebih luas bagi masyarakat.

Nasaruddin kemudian menyampaikan ucapan selamat Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah kepada umat Islam. Ia berharap ibadah kurban yang dilakukan umat diterima oleh Allah SWT dan membawa keberkahan bagi bangsa Indonesia.

“Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah. Semoga Allah SWT menerima ibadah kurban kita dan memberkahi bangsa Indonesia,” kata Nasaruddin.

Melalui pesan itu, Nasaruddin kembali menegaskan bahwa Idul Adha adalah momen untuk merawat keikhlasan sekaligus memperkuat tanggung jawab sosial. Di saat masyarakat menghadapi berbagai dinamika kehidupan, semangat berbagi dan kepedulian yang lahir dari ibadah kurban menjadi penanda bahwa nilai agama tetap memiliki daya penting dalam menjaga solidaritas dan kebersamaan.

Ia memandang, ketika kurban dimaknai secara utuh, maka manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh penerima daging, tetapi juga oleh masyarakat luas. Nilai kebersamaan, gotong royong, dan keadilan sosial yang tumbuh dari perayaan Idul Adha menjadi fondasi penting bagi kehidupan berbangsa.

Dengan demikian, Idul Adha menurut Nasaruddin bukan hanya perayaan ritual, melainkan ajakan untuk kembali pada esensi pengorbanan dan kepedulian. Dari situ, umat diharapkan dapat memperluas manfaat ibadah, menjaga empati, dan menghadirkan kebaikan yang lebih besar bagi sesama.