Daerah

Merawat Kerukunan di Pelosok Papua Barat: Paket Daging sebagai Simbol Toleransi

0
×

Merawat Kerukunan di Pelosok Papua Barat: Paket Daging sebagai Simbol Toleransi

Sebarkan artikel ini
Merawat Kerukunan di Pelosok Papua Barat, Paket Daging Jadi Simbol Toleransi Regional 12 Juni 2026
Ilustrasi: Merawat Kerukunan di Pelosok Papua Barat, Paket Daging Jadi Simbol Toleransi

jurnalistik.co.id – Kenangan tentang Idul Adha masih terasa di daerah pedalaman Papua dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Di momen ini, hewan kurban yang disembelih hadir bukan hanya sebagai rangkaian ibadah, tetapi juga sebagai simbol toleransi antarwarga.

Di Papua Barat, suasana keharmonisan itu terlihat pada pelaksanaan kurban di Darul Abror, Desa Majener. Wilayah yang mayoritas penduduknya nonmuslim menjadikan proses kurban memerlukan koordinasi serta izin yang matang dari tokoh adat maupun tokoh masyarakat setempat.

Koordinasi dan izin di tingkat lokal

Penanggung jawab penyaluran kurban Darul Abror, Dzikri Syahrial Habibi, menyampaikan bahwa umat Islam di wilayah tersebut berupaya menjaga tradisi dan syiar Islam melalui pelaksanaan kurban. Menurutnya, upaya itu juga berjalan beriringan dengan perawatan kerukunan antarumat beragama.

“Walaupun kami minoritas, kami ingin tetap menghidupkan budaya Islam dan berbagi kepada sesama, termasuk salah satunya melalui momen kurban ini,” ujar Dzikri, belum lama ini.

Berbagi yang tidak berhenti pada warga Muslim

Dalam praktiknya, kebahagiaan menerima daging kurban di Papua Barat tidak hanya dirasakan warga Muslim. Daging kurban turut dibagikan secara merata kepada tetangga nonmuslim di sekitar pesantren.

Dzikri menyebut kebiasaan itu sebagai simbol kebersamaan dan toleransi nyata antarwarga di pelosok Papua. Baginya, pembagian yang melibatkan berbagai latar keyakinan menjadi cara untuk memastikan momen kurban dirasakan sebagai ruang saling menghormati.

Ia juga mengakui bahwa bantuan kurban pada tahun ini telah menyuntikkan semangat baru yang luar biasa bagi masyarakat setempat. Semangat tersebut kemudian mendorong panitia kurban untuk membangun inisiatif agar pelaksanaan kurban tahun depan dapat kembali dilakukan secara mandiri.

“Bahkan, sebagai bentuk rasa syukur dan kemandirian, panitia kurban di sana kini mulai berinisiatif membuat tabungan kurban agar tahun depan mereka bisa kembali melaksanakan penyembelihan secara mandiri,” demikian Dzikri menjelaskan.

Keberadaan daging kurban sebagai simbol toleransi juga tampak di NTT, tepatnya di Kampung Lamakera, Desa Motonwutun, Kecamatan Solor Timur, Kabupaten Flores Timur. Warga di wilayah tersebut merasakan keharuan setelah bertahun-tahun tidak melaksanakan penyembelihan hewan kurban.

Ketidakterlaksanaan kurban itu disebabkan keterbatasan akses dan persoalan administrasi. Setelah kondisi tersebut teratasi, untuk pertama kalinya warga di Mushola Baburrahman, Tanjung Motonwutun, dapat menikmati daging kurban bersama-sama.

Satu ekor sapi bantuan dari Rumah Amal Salman disebut menjadi “penyelamat” bagi penantian panjang tersebut. Dalam kesempatan itu, warga dapat kembali menjalankan bagian penting dalam tradisi Idul Adha di lingkungan mereka, meski sebelumnya terhambat oleh akses dan administrasi.

Kepala Desa Motonwutun, Mirdan Muhammad, menyampaikan bahwa dalam keseharian warganya sangat jarang mengonsumsi daging merah. Ia menautkan kondisi tersebut dengan letak geografis desa yang berada di pesisir pantai, sehingga masyarakat lebih akrab dengan hasil laut.

Dengan latar tersebut, kehadiran daging sapi membawa kebahagiaan yang luar biasa bagi warga. Cerita di dua wilayah ini menunjukkan bahwa kurban, ketika dikelola dengan koordinasi dan kemauan berbagi, dapat menjadi jembatan nyata kerukunan antarumat beragama di pelosok.

Di Darul Abror, koordinasi itu tidak berhenti pada kebutuhan teknis penyembelihan. Upaya menjaga agar pelaksanaan berjalan tertib juga mencakup cara warga merawat hubungan sehari-hari, sehingga kurban menjadi bagian dari etika hidup bertetangga.

Sementara itu, di Kampung Lamakera, perasaan yang sama muncul dalam bentuk harapan yang perlahan kembali. Setelah kendala akses dan administrasi terselesaikan, warga akhirnya bisa kembali menggelar rangkaian Idul Adha secara kolektif di Mushola Baburrahman.

Kondisi geografis yang berbeda turut memperkuat makna kebahagiaan tersebut. Karena jarang mengonsumsi daging merah, kehadiran daging sapi terasa lebih istimewa bagi warga yang sehari-hari lebih akrab dengan hasil laut, dan momen itu pun dibingkai sebagai ruang saling menghormati.