Nasional

Menhaj Ingatkan Calon Jemaah Haji 2027 Siapkan Kebugaran Fisik

0
×

Menhaj Ingatkan Calon Jemaah Haji 2027 Siapkan Kebugaran Fisik

Sebarkan artikel ini
Menhaj Ingatkan Calon Jemaah Haji 2027 Persiapkan Kebugaran Fisik News 9 Juni 2026
Ilustrasi: Menhaj Ingatkan Calon Jemaah Haji 2027 Persiapkan Kebugaran Fisik

jurnalistik.co.id – Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) RI Mochamad Irfan Yusuf, atau Gus Irfan, mengingatkan calon jemaah haji 2027 agar mempersiapkan kebugaran fisik sebaik mungkin.

Pernyataan itu disampaikan Gus Irfan saat penyambutan kedatangan Musyrif Din di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, pada Selasa (9/6/2026).

Gus Irfan menegaskan pentingnya kesiapan sejak awal bagi jemaah yang akan berangkat pada tahun 2027. Ia menyampaikan, “Untuk calon jemaah kita yang akan berangkat tahun 2027 ini, harapan kita, permintaan kita, pesan kita, satu persiapkan sebaik-baiknya.”

Menurut Gus Irfan, persiapan haji tidak hanya berkaitan dengan pemahaman manasik dan fikih haji yang benar agar ibadah sah dan mabrur. Ia menekankan adanya kebutuhan kesiapan kondisi fisik yang prima sebelum keberangkatan.

“Kami minta sekali lagi calon haji kita, selain mempersiapkan manasik dan fikihnya juga persiapan fisiknya. Fisik tetap sangat diperlukan karena jemaah haji, ibadah haji ini diperlukan kesiapan fisik juga,” ucap Gus Irfan.

Gus Irfan juga menyinggung pengalaman penyelenggaraan tahun ini, khususnya soal persoalan kesehatan yang dihadapi petugas selama ibadah di Tanah Suci. “Tahun ini kami agak kewalahan dengan faktor kesehatan jemaah,” kata dia.

Ia menggunakan konteks tersebut untuk mengingatkan calon jemaah agar mempersiapkan fisik bukan sebagai urusan terpisah, melainkan sebagai bagian dari rangkaian kesiapan agar ibadah dapat dijalankan dengan lebih siap menghadapi kondisi di lapangan.

Sebagai contoh, seorang jemaah haji asal Banyuwangi, Jawa Timur bernama Syuwandi bin Saji (78), meninggal dunia di Tanah Suci setelah mengalami serangan jantung akut. Syuwandi merupakan warga Desa Macan Putih, Kecamatan Kabat, dan tergabung dalam Kloter 84.

Jemaah tersebut mengembuskan napas terakhir pada Minggu (7/6/2026) pukul 23.55 Waktu Arab Saudi (WAS) di King Faisal Hospital, Mekkah. Hasil pemeriksaan medis menunjukkan Syuwandi mengalami ST-Elevation Myocardial Infarction (STEMI) atau serangan jantung akut berat akibat penyumbatan pada pembuluh darah koroner.

Selain kasus kematian, sejumlah jemaah juga sempat menjalani perawatan di fasilitas kesehatan Arab Saudi akibat gangguan pernapasan, penyakit jantung, dehidrasi, hingga kelelahan fisik. Kondisi itu terjadi setelah menjalani rangkaian puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).

Hingga 8 Juni 2026, dari total 1.317 jemaah haji Banyuwangi yang tergabung dalam Kloter 82 hingga 85, sebanyak 401 orang atau sekitar 30,4 persen masuk kategori risiko tinggi dan terus mendapatkan pemantauan kesehatan dari petugas.

Gus Irfan lalu menempatkan semua temuan dan pengalaman tersebut sebagai dasar pengingat bagi calon jemaah 2027. Pesan utamanya adalah memadukan kesiapan manasik dan fikih dengan persiapan fisik yang terencana, demi menjaga kelangsungan ibadah di sepanjang rangkaian kegiatan.

Dengan demikian, persiapan kebugaran tidak berhenti pada pemahaman tata cara, tetapi juga mencakup kesiapan tubuh menghadapi tuntutan selama penyelenggaraan haji. Gus Irfan menggarisbawahi bahwa fisik tetap diperlukan karena jemaah haji dan ibadah haji menuntut kesiapan fisik yang memadai.

Dari rangkaian penyelenggaraan yang disebutnya tahun ini, Gus Irfan menilai persoalan kesehatan menjadi tantangan nyata yang membuat persiapan tidak boleh berhenti pada aspek teori. Ia berharap calon jemaah 2027 sudah memikirkan kondisi tubuhnya sejak awal.

Peringatan itu juga merujuk pada kasus Syuwandi bin Saji (78) yang meninggal setelah mengalami serangan jantung akut berat, serta kondisi beberapa jemaah lain yang sempat menjalani perawatan di fasilitas kesehatan Arab Saudi. Keluhan yang disebut meliputi gangguan pernapasan, penyakit jantung, hingga dehidrasi dan kelelahan fisik yang muncul setelah puncak ibadah di Armuzna.

Gus Irfan menegaskan bahwa temuan tersebut kemudian dihubungkan dengan kebutuhan pemantauan kesehatan, terutama karena dari Kloter 82 sampai 85 terdapat sekitar 401 orang kategori risiko tinggi. Karena itu, ia mengajak calon jemaah memadukan kesiapan manasik dan fikih dengan kesiapan kebugaran agar pelaksanaan ibadah dapat berjalan lebih terjaga ketika menghadapi situasi di lapangan.